http://www.suaramerdeka.com/
Memaknai Pertemuan Gus Mus-Gus Dur
  a.. Oleh Mohammad Bisri 
PERTEMUAN K.H.A. Mustofa Bisri atau Gus Mus dengan KH Abdurrahman Wahid atau 
Gus Dur di rumah Gus Mus di Rembang baru-baru ini bukan pertemuan biasa atau 
halal bi halal semata. 

Dalam pandangan saya lebih sebagai pertemuan khususnya bagi Gus Dur untuk 
mencari solusi penyelesaian kemelut Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), setelah 
Gus Dur sulit untuk berkomunikasi dengan kiai sepuh NU yang menggarap pendirian 
Partai Kebangkitan Nasional Ulama (PKNU), setelah keluarnya keputusan kasasi 
Mahkamah Agung yang memenangkan PKB Gus Dur.

Kehadiran Gus Dur bukan langkah keliru, karena belakangan ini setiap ada 
pertikaian di lingkungan NU maupun di PKB, Gus Mus-lah yang selalu dijadikan 
rujukan, bahkan jalan keluar. 

Dimulai dari awal pembentukan PKB, banyak pihak menginginkan Gus Mus menjadi 
ketua umumnya. Kemudian setiap muktamar PKB, Gus Mus selalu di dorong banyak 
pihak untuk menjadi ketua umum. Terakhir pada Muktamar NU ke -31 tahun 2004 di 
Donohudan, Boyolali. 

Karena konflik pribadi antara Gus Dur dengan KH Hasyim Muzadi demikian akut, 
kompromi yang dilakukan menempatkan Gus Mus sebagai ketua umum PBNU, karena 
diyakini dapat dijadikan sintesa mengakhiri konflik, tetapi Gus Mus selalu 
menolak pencalonan dirinya.

Menurut Choirul Anam, Gus Mus adalah sosok kiai dan panutan sejati yang tidak 
ambisius dan tidak mau meminta jabatan. Padahal kalau dia mau duduk menjadi 
pimpinan (PKB maupun NU), dia akan berhasil membangun infrastruktur yang baik 
dalam kepemimpinannya, bukan kamuflase (Ngetan - Ngulon Ketemu Gus Mus, hal 
110).

Agaknya Gus Dur saat ini berbeda dengan Gus Dur akhir tahun 1980-an hingga awal 
2000-an. Ketika Gus Dur menjabat ketua umum PBNU kemudian konflik dengan 
almaghfurlah KH As'ad Syamsul Arifin, kiai sepuh yang kharismatik dan salah 
seorang mustasyar PBNU. 

Karena mendalamnya perselisihan, Kiai As'ad secara terbuka menyatakan putus 
hubungan dengan Gus Dur. Demikian pula ketika konflik dengan Wakil Rois Aam 
1989 - 1994 Prof. KH Ali Yafie seputar penerimaan dana SDSB, justru Kiai Ali 
Yafi lah yang mengundurkan diri dari jabatan, sebagai Wakil Rois Aam. Saat itu 
kiai-kiai sepuh NU tetap mendukung Gus Dur, alasannya ia masih dibutuhkan NU 
untuk membawa warga NU kepada masa depan yang lebih baik.

Saat ini situasinya jauh berbeda, puncaknya ketika Muktamar NU ke -31 tahun 
2004 di Donohudan Boyolali, Gus Dur yang mencalonkan diri sebagai Rois Aam PBNU 
sepenuhnya ditolak oleh para kiai sepuh dan muktamirin. Bahkan kini hubungan 
Gus Dur dengan para kiai sepuh NU terputus, termasuk dengan Gus Mus. Hanya Gus 
Mus lah yang masih bisa diajak berkomunikasi. 

Hati-hati Pembisik

Yang saya tahu, ketika Gus Dur menjadi Presiden RI, Gus Mus sering mengingatkan 
kepada Gus Dur agar berhati-hati dengan pembisiknya. Justru karena persoalan 
ini Gus Dur menjadi tidak senang dengan Gus Mus. 

Sekurang-kurangnya ada tiga harapan Gus Dur bertemu Gus Mus. Pertama, Gus Mus 
diharapkan bersedia mengajak para kiai sepuh NU mengurungkan niat mendirikan 
PKNU dan bergabung kembali pada PKB, sebagai kompensasi akan menempatkan 
Choirul Anam ketua umum PKB versi Muktamar Surabaya sebagai wakil ketua umum 
PKB Gus Dur. 

Akan menjadi lebih indah manakala Gus Dur, Muhaimin Iskandar, Choirul Anam, dan 
KH Abdurrahman Chudlori sama sekali tidak masuk dalam kepengurusan. 
Personalianya diisi figur-figur yang integritasnya diakui dan tidak diragukan 
di kalangan NU khususnya dan sebagian diisi dari kalangan profesional. 

Ia mesti sudah berhitung jika akhirnya kiai-kiai sepuh NU tetap mendirikan 
PKNU, suara PKB-nya pada pemilu yang akan datang akan nggembos, khususnya di 
kantong utama PKB, Jawa Tengah dan Jawa Timur. Karena kiai sepuh NU yang 
menjadi motor pendiri PKB Gus Dur di Jawa Tengah maupun Jawa Timur, pada 
umumnya kader yang belum dikenal di tingkat bawah .

Sebagai ilustrasi, mungkin tidak relevan tetapi ada korelasinya, yaitu ketika 
warga NU di Jawa Timur dan Jawa Tengah menetapkan 1 Syawal 1427 H lalu. Menteri 
Agama RI dalam sidang isbat (penetapan), di mana PBNU ikut di dalamnya 
menetapkan 1 Syawal 1427 H jatuh hari Selasa, 24 Oktober 2006. Berikutnya warga 
NU khususnya di Jawa Tengah dan sebagian Jawa Timur pada umumnya hari Senin 
malam tanggal 23 Oktober 2006 masih melaksanakan shalat tarawih. 

Di tengah malamnya, atau sebagian lagi Selasa paginya karena mendengar Pondok 
Pesantren Lirboyo dan Pesantren Ploso Kediri sudah menetapkan 1 Syawal 1427 H 
jatuh hari Senin, maka sebagian besar warga NU membatalkan puasanya dan 
bergegas merayakan Idul Fitri, walaupun salat id dilaksanakan hari Selasanya. 

Kita semua tahu, penggerak utama yang melakukan perlawanan kepada PKB Gus Dur 
antara lain pengasuh utama kedua pondok pesantren itu, dengan para alumninya.

Selama ini yang selalu menjadi andalan PKB Gus Dur khususnya di Jawa Tengah dan 
Jawa Timur hanyalah dukungan para kader PKB yang berada di birokrasi, misalnya 
yang menjabat Bupati Wali kota, Wakil Bupati / Wakil Wali Kota. Padahal motor 
dukungan riil PKB ada di para kiai atau ulama di bawah. 

Konflik PKB saat ini jauh berbeda pada era Matori Abdul Djalil. Saat itu Matori 
benar-benar tidak mendapat dukungan para kiai sepuh NU, bahkan Matori disebut 
sebagai ''anak durhaka''.

Kedua, Gus Mus diharapkan juga bersedia membendung anak-anak muda NU tidak 
bergabung ke PKNU, tetap bertahan di PKB Gus Dur. Langkah Saifullah Yusuf Ketua 
Umum GP Ansor yang akan memilih masuk rumah lama yang sudah banyak direnovasi, 
yaitu rumah PPP dan Partai Golkar. 

Langkah Saifullah Yusuf diperkirakan bisa diikuti oleh anak-anak muda NU. 
Langkah seperti itu pernah dilakukan Slamet Effendy Yusuf ketika ia menjabat 
ketua umum GP Ansor kemudian ia bergabung dengan Golkar, akhirnya hampir 
seluruh pengurus wilayah (provinsi), cabang (kabupaten/ kota), anak cabang 
(kecamatan) dan ranting (desa) di Jawa Tengah dan Jawa Timur mengikuti langkah 
pimpinannya masuk ke Golkar.

Ketiga, Gus Mus diharapkan juga bersedia melobi Rois Aam PBNU KH Sahal Mahfudz 
dan Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi. Diharapkan PBNU tidak memberikan dukungan 
pada PKNU. Benar dukungan secara organisatoris tidak bisa dilakukan, karena 
salah satu keputusan penting dari Khittah NU yang kemudian memunculkan 
kontroversi adalah terletak pada butir ke 8 alinea 5. ''NU sebagai jam'iyah 
secara organisatoris politik dan kemasyarakatan mana pun''. 

Tafsiran paling populer terhadap kata-kata ''tidak terikat'' yang muncul di 
lingkungan NU adalah, NU harus menjaga jarak yang sama antara NU dengan semua 
partai. Namun selama ini ketua umum PBNU KH Hasyim Muzadi dalam berbagai 
kesempatan bertemu dengan para Pengurus Wilayah maupun Cabang NU sering 
menyampaikan ''ketidaksenangan'' PBNU dengan PKB Gus Dur yang bercitra buruk. 

Jika ini terus dilakukan oleh Hasyim Muzadi, warga NU yang di PKB Gus Dur 
menjadi sumpek, kemudian hijrah ke PKNU atau kembali ke rumah lama,PPP seperti 
Syaifullah Yusuf.

Agaknya pertikaian PKB Gus Dur dengan PKB Choirul Anam sudah tidak lagi sekadar 
berbeda pendapat (ikhtilaf), tetapi sudah ada yang saling membenci (tabaaghuh). 
Puncaknya DPP PKB telah mengusulkan penggantian antarwaktu terhadap 4 orang pro 
PKB Choirul Anam.

Karena itu ketiga harapan Gus Dur kepada Gus Mus di atas sungguh sulit 
dilaksanakan. Mengapa kedua pihak yang bertikai sulit melakukan dialog, 
bersilaturami, sementara dengan komunitas lain yang tidak seagama sekalipun 
mereka sanggup melakukan. Padahal mereka, satu dengan yang lain, saling 
bersaudara, sebangsa, setanah air, seagama, se-ahlussunnah wal jama'ah,dan 
sejam'iyyah NU. 

Saya kira sudah saatnya tokoh-tokoh seperti KH MA Sahal Mahfudz, KHA Mustofa 
Bisri, KH Ma'ruf Amin, dan KH Hasyim Muzadi bisa menfasilitasi untuk membuka 
dialog, silaturahmi, di antara mereka yang bertikai untuk menjernihkan suasana 
saat ini.

Format yang ditawarkan tentunya mengocok ulang struktur dan personalia 
kepengurusan DPP PKB, dan selanjutnya kepengurusan di tingkat wilayah, dan 
cabang. 

Akan menjadi lebih indah manakala Gus Dur, Muhaimin Iskandar, Choirul Anam dan 
KH Abdurrahman Chudlori sama sekali tidak masuk dalam kepengurusan. 
Personalianya diisi figur-figur yang integritasnya diakui dan tidak diragukan 
di kalangan NU khususnya dan sebagian diisi dari kalangan profesional. 

Ketua Dewan Syuro misalnya diisi oleh salah satu rois syuriyah PBNU, KH Said 
Aqil Siradj atau KH Ma'ruf Amin, dan ketua umum diisi oleh salah satu Ketua 
PBNU, H Ahmad Bagdja. Prinsipnya, kocok ulang kepengurusan mengedepankan 
prinsip tidak ada pihak yang dimenangkan atau dikalahkan. (11)

- Drs. Mohammad Bisri, M.Ag, Wakil Ketua NU Kabupaten Kendal 



[Non-text portions of this message have been removed]



______________________________________________________________________
http://www.numesir.org untuk informasi tentang Cabang Istimewa NU Mesir dan 
KMNU2000, atau info-info seputar Cairo dan Timur Tengah.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Kami berharap Anda selalu bersama kami, tapi jika karena suatu hal Anda harus 
meninggalkan forum ini silakan kirim email ke: 
[EMAIL PROTECTED] 
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke