Ini sekedar corat-coret saja alias uneg2 pribadi ... meskipun mungkin
content-nya ngga begitu dalam, tapi ya mudah2an bisa sedikit me-refresh alam
pikiran kita :)
Monggo bagi yang mau ngasih comment dll .... maaf klo ada salah2 kata, namanya
juga latihan :)
------------------------------------------------------------------------------
PKB, Tamatkah Riwayatmu?
Sebagai partai yang lahir dari rahim PB NU, idealnya PKB bisa menyatukan
potensi dan sumber daya manusia NU dalam suatu wadah politik tunggal yang baik.
Namun realitasnya, hal ini tidak mudah dilakukan meskipun secara historis NU
sedari awal turut berkiprah dan berpengalaman panjang dalam jagad perpolitikan
bangsa, khususnya setelah menjelma sebagai partai politik sendiri, yaitu Partai
NU (1952 - 1973). Sejarah bangsa pun mencatat, Partai NU waktu itu cukup solid
dan begitu disegani oleh partai-partai lainnya karena kekuatannya yang besar.
Kini, PKB yang dianggap sebagai penjelmaan partai warga NU masih di dera
berbagai masalah. Salah satu masalah terkini adalah terjadinya perpecahan di
kalangan kyai. Hal ini tentunya menjadi problem serius bagi perkembangan PKB ke
depan, karena posisi kyai sangat strategis dan bisa dikatakan sebagai salah
satu pemegang saham terbesar di partai ini. Parahnya, perpecahan tersebut
berujung pada pembentukan partai baru di kalangan warga NU. Bahkan dalam suatu
sumber berita (Rakyat Merdeka Online, 23/11 2006), K.H. Maruf Amin (Rais
Syuriyah PB NU), salah seorang kyai NU yang cukup berpengaruh dan dulu turut
serta dalam pembentukan PKB pada tahun 1998 berpendapat bahwa riwayat PKB kini
sudah tamat. Benarkah?
PKB dan Dinamika Konflik
Sejak kelahirannya pada tanggal 23 Juli 1998, PKB dinilai belum mampu secara
maksimal untuk menjadi rumah politik yang nyaman bagi warga NU. Indikasi ini
bisa terlihat dari realitas internal partai yang selalu terjadi konflik sampai
pada fase pertentangan yang akut, yaitu terjadinya perpecahan. Setelah Matori
Abdul Djalil -mantan Ketua Umum PKB- dipecat dari kepengurusan dan membentuk
Partai Kejayaan Demokrasi (PKD) bersama kader muda PKB, Abdul Khalik Ahmad,
kini di penghujung akhir 2006, sejumlah kyai pendukung PKB pun mengambil sikap
mufaraqah dari PKB dengan membentuk partai baru, yaitu Partai Kebangkitan
Nasional Ulama (PKNU), yang berasaskan Islam berhaluan Ahlus Sunnah Wal
Jamaah.
PKNU ini bisa dikatakan sebagai reinkarnasi dari PKB versi Muktamar Surabaya
pimpinan K.H. Abdurrahman Chudhori dan Drs. H. Choirul Anam. Ini dikarenakan
PKNU lahir dari buah ekspresi akhir pendukung PKB Anam atas gagalnya
pertarungan memperebutkan kepemimpinan PKB yang sah melawan K.H. Abdurrahman
Wahid (Gus Dur) dan Muhaimin Iskandar pasca dikeluarkannya Putusan Kasasi MA
No. 02/K/Parpol/ 2006 tanggal 7 September 2006 dan Surat Menkumham No.
M14-UM.06.08 Tahun 2006 tanggal 11 September 2006.
Sejumlah kyai yang terlibat dalam pembentukan PKNU diantaranya K.H. Abdullah
Faqih (Langitan, Tuban), K.H. Abdurrahman Chudlori (Tegalrejo, Magelang), K.H.
Idris Marzuki (Lirboyo, Kediri), K.H. Nurul Huda Djazuli (Ploso, Kediri), K.H.
Ma'ruf Amin (Jakarta), K.H. Warsun Munawwir (Krapyak, Yogyakarta), K.H.
Muhaiminan Gunardo (Parakan, Temanggung), K.H. Dimyati Rois (Kendal) dan K.H.
Sofyan Miftahul Arifin (Situbondo). Beberapa kyai di atas merupakan kyai khos
NU yang selama ini dikenal sebagai bagian dari Forum Ulama Langitan, yang
dulunya sering menjadi rujukan Gus Dur dalam mengambil berbagai keputusan.
Pada perkembangannya, K.H. Idris Marzuki menyatakan ketidaksetujuannya dengan
nama PKNU karena dianggapnya nama tersebut tidak populis dan susah dicerna oleh
umat di bawah. Pengasuh Ponpes Lirboyo Kediri itu lebih setuju jika nama dari
partai yang baru dibentuk tersebut dengan nama Partai Bintang Sembilan. Istilah
Bintang Sembilan merupakan istilah yang sangat dikenal oleh kalangan NU
karena kata ini merupakan identitas NU. Bahkan istilah tersebut sudah muncul
pada awal pembentukan partai untuk warga NU pada tahun 1998 yang terjadi di
Purwokerto, termasuk juga Partai Kebangkitan Umat (Perkanu) di Cirebon.
Kondisi politik PKB yang kurang kondusif di atas tentu saja bisa
membingungkan konstituen PKB di bawah, khususnya Nahdliyyin yang menjadi basis
utamanya. Apalagi ditambah dengan adanya proses recalling anggota FKB di DPR-RI
dari kubu Anam yang selama ini bersebarangan, yaitu A.S. Hikam, Idham Cholied,
Anas Yahya dan Saleh Abdul Malik. Proses recall ini tentu saja menimbulkan
image negatif terhadap DPP karena terkesan berjiwa otoriter terhadap anggota
yang berbeda pandangan meskipun DPP menilai bahwa hal itu sudah melalui
prosedur administratif dan anggota yang di-recall tersebut tidak berkomitmen
untuk membesarkan partai.
Belakangan ini, muncul wacana menengok rumah lama atau kembali ke PPP dari
tokoh muda PKB, Syaifullah Yusuf (Gus Ipul), yang juga mantan Sekjen PKB Anam.
Gus Ipul memandang bahwa wacana menengok rumah lama ini sebagai salah satu
bentuk solusi untuk keluar dari konflik PKB. Wacana ini pun diikuti dengan
langkah beliau mendekati tokoh-tokoh PPP, seperti HA Thoyfoer MC, tokoh PPP
dari Jawa Tengah, dan KH Maimun Zubair, Ketua MPP DPP. Bahkan, acara halal
bihalal yang diadakan oleh GP Ansor pun mengambil tajuk Semalam Menjadi PPP
dengan mengundang tokoh-tokoh PPP.
Eksistensi PKB ke Depan
Berbagai permasalahan yang selama ini mendera PKB bisa jadi akan membawa
dampak serius jika tidak diselesaikan dengan sungguh-sungguh dan diikuti dengan
kerja nyata sampai ke jaringan PKB di bawah. Tentu saja, dampak serius dari
kondisi di atas adalah kemungkinan merosotnya jumlah suara PKB pada pemilu
2009, seperti yang terjadi pada pemilu 2004, dimana PKB turun sekitar 2% suara
dari pemilu 1999. Terlebih, kini sejumlah kyai basis pendukung PKB di Jawa
Tengah dan Jawa Timur sebagai lumbung suara PKB merapatkan barisan di tubuh
PKNU.
Namun kalau kita menengok pengalaman 2 (dua) kali pemilu pasca reformasi,
keberadaan PKB tetap eksis dan tidak bisa disaingi oleh partai lainnya yang
berbasis Nahdliyyin, bahkan secara keseluruhan dari total suara pemilu, PKB
tetap berada di jajaran 3 (tiga) besar. Beberapa partai politik yang berbasis
massa NU pasca reformasi dan ikut dalam pemilu antara lain PKU-nya K.H. Yusuf
Hasyim, Partai PNUI-nya K.H. Syukron Mamun, Partai SUNI-nya Abu Hasan, PPP dan
PBR. Sebagian dari partai-partai tersebut kini terancam bubar, karena hasil
perolehan suaranya pada pemilu lalu tidak memenuhi ambang batas suara
(electoral treshold) yang ditentukan oleh KPU.
Menurut penulis, hal yang menjadi daya tarik Nahdliyyin untuk tetap memilih
PKB, selain kelahirannya direstui dan difasilitasi oleh PB NU serta
dideklarasikan oleh tokoh-tokoh NU terkemuka (K.H. Ilyas Ruhiyat, K.H. Muchith
Muzadi, K.H. Munasir Ali, K.H. Abdurrahman Wahid dan K.H. Mustofa Bisri) adalah
juga karena adanya putra emas NU dalam tubuh PKB yaitu Gus Dur sendiri, yang
sampai saat ini masih menjabat sebagai Ketua Dewan Syuro PKB. Gus Dur dinilai
oleh sebagian warga NU bukan sekedar tokoh NU semata dengan segudang ilmu dan
pengalaman, namun juga magnet dengan daya tarik yang sangat kuat. Bisa jadi,
hal ini tidak hanya karena sosok beliau dari kalangan darah biru NU, tetapi
juga efek dari lamanya kepemimpinan Gus Dur yang panjang selama 3 (tiga)
periode di tubuh organisasi keagamaan terbesar di tanah air itu (1984 - 1999).
Bahkan tak bisa dipungkiri, kiprah sebagian politisi NU di negeri ini,
khususnya pasca reformasi, tidak terlepas dari peran seorang Gus
Dur.
Kelebihan lainnya, PKB sudah memiliki image yang begitu kuat pada masyarakat
NU sebagai partainya wong NU, khususnya masyarakat pedesaan. Hal ini sesuai
dengan pernyataan salah seorang pengamat politik, Laode Ida bahwa dukungan
massa arus bawah terhadap PKB itu sudah seatle sebagai partai politik yang
besar. Sedangkan pengaruh dari kyai-kyai yang berada di belakang PKNU, Wakil
Ketua DPD ini berpendapat, bahwa pengaruh mereka terhadap keberlangsungan
(akhir) PKB ada ketika para tokoh (kyai) di tingkat lokal solid satu sama lain.
Kalau tidak solid, maka massa akan kembali ke partai yang dipimpin Gus Dur
(PKB).
Secara infrastruktur, PKB juga tidak hanya memiliki jaringan yang kuat di
tanah air, tetapi juga ada di luar negeri, seperti di Mesir, Malaysia dan
lainnya. Apalagi, jatidiri PKB yang bersifat nasionalis relijius berdasarkan
Pancasila, memungkinkan PKB bisa menjaring massa lebih besar lagi, termasuk
dari unsur non-NU dan non-Islam. Hal ini berbeda dengan partai-partai berbasis
Nahdliyyin lainnya yang berasaskan Islam dan terkesan sektarian. Dengan
demikian, kiranya beralasan bahwa tidak ada istilah end of life (tamat riwayat)
pada PKB, bahkan eksistensinya tetap diperhitungkan dalam ranah perpolitikan
bangsa.
*Pemerhati Politik dan Wakil Sekjen Komunitas Muda untuk Indonesia Bangkit
(KOMMIT)
Regards,
[EMAIL PROTECTED]
__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com
[Non-text portions of this message have been removed]