Pesan : buat lelaki hidung belang dan perempuan hidung beling, kalau 
cari pasangan selingkuh, mbok yao cari pasangan yang "ikhlas" 
melakukan selingkuh. Aku berpikir, andaikata 50 % saja pasangan 
selingkuh bermental seperti perempuan jalang macam Maria Eva, sudah 
tentu media yg akan kerepotan. 

Perselingkuhan vs poligami jadi bahasan menarik di negara kita. 
Orang-orang yang frustasi sudah banyak yang "wadul" kepada SBY untuk 
turut menyelesaikan masalah poligami. Weleh weleh, ngurusi korban 
gempa Yogja saja belum beres, cari pembunuh Munir juga gak bisa, kok 
ditambahi ngurusi poligaminya orang.

Yang ini, mari kita simak pengajian poligaminya Gus Mus.

Tom.

http://www.jawapos.com/index.php?act=detail_c&id=260464

Jumat, 08 Des 2006,

Poligami


Oleh A. Mustofa Bisri 

Seperti biasa, setelah pengajian Selasanan, beberapa "aktivis" 
jamaah masih duduk-duduk berkumpul di aula. Malah kali ini nyaris 
lengkap. Ada Kang Kimin; Kang Zaini; Haji Arifin; Kang Slamet; Kang 
Mansur; Mas Guru Manaf; si Dul; dan bahkan Gus Mad dan Mbah Paiman.

Kali ini Kang Slamet yang membuka "diskusi". "Wah, kasihan Aa' Gym 
ya?! Mau itbaa', mengikuti jejak Nabi, malah dihujat jamaahnya."

"Lebih kasihan lagi ibu-ibu yang selama ini mengidolakan Aa' dan 
merasa dikecewakan. Lebih-lebih Teteh Ninih, istrinya!" sahut Haji 
Arifin yang istrinya ketua muslimat ranting. "Perempuan itu kan 
paling sakit jika dimadu."

"Tapi, Teteh Ninih itu kan sudah legawa, Aa'-nya kawin lagi," Kang 
Zaini menimpali. "Dia itu tipe perempuan yang taat dan selalu 
mendukung suaminya."

"Legawa itu kan lahirnya saja!" sergah Haji Arifin.

"Wah, sejak kapan sampeyan jadi paranormal, tahu batin orang?" ledek 
Kang Zaini.

"Lho, bukan begitu. Wajahnya di teve kan kelihatan," jawab Haji 
Arifin tak mau diledek sebagai paranormal. 

"Tidak. Yang saya heran, mengapa kok jamaah Aa' menghujatnya dan 
orang-orang pada geger; sampai-sampai presiden segala ikut 
disibukkan. 

"Ini ada apa?" si Dul nimbrung. "Bukankah sebelumnya sudah banyak 
tokoh yang kawin lebih dari satu, seperti petinggi PPP Hamzah Haz; 
mubalig sejuta umat Zainuddin M.Z.; aktivis gender Masdar Mas'udi; 
bahkan Kiai Nur Muhammad Iskandar konon menjadi penasihat Paguyuban 
Poligami yang dipimpin wong Solo itu."

"Lain," Gus Mad yang sejak tadi seperti tidak mendengarkan, angkat 
bicara. "Pak Hamzah itu meskipun tokoh nasional, kan tokoh politik. 
Tokoh politik itu biasanya hanya dianggap milik partainya dan 
biasanya perilaku politiknya saja yang disorot. Zainuddin M.Z. dan 
Nur Iskandar juga begitu setelah terjun di politik. Sementara Masdar 
adalah pemikir yang ketokohannya tidak karena hubungan langsung dan 
intens dengan jamaah."

Gus Mad berhenti sejenak, memandangi wajah-wajah yang 
memperhatikannya, baru kemudian melanjutkan. "Aa' Gym lain. Dia itu 
tokoh public figure sebenarnya. Dia tidak hanya mubalig, tapi juga 
sekaligus selebriti."

"Jamaahnya adalah fans-fansnya. Aa' adalah gabungan antara Zainuddin 
M.Z. dan Iwan Fals atau Tuti Alawiyah dan Krisdayanti. Lagi pula, 
dia datang pada waktu yang tepat. Ibarat hujan, turun pada saat 
kemarau panjang. Pada saat kebanyakan kepala orang Indonesia panas 
oleh berbagai kesulitan dan kekecewaan, dia membawa keteduhan."

Lagi-lagi Gus Mad berhenti sebentar, meneguk tehnya yang sudah 
dingin, kemudian baru melanjutkan. "Kalian tahu, kebanyakan jamaah 
yang mengidolakan Aa' adalah ibu-ibu. Mereka ini tidak hanya memuja 
Aa' karena kelembutan dan kesejukan bicaranya, tapi antara lain juga 
keharmonisannya dengan sang istri. Kalian lihat sendiri, dalam 
hampir setiap penampilannya, Aa' didampingi Teteh Ninih. Tidak 
jarang dalam orasinya, dia sengaja meminta dukungan istrinya itu."

"Boleh jadi, dalam pandangan jamaahnya, khususnya ibu-ibu, Aa' 
merupakan tokoh idola yang sempurna, yang tidak ada cacatnya. Ya, 
seperti umumnya fans terhadap tokoh idolanyalah. Bahkan, untuk Aa' 
ini mungkin lebih dari itu. Dalam bahasa Ainun, di mata mereka, Aa' 
sudah menjadi semacam berhala. Terhadap 'berhala', pandangan tidak 
ada cacat bisa menjadi tidak boleh cacat."

"Dan umumnya orang Indonesia, terutama ibu-ibu, menganggap kawin 
lagi; atau istilah populernya poligami, adalah cacat. Minimal 
mengurangi kesempurnaan tokoh suami. Maka ketika Aa' kawin lagi, 
jamaah yang selama ini menganggapnya idola tunggal yang tak bercacat 
pun kecewa berat dan meradang."

"Tapi Gus," sela Kang Mansur, "poligami itu kan halal dan itbaa' 
Nabi?"

Tiba-tiba jamaah meledak, tertawa. Mas Guru Manaf sambil tertawa, 
menuding Kang Mansur. "Mentang-mentang istrinya dua!"

Kang Mansur terlihat agak sewot ditertawakan kawan-kawannya dan 
menyemprot Mas Guru Manaf: "Alaah, kamu sendiri sebetulnya kan 
pingin kawin lagi, tapi tak punya nyali. Dasar guru takwa. Takut 
istri tua!"

Jamaah pun semakin riuh tertawa. Setelah reda, Mbah Paiman yang 
paling tua di antara jamaah tiba-tiba mengacungkan tangan dan 
bicara: "Begini; sebenarnya ini tidak masalah hukum. Hukumnya kan 
sudah jelas. Poligami boleh dengan syarat adil. Nah, yang jadi 
masalah kepercayaan terhadap adilnya suami inilah yang hampir tidak 
ada."

"Orang, apalagi zaman sekarang, apalagi perempuan, hampir tidak ada 
yang percaya ada suami yang bisa adil. Ditambah lagi maraknya kasus 
perselingkuhan membuat kepercayaan orang terhadap suami yang kawin 
lagi menjadi pupus."

"Lho, Kang Mansur ini alasannya kawin lagi justru agar tidak 
selingkuh, Mbah," sela Mas Guru Manaf. Kang Mansur melirik sengit ke 
arah Mas Guru Manaf.

"Ya, hampir semua mereka yang berpoligami selalu berkilah bahwa 
poligami jauh lebih baik daripada selingkuh. Ini halal dan selingkuh 
itu haram. Tapi, ini sekaligus juga merupakan dalil penguat bagi 
mereka yang antipoligami untuk menuduh mereka yang berpoligami. 
Artinya, mereka itu melihat dorongan untuk selingkuh dan kawin lagi 
adalah sama. Syahwat."

"Lho, bukankah agama memang memberi jalan agar orang tidak 
terjerumus ke dalam kemungkaran, Mbah?" tanya Kang Zaini, "Agar 
tidak terjerumus dalam riba, agama memberi jalan: jual-beli. Agar 
tidak terjerumus dalam zina, agama memberi jalan: kawin."

"Ya, benar;" jawab Mbah Paiman sareh, "Tapi yang membuat orang, 
terutama perempuan, semakin tidak percaya itu ialah alasan-alasan 
mulia yang sering dikemukakan mereka yang berpoligami, seperti untuk 
mengikuti jejak Nabi; memberantas perselingkuhan; dsb."

"Lalu, fatwa Mbah kepada kita-kita ini, terutama kepada Mas Guru 
Manaf yang kata Kang Mansur sudah ngebet pingin kawin lagi ini, 
bagaimana?" tanya Haji Arifin.

"Istafti qalbak! Mintalah fatwa nuranimu sendiri!" jawab Mbah Paiman 
menirukan sabda Nabi Muhammad SAW.

Suasana menjadi hening agak lama. Kemudian, yang memecahkan 
kesunyian adalah Kang Kimin, senior jamaah yang sejak tadi diam 
saja. "Dari tadi kita kok hanya geger bicara soal orang kawin lagi. 
Yang kasihan kepada Aa'-lah, yang kasihan kepada istrinyalah, yang 
kasihan kepada ibu-ibu yang mengidolakannyalah. Bukankah di negeri 
ini masih banyak yang lebih perlu dikasihani; misalnya para korban 
bencana alam yang belum benar-benar terurus; korban Lapindo yang 
berlarut-larut hanya dijadikan bahan diskusi; para pemimpin yang 
bebal terhadap kehendak umat yang dipimpinnya; para pejabat yang 
masih kerepotan melepaskan diri dari lilitan kepentingan materi; dan 
sebagainya dan seterusnya." 

Suasana kembali sunyi; sampai Gus Mad memecahkannya dengan 
berkata: "Marilah kita tutup perbincangan kita ini dengan membaca Al-
Fatihah, semoga Allah mengasihani dan merahmati kita bangsa 
Indonesia ini, terutama mereka yang kita kasihani. Al-Faaatihah!" 


Mustofa Bisri, pengasuh Pesantren Roudlatut Thalibin, Rembang





Kirim email ke