Membangun Diri dalam Peradaban
   
  Pernahkah anda melihat bangunan yang belum jadi? Seperti itulah gambaran 
kehidupan kita selama ini hingga waktu yang ditentukan, pembangunan diri akan 
berakhir pada batas akhir prosposal proyek yang kita bangun, yang telah 
disepakati diawal zaman sebelum peletakkan batu pertama, anggaran belanja 
kebutuhan, bahan material, ongkos tukang, kontruksi bangunan, kekuatan pondasi, 
ukuran daya tahan gempa, dan lain sebagainya telah ditentukan oleh insinyur 
utama.
   
  Mungkin kita jadi sadar akan keberadaan kita dalam kandungan, ketika jasad 
kita mulai dicampur dengan ruh, bagai bahan meterial yang digabung dari semen, 
pasir, batu dan air, diaduk rata sesuai alat yang ada, ada yang pakai molen ada 
juga yang manual, ukuran bahan kita juga bervariasi demi kegunaan yang berbeda, 
mungkin kalau adonan untuk pondasi butuh bahan yang lebih kuat sesuai beban 
yang akan ditanggungnya.
   
  Jasad tanpa ruh tak akan berarti, pernah lihat ikan arwana yang mahal itu, 
kalau ikan itu mati, dijual pun tak laku, begitu pula ruh tanpa jasad, tak akan 
bisa terlihat adanya, hanya menjadi semacam impian dan khayalan. Lalu kemudian 
ditambahkan akal untuk membedakan manusia dengan hewan, tentunya kita masih 
ingat konsep dalam ilmu Mantiq, al insân hayawân al nâtiq  manusia adalah hewan 
yang berbicara.
   
  Pondasi hotel pencakar langit tentu berbeda dengan pondasi kios jalanan, 
jangka waktu pembangunannya pun butuh waktu yang lama untuk pondasi hotel 
berbeda dengan pondasi kios yang cepat dan singkat, begitu pula manusia jika 
pondasinya kios dipakai untuk level hotel maka akan segera anda saksikan 
kehancurannya, pun juga jika pondasinya hotel dipakai untuk kios tentu akan 
sia-sia.
   
  Dalam pemahaman agama pun seperti itu, jika seseorang pondasinya rapuh dan 
dipaksa untuk menyangga beban berat, maka akan hancurlah bangunan agama itu, 
begitu pula jika ada seseorang yang pondasi agamanya kuat namun tidak digunakan 
untuk beban berat maka akan sia-sia pondasi itu. Begitu juga pesantren sebagai 
lahan pembangunan gedung manusia berakhlak, hal itu tidak akan berhasil, jika 
pengasuh pesantren yang menjadi insinyur pembangunan tak punya bahan material 
berupa ilmu pengetahuan yang mumpuni, apalagi lokasi bangunan pada daerah rawan 
gempa, longsor, dan banjir, tentu hanya akan menjadi impian yang mudah lenyap 
dalam ingatan. Dan untuk mewujudkan hal demikian membutuhkan insinyur yang 
kapabel dengan bahan meterial yang lengkap demi terciptanya pondasi yang kokoh, 
agar mampu menyangga beban yang akan ditanggungnya.
   
  Jika kita mau melihat bangunan yang belum jadi, kita akan menemukan bangunan 
itu jelek, kotor, dan nggak enak untuk dipandang mata, namun selagi para tukang 
masih bekerja menyelesaikan bangunan tersebut hingga batas waktu yang 
ditentukan alias masih ada waktu, seyogyanya kita tak perlu terburu-buru 
mengatakan bangunan itu jelek, apalagi dengan suara keras dihadapan khalayak 
ramai, kenapa demikian? Sebab nanti kalau bangunan itu sudah jadi dan bagus, 
bisa-bisa kita akan menjilat ludah kita sendiri,  memuji-muji sesuatu yang dulu 
kita menghinanya. 
   
  Kita adalah bangunan yang belum jadi, akan jelek dan kurang dimata orang 
lain, namun dimata kita, hal itu wajar sebab kita yang membangun, dan pandangan 
orang lain adalah cermin keberadaan kita, asalkan kita selalu berusaha 
memperbaiki tentunya suatu saat akan menjadi baik dimata orang lain, dan kita 
akan selalu merasa kurang sempurna dan akan terus membangunnya. Membangun diri 
tak perlu menunggu orang lain, sebab budaya saling menunggu adalah 
keterlambatan dalam pembangunan diri, biarkan orang lain berkata apa, atau 
berbuat apa, bangunlah dirimu ketika mereka leha-leha, dan nanti kau akan 
leha-leha sementara mereka masih membangun dirinya.
   
  Pondasi bangunan hotel perlu waktu, seperti juga konsep menuntut ilmu butuh 
waktu yang lama, alâlâ tanâlul ilma illâ bisttatin, saunbika an majmuihâ 
bibayani, dzakâin wa khirshin was tibârin wa bulghoti, wa irsyâdi ustâdin wa 
thuluz zamâni . Jika kita tidak memiliki pondasi yang kuat dan siap, tentunya 
kita akan hancur ketika terkena getaran, gempa, ataupun angin ribut wacana yang 
sedang berkembang, dan mungkin kita akan menutup diri, bahkan terkadang merasa 
paling benar, tanpa mengingat konsep, bahwa diatas langit masih ada langit.
   
  Penjagaan bangunan pun harus mengikuti perkembangan zaman, perlindungan diri 
pun harus kuat, alat pelindung telah ada pada diri kita semua, yaitu "akal" 
hanya saja alat itu tak akan melindungi kita, jika kita tidak 
mengoperasikannya, sebagaimana program antivirus dalam komputer, tak akan 
berfungsi jika kita tidak meng instalnya, dan perlu untuk di update agar bisa 
mendeteksi virus-virus modern, yang sangat sulit dilihat, bagaikan sulitnya 
melihat hilal ramadan yang selalu membingungkan dan menjadi perdebatan. 
   
  Kalau zaman dulu akal diibaratkan pedang dalam pertempuran, setajam apapun 
pedang itu, jika kita tak menggerakkannya tentu tak akan dapat melindungi kita. 
Mari kita gerakkan otak kita, dan latihan bertempur sekaligus mengasah 
ketajaman akal kita dengan diskusi, berpendapat, berargumen, berdasar serta 
mengusai cara penyampaian yang indah, Marilah kita menjadi manusia, sebab jika 
kita tidak nâtiq (berbicara) maka tak ada bedanya dengan hewan yang hanya makan 
tidur jadi tujuan.
   
  Alliem,
  Rabu, 01 November 2006
  Yang masih belum jadi


              ----====o0o===----
  Kunjungi
  http://www.muallim.tk
  Kritikmu harapanku
   
  Ngobrol bareng aku, silahkan gabung di
  http://tech.groups.yahoo.com/group/kang_guru/ 
  Bersama menuju bahagia








 
---------------------------------
 Check out the New Yahoo! Mail - Fire up a more powerful email and get things 
done faster. 

[Non-text portions of this message have been removed]



______________________________________________________________________
http://www.numesir.org untuk informasi tentang Cabang Istimewa NU Mesir dan 
KMNU2000, atau info-info seputar Cairo dan Timur Tengah.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Kami berharap Anda selalu bersama kami, tapi jika karena suatu hal Anda harus 
meninggalkan forum ini silakan kirim email ke: 
[EMAIL PROTECTED] 
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke