Ruhani-2: Bagaimana cara Meningkatkan Kualitas ruhani?
Manusia adalah makhluk yang memiliki kecerdasan intelektiual,
emosional dan spiritual, atau apa yang sekarang disebut IESQ. Oleh
karena itu dalam meningkatkan kualitas ruhani, maka langkah-
langkahnyapun harus mengikuti tahapan tiga kecerdasan tersebut.
Pertama;
Dalam mensikapi permasalahan berfikirlah logis, masuk akal. Kegunaan
berfikir itu untuk (a) menjawab pertanyaan, (b) untuk mengatasi
problem, (c) mengambil keputusan dan (d) menciptakan hal yang baru
atau kreatifitas. Orang berfikir itu ada yang berfikir nalar atau
realistis, ada yang tidak realistis, ada yang evaluatip, dan ada
yang berfikir kreatip.. Ada tahapan dalam berfikir, yaitu berfikir,
berzikir, kemudian tafakkur dan kemudian tadabbur. Banyak orang
berfikir tetapi tidak tafakkur, banyak orang berzikir, juga belum
tafakkur. Puncak dari tafakkur adalah tadabbur . Kata Nabi, jika aku
diam itu karena mikir, jika aku berbicara , itu karena zikir dan
jika aku melihat, itu karena mengambil pelajaran (an yakuna shumty
fikran, wa nuthqy dzikran , wa bashary `ibratan)
Kedua
Tajamkan perasaan dalam memahami realita, dengan pertanyaan-
pertanyaan;
1. siapa sesungguhnya anda?,
2. sesungguhnya anda pejuang atau parasit?,
3. lebih banyak mana yang anda berikan dengan yang anda ambil?,
4. benarkah anda terhormat ?,
5. siapa sebenarnya yang paling berperan?.
6. Dan seterusnya.
Ketajaman perasaan akan terbangun jika kita bersentuhan langsung
dengan problem mendasar manusia; menyaksikan dan terjun membantu
orang kelaparan, orang kesakitan, orang kesulitan. Sekedar membaca
Laporan orang tentang problem orang lain biasanya hanya masuk memori
(kognitip), tetapi tidak menyentuh hati (afektip) sehingga kurang
mendorong pada perilaku (psikomotorik).
Ketiga
Jangan lupa sabar (sabar=kecerdasan emosional). Sabar adalah tabah
hati tanpa mengeluh dalam menghadapi cobaan dan rintangan, dalam
jangka waktu tertentu, dalam rangka mencapai tujuan. Jadi orang yang
bisa sabar adalah orang yang selalu ingat kepada tujuan, karena
kesabaran itu diperlukan adalah justeru demi untuk mencapai tujuan.
Orang yang tidak sabar biasanya , karena lupa tujuan akhir, ia mudah
terpedaya untuk melayani gangguan-gangguan yang tidak prinsipil,
sehingga apa yang menjadi tujuan terlupakan dan segalanya menjadi
berantakan.
Sabarpun mengenal batas waktu, oleh karena itu jika suatu ketika
mengalami kegagalan, sudah diulang gagal, diulang lagi gagal lagi,
maka orang yang sabar harus berfikir mencari alternatip, karena
boleh jadi sumber masalahnya justeru pada keputusan awal yang kurang
tepat. Manusia dengan kualitas penyabar adalah sosok manusia yang
ulet, tak kenal menyerah, tak kenal putus asa, dan tak kurang akal.
Ia bukan hanya mampu mengatasi kesulitan yang datang dari luar,
kesulitan tehnis misalnya, tetapi juga mampu mengatasi kesulitan
yang datang dari diri sendiri, kebosanan, kemalasan atau syahwat
misalnya.
Al Qur'an menghargai manusia unggul yang penyabar, yakni yang sabar
dan memiliki kecerdasan intelektuil, Emosionil dan Spirituil (IQ,
EQ dan SQ ) , setara dengan seratus orang kafir (yang sombong,
emosionil dan tak mempunyai nilai keruhanian) (Q/al Anfal, 65).
Dalam keadaan normal. Al Qur'an menghargai peribadi penyabar setara
dengan dua orang biasa (Q/8: 66).
Kesabaran dibutuhkan ketika (a) menghadapi musibah (b) menghadapi
godaan hidup nikmat (c) dalam peperangan (d) ketika marah (e) ketika
menghadapi bencana yang mencekam, (f) ketika mendengar gossip dan
fitnah (h) ketika ada peluang hidup mewah, dan (I) ketika hanya
menerima sedikit.
Keempat
Nyalakan cahaya nurani (SQ). Api itu menyala jika ada bahan bakarnya
dan jika tidak tertutup. Fitrah manusia memiliki potensi iman yang
memancar dalam jiwanya, tetapi seringkali tidak bisa menyala karena
tertutup oleh daki. Daki yang menghalangi cahaya pada dasarnya
adalah materi. Orang yang hatinya mata duitan pasti nuraninya tak
bercahaya, karena cahaya itu inmateri, maka yang materialis tidak
mungkin mendekat kepada yang inmateri. Mengisi bahan bakar cahaya
nurani dapat dilakukan dengan ilmu (belajar, membaca dan mendengar),
dengan praktek lapangan (safar, menghadapi kesulitan, berjuang
membela kebenaran).
Untuk membuka tabir materi caranya dengan :
1.Memutus ketergantungan kepada hal-hal yang bersifat duniawi,
dimulai dengan membayar zakat (bertarip 2,5-5-10%), infaq (menurut
kebutuhan) dan sedekah (boleh 50-100%) dan puasa. Orang yang sanggup
memutus ketergantungannya kepada materi pasti kaya. Kaya hati itu
lebih tinggi nilainya dibanding kaya materi.
2.menjauhi maksiat, karena maksiat itu mematikan cahaya (gelap).
Semua pelaku maksiat pasti hatinya gelap, dan sifat maksiat itu
menular (gelap dan menutupi cahaya).
3.berwisata spiritual (salat, haji, dan safar). Wisata spiritual
akan mengubah dunia yang sempit menjadi luas, yang berat menjadi
ringan, yang pahit menjadi manis. Manfaat wisata ada lima : (a)
menghilangkan stress (tafarruju hammin), (b) rizki kehidupan
(iktisabu ma`isyatin), (c) memperoleh ilmu, (d) adab atau etika dan
(e) pengalaman bergaul dengan orang besar (suhbatu majidin)
Wassalam,
agussyafii
http://mubarok-institute.blogspot.com