SEDIKIT KEGIATAN KEBUDAYAAN KOPERASI RESTORAN INDONESIA PARIS
[Catatan Periksa Diri Pada Ultanya Yang Ke-24]
Secara statuta, koperasi restoran ini, selain berfungsi sebagai usaha
produktif di bidang ekonomi, juga memang berfungsi sekaligus sebagai pusat
kebudayaan.Dua fungsi ini bergandeng dan saling topang.
Sebagai koperasi, ia menjadi anggota Asosiasi Koperasi Nasional Perancis.
Melalui Asosiasi ini maka terbentuklah sistem jaringan solidaritas dan
memberikan kemudahan-kemudahan untuk peningkatan mutu pelayanan. Adanya
jaringan solidaritas antar koperasi inilah yang memungkinkan para awak koperasi
mengetahui skill know-how di berbagai bidang tentang bagaimana
menyelenggarakan restoran yang ketika mendirikannya dengan "modal dengkul"
alias nol francs, dari tidak tahu menjadi tahu. Bentuk koperasi juga
memungkinkan pembentukan usaha ekonomi lain tanpa usah meminta izin khusus
apa-apa lagi.
Bagaimana dalam kenyataan? Benarkah koperasi ini bisa mewujudkan fungsi
kebudayaannya? Ataukah ia hanya menjual kata kebudayaan untuk tujuan finansil
awal?
Untuk menjawab pertanyaan ini, saya akan membatasi diri dengan mengetengahkan
beberapa kegiatan saja. Karena kegiatan selama 24 tahun, akan menjadi suatu
tulisan panjang jika dideretkan semua. Dengan kalimat terakhir ini, sebenarnya
sudah menjawab masalah apakah koperasi hanya menjadikan kata kebudayaan sebagai
pajangan kosong.
Di tahun pertama berdirinya Koperasi Restoran Indonesia, antropolog Perancis,
ahli soal Bugis, Christian Pelras [tesis beliau tahun ini sudah diterbitkan
dalam bahasa Indonesia, dan bisa didapatkan di tokobuku-tokobuku di Indonesia]
dalam buku tamu restoran menulis bahwa "makanan dan seni masak-memasak
merupakan salah satu bentuk kebudayaan. Dengan berdirinya Koperasi Restoran
Indonesia di pusat kota Paris ini, maka Koperasi saban hari memperkenalkan
kebudayaan Indonesia ke masyarakat Perancis, khususnya kota Paris". Patut
dicatat bahwa koperasi ini sebagai restoran, merupakan restoran pertama di
Paris, setelah melenyapnya sebuah restoran yang menjual makanan Indonesia
dikelola oleh seorang Belanda yang nikah dengan seorang Indonesia.
Jika pendapat Pelras di atas disepakati maka kata kebudayaan yang ditetapkan
pada statuta, bukanlah sesuatu bualan belaka.Tapi nyata dan dilakukan saban
hari. Sedangkan papan nama Restoran Indonesia yang terpajang siang-malam di
tengah pusat ibukota Perancis ini, saya kira, tidak lain juga merupakan tanda
kehadiran Indonesia di Paris. Entah berapa juta pasang mata yang telah membaca
nama Indonesia selama 24 tahun ini. Entah berapa juta pula orang yang telah
mendengar musik-musik Indonesia, topeng, lukisan, batik, bendera Merah Putih,
gambar garuda, peta Indonesia, wayang kulit dan golek, ketika mereka masuk ke
ruang restoran? Melihat dan mendengar hal-hal itu adalah cara praktis mengenal
sesuatun terlasuk mengenal Indonesia. Barang-barang tersebut adalah karya
budaya Indonesia yang diperkenalkan kepada para pelanggan dari berbagai negeri
di dunia. Bagi mereka yang pernah ke Indonesia, benda-benda tersebut menggugah
kenangan dan kerinduan mereka.
Tidak jarang, bahwa para mahasiswa yang sedang belajar bahasa Indonesia
datang menanyakan ini itu kepada awak koperasi yang sedang tertugas. Mereka pun
sering datang makan secara individual atau berombongan. Mengesankan bahwa
melalui koperasi restoran ini, mereka menemukan Indonesia di Paris. Di
tahun-tahun awal, koperasi memang pernah menyelenggarakan kursus bahasa
Indonesia dengan peserta sekitar 40-an orang. Kegiatan ini dihentikan karena
kesulitan tekhnis ruangan dan waktu serta kehabisan tenaga setelah bekerja
keras siang-malam. Mengajar dan segala persiapannya menyerap tenaga dan pikiran
yang tidak kecil, jika dilakukan dengan bertanggungjawab. Saya sendiri, pernah
mencari jalan tengah alternatif, dengan membuka jurusan bahasa Indonesia di
seekolah bahasa biro perjalanan yang besar di Paris. Akhirnya kegiatan ini pun
tidak bisa saya lanjutkan karena keterbatasan waktu dan tenaga.
Selain para mahasiswa, tidak jarang, pihak polisi yang sedang menangani
kasus-kasus tentang Indonesia, datang ke koperasi minta pertolongan untuk
menterjemahkan dokumen-dokumen berbahasa Indonesia. Belum lagi orang-orang
Perancis yang sedang berpacaran dengan orang Indonesia, meminta bantuan
menterjemahkan surat-surat cinta mereka. Orang-orang ini kemudian ketika
menikah, merayakan hari pernikahan mereka di koperasi. Akhirnya menjadi sahabat
koperasi. Ingin saya katakan keadaan begini bahwa koperasi telah menjadi
jembatan pelangi antar hati putera-puteri berbagai bangsa. Terutama antara
Perancis dan Indonesia atau Indonesia dan Perancis. Tentu saja, fungsi ini,
fungsi sampingan. Tapi tidak jarang terjadi.
Banyaknya anak-anak Indo yang lahir dari perkawinan campur Perancis-Indonesia
baru saya sadari ketika koperasi dijadikan tempat peragaan busana Indonesia
oleh organisasi/perusahaan Wayang Lali, pada April 2006 lalu. Mereka memilih
koperasi restoran ini karena suasana Indonesia dan nama Indonesia yang
disandang oleh koperasi. Dari banyak pembicaraan dengan mereka, saya dapati
bahwa mereka ingin mengenal sebagai akar budaya mereka. Budaya ibu atau ayah
mereka. Dan Koperasi Restoran ini merupakan salah satu tempat mereka
mengungkapkan harsat itu serta ditempatkan dalam suasana Indonesia.
Kegiatan yang cukup periodik dilakukan adalah pertunjukan tari-tari daerah
terutama Jawa, Sunda dan Bali. Ketika di Paris ada seorang mahasiswi asal
Dayak, maka diselenggarakannya tari Dayak Kalimantan Tengah.
Dalam bidang seni rupa, Koperasi berkali-kali menyelenggarakan pameran
lukisan pelukis-pelukis asal Indonesia, baik yang tinggal di Perancis, mau pun
yang asal Indonesia. Pameran terakhir dilakukan bersama-sama orgasasi Perancis
Les Talents Cachées, organisasi yang membantu pelukis-pelukis belum bernama
dari berbagai daerah di Indonesia, guna membantu mereka secara finansil.
Apabila dirasakan ruang restoran terlalu kecil, maka kegiatan dilakukan di
luar, bekerjasama dengan organisasi-organisasi seperti Lembaga Persahabatan
Perancis-Indonesia dan atau walikota. Bentuk ini pernah digunakan untuk
menyelenggarakan pameran lukisan Salim [99 tahun], pelukis Indonesia yang sejak
usia 17 tahun sudah berada di Perancis. Pameran Salim ini berlangsung selama
seminggu [Laporannya: Lihat majalah: Visual Arts, Jakarta, Edisi April/Mei
2005].
Kecuali itu, pameran-pameran foto dari sahabat-sahabat koperasi dari berbagai
negeri tentang Indonesia sangat sering diselenggarakan. Pameran foto tentang
Amurang oleh Sini Cedercreutz , antroplog dari Finlandia, berhasil mengajak
diplomat-diplomat Filandia menghadirinya.
Pameran-pameran begini, di samping meluaskan hubungan koperasi dengan
berbagai pihak, berdampak balik, mengundang pelanggan bagi restoran. Sekaligus
kesempatan memperkenalkan Indonesia dan kebudayaannya.
Dalam bidang ilmu, bekerjasama dengan CNRS [LIPI Perancis], koperasi pernah
menyelenggarakan ceramah tentang tsunami. Sedangkan yang paling sering adalah
seminar-seminar tentang situasi politik di Indonesia dengan menghadirkan
orang-orang yang langsung datang dari Indonesia, antara lain Gus Dur dan alm.
Munir.
Untuk menghormati Pram, selain dilakukan pemutaran filem, di koperasi
diselenggarakan diskusi tentang Pram dan karya-karyanya. Hadir berbagai pakar
sastra dan wartawan Perancis.
Seminar sehari tentang sastra Indonesia, merupakan kegiatan paling akhir,
bekerjasama dengan Lembaga Persahabatan Perancis-Indonesia, dilangsungkan
Nopember 2006 di Gedung Senat yang terletak hanya 500 meter dari Restoran
Indonesia. Hadir dalam seminar ini selain pakar-pakar Perancis, Belanda, Afrika
Utara juga Ayu Utami dan Seno dari Indonesia, dan Waruno Mahdi, linguis asal
Indonesia yang tinggal di Jerman.
Sekali lagi tentu saja, saya tidak bisa membeberkan semua secara rinci satu
persatu semua kegiatan kebudayaan di mana terdapat tangan koperasi atau yang
diselenggarakan sendiri oleh koperasi. Dengan contoh-contoh di atas yang ingin
saya tunjukkan bahwa pencantuman "pusat kebudayaan" di statuta koperasi
bukanlah asal cantum. Tapi telah menjadi pedoman dalam penyelenggaraan koperasi
berbentuk Restoran Indonesia ini.
Kegiatan ekonomi dan kebudayaan di koperasi ini, akhirnya ternyata saling
topang. Merupakan salah satu cirinya. Pengetahuan ini pun kami dapatkan dari
praktek -- guru yang bestari kalau kita mau menyimpulkannya. ***
Paris, Desember 2006
-----------------------------
JJ.Kusni
Catatan:
* Foto-foto terlampir, memperlihatkan beberapa peragawati yang ambil bagian
dalam defilé 20 April 2006 di Koperasi Fraternité Restoran Indonesia, 12 rue de
Vaugirard, 75006 Paris [Dokumentasi JJK].
---------------------------------
Real people. Real questions. Real answers. Share what you know.
---------------------------------
Real people. Real questions. Real answers. Share what you know.
[Non-text portions of this message have been removed]