HKSIS <[EMAIL PROTECTED]> wrote:   To: "HKSIS-Group" <[EMAIL PROTECTED]>
From: "HKSIS" <[EMAIL PROTECTED]>
Date: Sun, 29 Oct 2006 21:22:58 +0800
Subject: [nasional-list] Matahari Di Tengah Malam

            Sungguh satu kehormatan besar bagi saya bisa mendapatkan kiriman 
buku "Matahari Di Tengah Malam" dari penulisnya, May Teo, yang lengkapnya 
bernama Liong May Swan. Kelahiran dan besar di Jakarta, sekalipun sejak 
berkeluarga tahun 60-an sudah menetap di Singapore, hati-nya benar-benar masih 
melekat di Indonesia dan buku inilah karya pertamanya dalam bahasa Indonesia 
yang sudah diterbitkan Mei tahun ini.
   
      Marilah kita ikuti Kata Pengantar Bung Kusni (dibawah) yang tak 
segan-segan menilai: Kendati merupakan karya pertamanya dalam bahasa Indonesia, 
bukan berarti May adalah penulis kemarin sore. Dan, dengan gamblang telah 
memberikan garis besar karya May Teo "Matahari Di Tengah Malam" ini, silahkan 
membaca!
   
  Salam,
  ChanCT
   
  
   
     

    "Matahari di Tengah Malam"
  Itu Sebenarnya Adalah Manusia dan Kemanusiaan
   
  Kalimat puitis "Matahari di Tengah Malam", bukanlah baris yang saya pungut 
dari sebuah puisi, melainkan sebuah judul kumpulan cerita pendek yang ditulis 
oleh May Swan dalam bahasa Indonesia. Merangkum sepuluh cerita dengan beragam 
latar belakang sejarah dan geografis dari peristiwa-peristiwa penting di dunia, 
misalnya Konfrensi Asia-Afrika, Revotusi Besar Kebudayaan Proletar di Repubtik 
Rakyat Tiongkok [RRT], perjuangan Partai Komunis Malaya sejak melawan fasisme 
Jepang sampai menghadapi represi kolonial Inggris serta perjuangan berbagai 
etnik di Indonesia untuk merebut kemerdekaan dan menegakkan Repubtik Indonesia.
  Kejadian-kejadian yang melatari tokoh-tokoh yang diangkat oleh May 
berlangsung di beberapa negeri. Mulai dari Indonesia, di mana ia lahir dan 
dibesarkan serta sampai sekarang masih merasa mempunyai ikatan erat. Melalui 
ceritanya ia juga mengajak kita ke Singapura, Malaysia, Tiongkok, Myanmar, 
negeri-negeri Eropa Barat hingga Amerika Serikat. Dilukiskan secara rinci dan 
gamblang sehingga kita tidak sulit membayangkan keadaan. Apalagi jika yang 
membaca mempunyai bekal pengetahuan sejarah, sosial, politik, fitsafat, 
psikologi serta sosiologi ala kadarnya.
  Melihat besarnya permasalahan dan latar belakang yang diangkat oleh May, 
bukan tidak mungkin kelak sepuluh cerpen ini diolah kembangkan menjadi sepuluh 
novel.
  Dengan membaca kumpulan cerpen ini, kita mengetahui bahwa May telah mereguk 
pengalaman berbagai kurun zaman dengan segala peristiwanya. Menunjukkan jauh 
dan luasnya kawasan bumi yang sudah ia langlangbuanai. Perjalanan panjang penuh 
pahit getir yang kemudian menajamkan mata batinnya, mematangkan 
renungan-renungannya. Kumpulan cerpen ini merupakan sebuah dokumen sejarah dan 
perkembangan berbagai negeri dalam bentuk sastra. Cakupan temanya sangat luas. 
Selain berangkat dari pengalaman sendiri, dalam menulis karya-karyanya, ia 
selalu membekali diri dengan studi perpustakaan mengenai tema-tema yang diolah. 
Dengan menggunakan data-data inilah ia menerbangkan imajinasinya lebih lanjut.
  Kendati merupakan karya pertamanya dalam bahasa Indonesia, bukan berarti May 
adalah penulis kemarin sore. Sebelumnya ia telah menerbitkan karyanya di 
Singapura dalam bahasa Inggris. Penerbitan dalam bahasa Indonesia ini, bisa 
dipahami sebagai petunjuk keterkaitan kuatnya pada Indonesia di mana ia lahir 
dan dibesarkan. la lahir dan besar di Jakarta. Setetah berkeluarga kemudian 
pindah ke Singapura, hingga kini. Namun keterikatannya pada Indonesia sedikit 
pun tidak luntur. Apalagi keluarganya, terutama sang ayah dan teman&shy;teman 
sang ayah seperti Tony Wen pernah memberikan sumbangan besar dalam gerakan 
menghalau kolonialis Belanda serta menegakkan Republik Indonesia. Tony Wen 
"yang ganteng seperti bintang film Amerika Erol Flin" bahkan pernah duduk 
sebagai menteri pada Kabinet Ali Sastroamidjojo pada masa Pemerintahan 
Soekarno. Tokoh Tony Wen inilah yang antara lain telah diangkat melalui 
ceritanya "Pahlawan Kota Sungai Liat".
  Saya sangat mengarisbawahi tema sejarah lokal — dalam hal ini Bangka — dan 
etnik-etnik di negeri ini diolah jadi karya sastra. Sebab saya melihat 
sastrawan selalu dikejar dan ditagih oleh sejarah, oleh rakyat dan oleh 
manusia, guna membayar hutang yang menumpuk. Sekalipun tak pernah bakal tunai 
terbayar karena sastrawan akan selalu ketinggalan sejarah.
  Berada di lingkungan perjuangan begini, tidak heran jika kemudian ia sangat 
akrab dengan kehidupan para pejuang kemerdekaan dan gerakan nasionalisme serta 
dekat dengan kehidupan nyata masyarakat dari berbagai kalangan.
  Keterikatan kuat pada Indonesia sebagai negeri kelahiran seperti ini, 
rata-rata saya dapatkan pada orang-orang asal Indonesia di luar negeri. Tentang 
hal ini sangat banyak pengalaman langsung yang saya temui secara langsung. 
Kenyataan yang membantah bahwa pretensi menganggap bahwa hanya 
golongan-golongan tertentu saja yang patriotik dan punya semangat kebangsaan. 
Bagi saya kenyataan ini menunjukkan bahwa Indonesia bukanlah monopoli etnik, 
kelompok, aliran atau partai politik mana pun. Republik dan Indonesia adalah 
milik semua warga negaranya serta yang mencintai negeri ini.
  Mengamati luasnya cakupan bahasan melalui cerpen&shy;cerpen ini, saya melihat 
bahwa bagi May, etnik, bangsa, tanah air dan negara pada akhirnya hanyalah 
perbatasan semu bagi kemanusiaan. Pemanusiawian manusia merupakan misi semua 
anak manusia dari negeri, negara, etnik dan kelompok mana pun. Kemanusiaan 
baginya adalah tunggal sedangkan kebudayaan itu majemuk. Kemajemukan yang 
justru membuat hidup ini indah.
  Kalau bacaan saya benar, maka barangkali pandangan beginilah yang menjadi ide 
dasar yang dikembangkan oleh May dalam bercerita dengan menggunakan dunia 
sebagai skala geografis panggung hidup tokoh-tokohnya.
  Berdasarkan pengalaman dan kajiannya dengan ungkapan&shy;ungkapan yang sering 
puitis seperti dalam judul-judul cerpennya, May melakukan analisa yang tajam 
atau pertanyaan-pertanyaan mendasar yang membuat kita merenung untuk kemudian 
mencoba mencari jawabannya sendiri. Dalam bercerita May sama sekali tidak 
mengekang diri pada kerangkeng tabu apa pun tanpa merosot pada pornografi. May 
membiarkan imajinasinya melayang tinggi dan jauh yang sering berakhir tanpa 
terduga. Ketidakterdugaan inilah yang memaksa kita untuk membaca karya-karya 
May hingga akhir.
   
  Tokoh-tokoh di sini umumnya bergelut dengan tragedi yang kelabu. Kadang ia 
tertawakan dengan humor manusiawi. Tragedi ini, barangkali dilambangkan oleh 
May sebagai "malam". Berada di tengah-tengah "malam" gulita — kadang seakan 
ujung jari pun tak nampak -- ia tidak pernah merasa tidak ada jalan keluar. May 
bukanlah pengikut fatalisme. Selalu adanya jalan keluar ini yang disebutnya 
sebagai "matahari". Dengan judul ini, May seakan-akan mau berkata bahwa manusia 
itu tidak gampang dikalahkan. May justru percaya pada kemampuan manusia untuk 
menjadi manusia. Jalan keluar adalah hari esok. Dengan judul ini agaknya May 
melihat bahwa walaupun HAM banyak ditaruh di bawah tumit sepatu 
totalitarianisme, paternalisme dan isme-isme sejenis lainnya, tapi kemanusiaan 
pun tidak gampang diremukkan. Seperti matahari sekali pun suatu ketika berada 
di balik awan atau ditelan awan, tapi matahari kemanusiaan itu tidak akan luruh 
dari langit. Optimisme adalah karakter lain dari May.
  Renungan dan mengajak kita merenung, nampaknya merupakan salah satu ciri lain 
dari cerpen-cerpen May. Salahkah menyebutnya sebagai seorang pemikir, seorang 
perenung? Tapi paling tidak, ia adalah seorang cerpenis yang berpikir dan 
terus-menerus belajar. Kumpulan cerpen ini saya kira sarat makna dan pesan. May 
bukan seseorang yang banci tanpa sikap. Semuanya ia pertihatkan melalui 
tokoh-tokohnya.
  Karena May dekat dengan kehidupan dan imajinasi serta renungannya berpangkal 
pada kehidupan, dengan mata air karya tak kunjung kering begini, bisa 
dipastikan bahwa sesudah ini kita akan bertemu kembali dengan karya-karyanya 
yang lain. ***
   
  DR JJ Kusni
  -----------------
  Paris, Akhir Maret 2006.


                
---------------------------------
 What is the internet to you?
 Contribute to the Yahoo! Time Capsule and be a part of internet history.

[Non-text portions of this message have been removed]



______________________________________________________________________
http://www.numesir.org untuk informasi tentang Cabang Istimewa NU Mesir dan 
KMNU2000, atau info-info seputar Cairo dan Timur Tengah.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Kami berharap Anda selalu bersama kami, tapi jika karena suatu hal Anda harus 
meninggalkan forum ini silakan kirim email ke: 
[EMAIL PROTECTED] 
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke