Salam, 

Apa kabar mas Fikri? Saya punya draft buku sejarah, sekitar 100 halaman MS 
word, beberapa waktu nanti akan diperiksa Mbak Ntis. Nanti urusan pencetakan 
biar sampean urus atau mas Jadul juga bisa (yang sudah saya serahi satu naskah 
lain). 

Saya tertarik dengan materi ini. Sepengetahuan saya, semua teori yang 
mengatakan bahwa Walisongo adalah orang China berdasarkan kepada sebuah buku 
Malay Annals. Tulisan De Graaf & Pigeaud, juga Slamet Mulyana, keduanya merujuk 
kepada Malay Annals. Terakhir, teori China ini ditesiskan oleh Sumanto Qurtubi 
di Satya Wacana. Tapi, saya masih belum sreg dgn teori itu. Saya sangat tdk 
percaya bahwa nama menunjukkan identitas etnis. Sederhana saja : berapa banyak 
orang Jawa sekarang ini yang walaupun etnisnya Jawa tapi namanya Arab. Zaman 
sekarang malah banyak orang China yang bernama Jawa, dan terkadang campur Arab. 
Misalnya Sudono Salim, atau orang Batak bernama Batak plus Arab : Mochtar 
Pakpahan, atau Harun Nasution (jangan baca : Nasu~ syen). Secara plesetan, ada 
juga orang bule yang bernama Jawa : Clinton ~ yang diambil dari istilah Jawa : 
Kliwon. 

Istilah-istilah dalam bahasa kita sekarang ini pun banyak yang berasal dari 
bahasa Arab. Itu tak berarti bahwa kita orang Arab. Yang saya setuju adalah 
bahwa secara politik (dan budaya) memang China pernah jaya di tanah ini, tapi 
bagi saya itu tak menjamin bahwa Islam Melayu bergulir dari arah China. 

Kalau melihat sekte-sekte Islam yang selama ini berkembang di Jawa, justru 
teori tersebut jauh sekali dengan sekte Islam yang berkembang di China -- 
dalam hal ini Islam Hanafi yang berpusat di jalur Sutera. Sekte Islam di jalur 
sutera itu sekte rasional, sedangkan sekte yang masuk ke Jawa, melalui Aceh, 
adalah sekte "orang-orang kalah" --sebutan lain bagi kaum sufi, yang kira-kira 
adalah ekses dari kekalahan global Islam di Baghdad. Dari sini, diangkatnya 
kasus Siti Jenar sebagai bagian dari argumentasi "pro China" justru terbalik ; 
kasus tersebut malah bisa menjadi contoh bahwa Islam yang ada saat itu --yang 
dibawa Walisongo-- adalah Islam Syafii yang menolak segala bentuk Islam yang 
aneh-aneh. Kasus Siti Jenar jelas merepresentasikan Islam Jawa. Tapi, kalau 
menolak Teori China, saya tdk menggunakan pikiran itu. Saya cukup merasa bahwa 
nama dan bau China waktu itu tak mengharuskan saya berpikiran bahwa Walisongo 
berasal dari China. Kalau, misalnya, China waktu itu berperan dalam 
perkembangan Islam di Jawa, mungkin bisa dibenarkan, walaupun peran itu kecil. 
Karena waktu itu memang Islam telah masuk di China. Kisah Xiao Zhao & nenek tua 
Jin Hua dalam "Pedang Golok Naga" mungkin bisa mengilhami kita untuk merenungi 
masuknya Islam Persia ke China. Tetapi, jika kita memutlakkan pandangan bahwa 
Walisongo adalah orang China, atau China adalah segalanya dalam hal 
perkembangan Islam di Jawa, maka hal ini terlalu berlebihan. Bukankah kita 
sering mengatakan bahwa sejarah selalu ditulis oleh penguasa (?). Mungkin, 
penguasa atau penulisnya pro kekuasaan, sehingga melebih-lebihkan dongeng 
tentang Walisongo. 

Tentang Teori Arab, ya itu yang lumrah. 

Soal Gus Dur, sudah banyak yang tahu bahwa sejarah versi beliau telah di-
revisi oleh Habib Luthfi Pekalongan. Sayang, teori Habib Luthfi juga tak 
kalah 'mbulet'-nya dengan teori Gus Dur. Walaupun Habib Luthfi jelas dan 
tegas, namun sumbernya yang agak ruwet : info gaib. Yang jelas, soal China ini 
tak ada hubungannya dengan Hadits Nabi tentang belajar di China. 

Luthfi (bukan Habib)


--- In kmnu2000@yahoogroups.com, akhmad fikri <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> saya ingin sedikit komentar. 
> 
> 1. Soal buku Prof Slamet Mulyana "Runtuhnya Hindu Jawa
> dan Timbulnya Negara-negara Islam di Nusantara" telah
> diterbitkan kembali oleh penerbit LKiS pada bulan
> maret 2005. Berikutnya buku-buku Prof. Slamet yang
> lain juga sudah terbit; Menuju Puncak Kemegahan
> Majapahit dan Sriwijaya. Buku keempatnya akan terbit
> di bulan nopember ini berjudul; Nagarakretagama
> (Tafsir Sejarah). memang, dalam buku Slamet itu muncul
> tesis yang dianggap kontroversial, yakni; sebagian
> besar walisongo dari cina. Prof. Slamet sendiri pada
> dasarnya bukan seorang sejarawan murni. Ia expert dan
> dikenal sebagai ahli filologi. karena filologi lebih
> banyak berkutat pada teks-teks dan naskah-naskah kuno
> yang harus ditelitinya, sangat mungkin ia juga
> tertarik sejarah karena tuntutan dari bidang
> keilmuannya. nah, soal kontroversi walisongo dari cina
> itu haruslah dilihat dalam konteks perdebatan akademik
> di dalam kajian-kajian sejarah indonesia. karena, buku
> ini juga mendapat banyak kritik dari sejarawan
> terutama karena ia tidak mengambil dari sumber pertama
> dalam menulis buku itu.
> 2. Mang Ucup dan Kang Kinantaka, sebaiknya setelah
> baca buku itu juga penting membaca versi lain tentang
> walisongo. Agus Sunyoto, dalam pandangan yang berbeda
> menulis novel 7 jilid tentang "Syaikh Siti Jenar".
> (Mohon maaf ini juga diterbitkan LKiS, bukan promosi
> lho...)Yang menarik soal keberadaan walisongo, asal
> mereka dan bagaimana mereka hidup, sangat berbeda jauh
> dengan tesis Prof. Slamet sendiri. Tentu ini
> seharusnya menjadi bagian dari diskusi kita yang
> panjang. sekurang-kurangnya ada 2 buku dengan tesis
> berbeda tentang walisongo: satu dari cina dan satunya
> lagi arab. 
> 
> lain waktu tak sambung neh........
> 
> fikri af
> 
> --- Kinantaka <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> 
> > mau nanya neh...
> > 
> > apa benar yg ditulis oleh mang ucup di bawah ini?
> > bahwa wali songo itu
> > memang cino atau keturunan cino? ada yg bisa kasih
> > referensi?
> > 
> > salam,
> > kinantaka
> > 
> > **********
> > 
> > Walisongo itu Cino!
> >
> http://www.mangucup.org/modules.php?op=modload&name=News&file=article&sid=756
> > 
> > Entah kenapa banyak sekali sdr kita umat Muslim
> > merasa gerah, apabila
> > mendengar bahwa delapan dari Sunan Walisongo itu
> > adalah orang Tionghoa,
> > padahal Nabi Muhammad saw sendiri pernah bersabda
> > "Tuntutlah ilmu walau
> > sampai negeri Cina" (Al Hadits), nah pada saat itu
> > orang Tionghoa nya
> > sendirilah yg datang ke Indonesia, sehingga mereka
> > tidak perlu repot2 harus
> > pergi belajar ke Tiongkok untuk menuntut ilmu
> > disana.
> > 
> > Prof Slamet Mulyana pernah berusaha untuk
> > mengungkapkan hal tsb diatas dlm
> > bukunya "Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya
> > Negara-negara Islam di
> > Nusantara", tetapi pada th 1968 dilarang beredar,
> > karena masalah ini sangat
> > peka sekali dan mereka menilai menyakut masalah
> > SARA. Kenapa demikian?
> > 
> > Bayangkan saja yg mendirikan kerajaan Islam pertama
> > di Jawa adalah orang
> > Tionghoa, bahkan Sultan nya yg pertama pun adalah
> > orang Tionghoa: Chen
> > Jinwen alias Raden Patah alias Panembahan Tan Jin
> > Bun/Arya (Cu-Cu).
> > 
> > Walisongo atau Walisanga yg berarti sembilan (songo)
> > Wali, tetapi ada juga
> > yg berpendapat bahwa perkataan songo ini berasal
> > dari kata "tsana" yg
> > berarti mulia dlm bhs Arab sedangkan pendapat
> > lainnya mengatakan bahwa kata
> > tsb berasal dari kata "sana" dlm bhs Jawa yg berarti
> > "tempat"
> > 
> > Para wali tsb mendapatkan gelar Sunan, yg berarti
> > guru agama atau ustadz,
> > namum perkataan Sunan itu sebenarnya diambil dari
> > perkataan "Suhu/Saihu" yg
> > berarti guru dlm bhs dialek Hokkian, sebab para wali
> > itu adalah guru2
> > Pesantren Hanafiyah, dari mazhab (sekte) Hanafi.
> > "Su" singkatan dari kata
> > "Suhu" dan "Nan" berarti selatan, sebab para
> > penganut sekte Hanafi ini
> > berasal dari Tiongkok Selatan.
> > 
> > Perlu diketahui bahwa sebutan "Kyai" yg kita kenal
> > sekarang ini sebagai
> > sebutan untuk guru agana Islam setidak-tidaknya
> > hingga jaman pendudukan
> > Jepang masih digunakan untuk panggilan bagi seorang
> > lelaki Tionghoa Totok,
> > seperti pangggilan "Encek".
> > 
> > Walisongo ini didirikan oleh Sunan Ampel pada th.
> > 1474. Yg terdiri dari 9
> > wali yaitu:
> > 
> > Sunan Ampel alias Bong Swie Ho
> > Sunan Drajat alias Bong Tak Keng
> > Sunan Bonang alias Bong Tak Ang
> > Sunan Kalijaga alias Gan Si Cang
> > Sunan Gunung Jati alias Du Anbo – Toh A Bo
> > Sunan Kudus alias Zha Dexu – Ja Tik Su
> > Sunan Giri adalah cucunya Bong Swie Ho
> > Sunan Muria
> > Maulana Malik Ibrahim alias Chen Yinghua/Tan Eng
> > Hoat
> > 
> > Sunan Ampel (Bong Swie Ho) alias raden Rahmat lahir
> > pada th 1401 di Champa
> > (Kamboja), ia tiba di Jawa pada th 1443. Pada saat
> > itu di Champa banyak
> > sekali orang Tionghoa penganut agama Muslim yg
> > bermukim disana. Pada th 1479
> > ia mendirikan Mesjid Demak. Ia juga perencana
> > kerajaan Islam pertama di Jawa
> > yang beribu kota di Bintoro Demak, dengan mengangkat
> > Raden Patah alias Chen
> > Jinwen - Tan Jin Bun sebagai Sultan yang pertama, ia
> > itu puteranya dari Cek
> > Kopo di Palembang.
> > 
> > Orang Portugis menyebut Raden Patah "Pate Rodin Sr."
> > sebagai "persona de
> > grande syso" (orang yg sangat bijaksana) atau
> > "cavaleiro" (bangsawan yg
> > mulia), walaupun demikian orang Belanda sendiri
> > tidak percaya moso sih
> > sultan Islam pertama di Jawa adalah orang Tionghoa.
> > Oleh sebab itulah
> > Residen Poortman 1928 mendapat tugas dari pemerintah
> > Belanda untuk
> > menyelidikinya; apakah Raden Patah itu benar2 orang
> > Tionghoa tulen?
> > 
> > Poortman diperintahkan untuk menggeledah Kelenteng
> > Sam Po Kong dan menyita
> > naskah berbahasa Tionghoa,dimana sebagian sudah
> > berusia 400 tahun sebanyak
> > tiga cikar/pedati. Arsip Poortman ini dikutip oleh
> > Parlindungan yang menulis
> > buku yang juga kontroversial Tuanku Rao, dan Slamet
> > Mulyana juga banyak
> > menyitir dari buku ini.
> > 
> > Pernyataan Raden Patah adalah seorang Tionghoa ini
> > tercantum dlm Serat Kanda
> > Raden Patah bergelar Panembahan Jimbun,dan dalam
> > Babad Tanah Jawi disebut
> > sebagai Senapati Jimbun. Kata Jin Bun (Jinwen) dalam
> > dialek Hokkian berarti
> > "orang kuat".
> > 
> > Cucunya dari Raden patah Sunan Prawata atau Chen
> > Muming/Tan Muk Ming adalah
> > Sultan terakhir dari Kerajaan Demak, berambisi untuk
> > meng-Islamkan seluruh
> > Jawa, sehingga apabila ia berhasil maka ia bisa
> > menjadi "segundo Turco"
> > (seorang Sultan Turki ke II) setanding sultan Turki
> > Suleiman I dengan
> > kemegahannya.
> > 
> > Sumber:
> > - D. A. Rinkes "De heiligen van Java"
> > - Jan Edel "Hikajat Hasanoeddin"
> > - B. J. O. Schrieke, 1916, Het Boek van Bonang –
> > Utrecht: Den Boer
> > - G.W.J. Drewes, 1969 The admonitions of Seh Bari :
> > a 16th century Javanese
> > Muslim text attributed to the Saint of Bonang, The
> > Hague: Martinus Nijhoff
> > - De Graaf and Pigeaud "De eerste Moslimse
> > Vorstendommen op Java" – "Islamic
> > states in Java 1500 -1700".
> > - Amen Budiman "Masyarakat Islam Tionghoa di
> > Indonesia"
> > - Prof. Slamet Mulyana "Runtuhnya Kerajaan
> > Hindu-Jawa dan Timbulnya
> > Negara-negara Islam di Nusantara
> > 
> > 





______________________________________________________________________
http://www.numesir.org untuk informasi tentang Cabang Istimewa NU Mesir dan 
KMNU2000, atau info-info seputar Cairo dan Timur Tengah.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Kami berharap Anda selalu bersama kami, tapi jika karena suatu hal Anda harus 
meninggalkan forum ini silakan kirim email ke: 
[EMAIL PROTECTED] 
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke