Surat Mawar Merah Café Bandar:

HALIM HD MASIH SEORANG PEMIMPI SETIA


8.


Berikut adalah lanjutan dari artikel Halim HD tentang kebudayaan Mandar.



Mandar dalam Strategi Budaya hingga Terorisme Ekologi (7)
FLAMBOYANT, SILATURAHMI DAN TRADISI KERJA
Oleh: Halim HD. Pekerja Budaya

Dalam setiap kunjungan saya ke berbagai daerah, yang sering maupun yang baru 
saya kunjungi, dan ketika saya bertemu dengan rekan-rekan di daerah itu, 
pertanyaan saya di antara berbagai hal yang ingin saya gali, adalah berapa 
banyak sanggar atau grup kesenian yang ada, dan jika ada sejauh manakah yang 
masih bertahan secara konsisten dan yang konsisten ini digerakan oleh siapa, 
latar belakang sosial-ekonomi dan politiknya serta sejauh manakah kedekatannya 
dengan birokrasi; dan kenapa pula ada sanggar yang kehilangan enerji lalu 
lumpuh ditengah jalan, faktor-faktor apakah yang mempengaruhinya sehingga hal 
itu bisa terjadi, dan apakah kira-kira ada solusi untuk membangkitkan kembali 
sebuah atau beberapa sanggar yang telah mati layu itu?
Kunjungan saya terakhir ke daerah Polman, setelah beberapa bulan di Makassar 
dan bersilaturahmi dengan berbagai mpu tradisi di Sulsel itu, kembali 
mempertemukan diri saya dengan komunitas teater Flamboyant, sebuah grup yang 
ikut menyebarkan khasanah kebudayaan dan tradisi Mandar, dan Sulbar ke berbagai 
daerah di Indonesia; menciptakan suatu citra, image tentang suatu geografi 
kultural yang semula tidak atau kurang dikenal menjadi akrab di telinga 
kalangan seniman, pengamat seni pertunjukan teater dan musik. Hal itu 
dikarenakan dalam rentang waktu hampir satu dekade terakhir ini boleh dikatakan 
Flamboyant menjadi semacam duta kesenian warga Mandar pada berbagai festival 
yang pernah terjadi, misalnya Temu Teater Indonesia di Yogyakarta 1998, 
PID-Forum (Palu-Indonesia Dance Forum) 2001 di Palu, Festival Musik-Puisi di 
Yogyakarta yang telah dua kali mengundang grup itu, dan beberapa kali 
Flamboyant manggung dan bersilaturahmi dengan rekan sejawatnya di Surabaya, 
Yogyakarta, Solo dan Jombang. 
Sudah tentu dalam festival itu membuat Flamboyant bertemu dengan berbagai 
kalangan yang juga datang dari berbagai penjuru nusantara. Maka saya tidak 
heran kalau ada kenalan dari Padang, Bali, Bandung, Surabaya, Solo, Medan 
misalnya bertanya kepada saya tentang grup teater yang kini berkonsentrasi pada 
wilayah puisi-musik. Pernah suatu ketika seorang-dua rekan bertanya kepada 
saya, sebesar apakah "kota" Tinambung itu. Saya jawab, jika kita naik motor 
dari satu ujung jalan ke ujung jalan lainnya, maka motor yang kita kendarai 
dengan kecepatan 40 Km itu cukup hanya sekitar 5-10 menit maka jalan lintas itu 
telah kita lalui. 
Rekan saya melongo. Dia tidak tahu bahwa Tinambung itu sebuah kecamatan. Dan 
dia makin ternganga bagaimana mungkin sebuah kecamatan memiliki komunitas 
kesenian yang demikian intensnya. Saya jawab, lantaran ada beberapa pribadi 
yang bisa mengikatkan dan merangkum seluruh enerji dan gagasan ke dalam rencana 
kerja yang sistematik dan visioner. Saya menyebut misalnya (alm) Alisyahbana 
yang sudah tentu tidak lagi bisa berkesenian karena kesibukannya sebagai 
pegawai pemda di Yogyakarta, tapi selalu gelisah dan berkeinginan untuk terus 
menjadikan Flamboyant itu bukan sekedar sebuah grup yang hanya berwawasan 
kabupaten, apalagi kecamatan. Dalam berbagai obrolan, almarhum selalu 
menyatakan kepada saya bahwa dirinya tidak ingin kalau Flamboyant itu hanya 
sekedar menjadi "ayam kampung" yang hanya berkotek dan hanya didengar oleh 
tetangganya saja. 
Konsekuensi logis dari pernyataan itulah yang selalu membuatnya gelisah, dan 
mencari berbagai kemungkinan. Tentu saja, bahwa hasil yang pernah diraih 
Flamboyant bukan hanya kerja individual, bukan hanya (alm) Alisyahbana. Ada 
banyak sosok yang juga ikut terlibat. Soal itulah yang kini ingin saya gugat 
kehadapan rekan-rekan. Sebab, bagi saya Flamboyant bisa menjadi model 
berdasarkan cara kerjanya yang dahulu dengan spirit silaturahmi, solidaritas 
yang kuat, keterbukaan dan kesetaraan yang selalu diutamakan, yang menjadikan 
grup teater dan musik-puisi itu bisa dan pernah melintasi berbagai geografi 
kultural lainnya. Dan hal-hal itulah yang kini nampaknya mengalami sejenis 
erosi. Ada beberapa rekan di Tinambung yang menyatakan bahwa kondisi yang kini 
dialami oleh Flamboyant justeru kian membaik, setelah mengalami masa paceklik 
dalam hubungan sosialnya dan grup itu mengalami masa kering karya 
senibudayanya. 
Waktu terus bergulir, dan masing-masing pribadi memang mengalami perubahan 
posisi dan fungsi dalam kehidupan kemasyarakatan; dan karena hal itu pula 
Flamboyant pernah mengalami kekosongan. Tapi, di antara kesibukan masing-masing 
pribadi, saya kembali ingin menegaskan, kenapa pula sosok seperti (alm) 
Alisyahbana masih terus berusaha untuk bagaimana caranya agar Flamboyant 
berkembang dan bisa dikenal ke berbagai daerah lainnya, sementara dirinya jauh 
dari jangkauan geografis? Tidakkah para aktivis dan anggota Flamboyant yang 
dahulu pernah bergabung bisa merenungi dan meniru komitmen almarhum? 
Singkat kata, gugatan saya ini mencoba agar Flamboyant melakukan refleksi dan 
khitah. Sebab, perkembangan jaman, perubahan berbagai makna kebudayaan dan 
nilai-nilainya sangat membutuhkan gabungan enerji serta spirit, agar Flamboyant 
tidak ditinggalkan oleh jaman dan komunitas lainnya yang telah makin berkembang 
di daerah lainnya. Untuk itu silaturahmi yang bukan sekedar kongko-kongko di 
warung sangat diperlukan bagi alumni dan aktivis Flamboyant; pertemuan dari 
hati ke hati, dan melakukan refleksi serta menyusun kembali agenda kerja untuk 
masa depan adalah langkah yang diperlukan. 
Dalam kunjungan saya yang terakhir ini, selalu saya tanyakan, sejauh manakah 
usaha rekan-rekan Flamboyant melakukan penggalian, pelacakan serta mempertajam 
tehnik-tehnik yang berangkat dari khasanah tradisi yang ada disekitar Tinambung 
yang demikian kaya dan ekspresif itu? Sejauh manakah Flamboyant benar-benar 
menciptakan tradisi kerja yang berangkat dari akar sejarah lingkungannya, dan 
bagaimana menafsirkan khasanah tradisi itu bukan hanya "dalam rangka", tapi 
menjadi kehidupan sehari-hari. 
Saya menganggap bahwa ada begitu banyak kaum muda di Tinambung dan Flamboyant 
membutuhkan benar suatu re-generasi, dan bagaimana re-generasi itu berangkat 
dari visi untuk menciptakan kontinyuitas kehidupan sebuah grup yang pernah 
dikenal oleh berbagai kalangan di berbagai penjuru nusantara? 
Kepada alumni Flamboyant yang kini banyak bergerak dalam kehidupan 
sosial-politik-ekonomi saya juga ingin menggugat, bahwa hendaknya memberikan 
waktu dan kembali mempertautkan diri ke dalam silaturahmi dengan hati terbuka 
dan setara, agar hidup tidak dikotak-kotakan oleh berbagai isu dan kepentingan 
politik praktis yang nampaknya belakangan ini ikut membelenggu dan mengangkangi 
diri. Setiap orang berhak dan berkewajiban untuk menapaki jalur politik dan 
ideologinya. 
Namun satu hal yang perlu digenggam, bahwa jika tiada keterbukaan hati, tiada 
pula solidaritas, dan tidak ada pula rasa kebersamaan yang sederajat yang 
didasarkan kepada visi kebudayaan, maka jalur atau jalan apapun yang ditempuh 
hanya akan membawa diri ke dalam berbagai bentuk paranoid yang akhirnya 
mengantarkan diri kepada saling curiga, hantu ketakutan yang mengantarkan diri 
kita ke dalam berbagai bentuk konflik sosial. Dan jelas-jelas hal itu tidak 
kita inginkan. Maka bagi kita semuanya, silaturahmi para mantan dan aktivis 
Flamboyant sangat diperlukan, agar grup yang pernah menjadi komunitas ini 
kembali menjadi jembatan kebudayaan untuk masadepan. Insya Allah!

Paris, Oktober 2006.
---------------------------
JJ. Kusni


[Bersambung......]




[Non-text portions of this message have been removed]



______________________________________________________________________
http://www.numesir.org untuk informasi tentang Cabang Istimewa NU Mesir dan 
KMNU2000, atau info-info seputar Cairo dan Timur Tengah.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Kami berharap Anda selalu bersama kami, tapi jika karena suatu hal Anda harus 
meninggalkan forum ini silakan kirim email ke: 
[EMAIL PROTECTED] 
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke