Gumam Kembara 
   
   
  99.  KERETA SALJU
   
   
  hari itu musim salju seluas angkasa
  aku melepaskannya di stasiun utara
  perempuan sragen itu 79 tahun dalam mantel kelabu 
  masih saja menggigil sedangkan kutahu
  di siksa penjara orba ia tegar bertahan 
  tetap hidup maka di sini ia kutemu 
   
   
  gemetar bibirnya mencium keningku mengucapkan selamat berpisah
  matanya sejernih telaga membanjir menggenang rasa tak terucap
  kami  makin jompo saling paham melambaikan tangan. bibir terkatup
  kuikuti keretanya menjauh kian menjauh dengan gelora remaja dahulu
  terasa lalu perjalanan sebagai suatu traktat cinta pada esok 
  tak tergugat panas dingin musim. negeri adalah panji berkibar digenggaman  
   
   
  dingin? ya dingin memang musim dingin kukenal menahun di kembara
  tapi yang kulirik heran adalah mata penuding penuh dendam 
  tak usai-usai dengan dendam dan bayangan sendiri bangkit dari kuburan
  -- menggetarkan mereka lebih dari salju 
  hantu!  ada hantu berbaring memeluk guling dan bantal di ranjang
  ada percikan darah membasahi lantai dan sprei putih dan selimut mereka
   
   
  di akhir tahun seperti ini di tengah gemuruh keretaku ke jenewa
  telpon dari jauh berkabar: di sragen perempuan itu meninggal 
  gagah bagai sediakala. bibirnya terkatup erat seperti pesan 
  juga bagai semula dan di stasiun utara jumpa penghabisan
   
   
  dingin musim 
  dingin kotaku
  dingin duka perjalanan
  hingga ke kursi kereta
   
   
  barangkali akulah memang 
  kereta melaju di rel salju selangit
  stasiun-stasiun mengabur di warna tunggal buram kelabu
  bualan menuba angkasa 
  lagu-lagu mengisi ruang
   
   
  Paris,  Desember 2006.
  ------------------------------
  JJ. Kusni
   

 Send instant messages to your online friends http://asia.messenger.yahoo.com 

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke