Suka Dukanya Berjalan Kaki di Jakarta

Cobalah sekali-kali berjalan kaki ditrotoar jalan protokol seperti
kota Jakarta, tentunya akan banyak cerita yang menarik. Demikian
halnya dengan saya memiliki kesenangan tersendiri untuk jalan kaki,
apa lagi ketika bulan ramadhan yang lalu ditengah kemacetan saat
terdengar adzan maghrib saya suka turun dari bus kota untuk jalan
kaki mencari tempat sekedar untuk berbuka puasa.

Kira-kira baru 100 meter saya berjalan ditrotoar dari belakang ada
sepeda motor nyruduk yang membuat saya hampir terjatuh. Sang
pengemudi motorpun berhenti sambil membuka helmnya, "Makanya kalo
jalan liat dibelakang ada kendaraan minggir, jangan malah ketengah."
Dengan tampang galaknya. Saya sempat berpikir dia yang nabrak kok
malah lebih galakan ya?

Kesalehan individu seringkali tidak berbanding lurus dengan
kesalehan kita dijalan raya. Pengennya buru-buru sampe rumah. Tapi
menaikkan motor ditrotoar cerminan kesalehan sosial yang rendah.

Bagaimana menurut anda?

Wassalam,
Agussyafii
http://agussyafii.blogspot.com










Kirim email ke