Duniaku, Dunia Wayang
Oleh : Mochammad Moealliem
Petruk, Bagong, Nakulo, Semar dan nama-nama tokoh khayalan yang lain, yang
tak pernah penulis paham ketika sang dalang menggerak-gerikkan lempengan kulit
yang dibentuk gambar manusia dari berbagai macam bentuk, sambil berbicara
sendirian sang dalang terus berdialog dengan dirinya sendiri, kadang dia
bersuara lembut dan sopan, kadang juga bersuara lantang dan kasar, kadang dia
juga mengeluarkan kata-kata mutiara, kadang juga membikin humor, dan humor
inilah hal yang sangat mudah difahami oleh semua orang, termasuk saya ikut
tertawa ketika "dagelan" sudah dimulai.
Penulis pernah mendengar, ungkapan dalam bahasa arab, "fatruk ma bagho nala
samirina, " hampir mirip dengan tokoh wayang yang saya sebut diatas, petruk,
bagong, nakulo, dan semar. Ketika hal itu diterjemahkan menjadi "tinggalkan
sesuatu yang durhaka maka engkau akan mendapatkan kawan yang baik". Secara
pasti penulis kurang tahu tentang wayang dan sejarah munculnya, namun
setidaknya penulis mengenal beberapa tokoh wayang, Petruk misalnya, dalam masa
awal saya belajar bahasa arab, ada gambar petruk, hidungnya panjang tapi tidak
terus memanjang seperti hidung pinokio, lencir kuru, rambutnya seperti antena
radio. Juga semar orangnya gede, wajahnya menghadap keatas namun tangannya
menunjuk-nunjuk tanah, dan tangan yang satunya ditaruh diatas punggung, cara
berjalannya agak jongkok seperti ibu-ibu jawa yang sedang menyapu halaman
rumahnya.
Permulaan pementasan wayang dimulai dengan gunung yang berterbangan begitu
pula penutupannya, hampir mirip dengan konsep awal alam semesta yang terjadi
setelah ledakan besar, terkenal dengan big bang, menurut para ahli sains, yang
pada akhirnya mengakui bahwa alam raya benar-benar diciptakan oleh Allah tuhan
semesta alam. Begitu pula nanti penutupan alam semesta gunung-gunung pun
berterbangan "Dan gunung-gunung adalah seperti bulu yang dihambur-hamburkan" QS
: Al Qoriah (101) : 5.
Layar wayang terdiri dari dua sisi, kanan dan kiri, setiap sisi akan diisi
oleh wayang yang besar sampai kecil, semuanya adalah mati dan tak berguna
sebelum sang dalang menggerakkannya, serta mengisi suara untuk wayang itu
hingga seolah wayang itu itu hidup dan bisa berbicara, setiap rupa wayang konon
merupakan bentuk cerminan manusia, dan setiap wayang punya sifat
sendiri-sendiri, serta sikap sendiri-sendiri, ada yang baik ada juga yang jahat
jumlah dua kubu itu seimbang, namun yang akan berperang dimedan laga hanyalah
wayang-wayang pilihan yang telah dipilih oleh sang dalang dan ditaruh dikotak
yang dekat dengan dalang.
Setiap wayang yang perang punya senjata khusus, baik dipihak yang benar
maupun pihak yang salah, mereka sama-sama punya aji-aji, sama-sama punya
pendukung, namun keputusan siapakah yang menjadi pemenang itu hak sang dalang.
Jika anda jadi penonton sinetron biasanya anda dikerjai sama sutradara,
biasanya ada tokoh yang sangat menjengkelkan dan nggak mati-mati, begitu pula
sang dalang, sudah tahu wayang yang jahat namun kok nggak kalah-kalah, jadi
teringat sejarah abu lahab yang jahat terhadap nabi Muhammad, kok nggak
mati-mati, eh ternyata hidup dan mati ada ditangan sang dalang.
Pernahkah anda menjumpai dalang yang ngantuk? Tentu tidak, sepanjang malam
itu dalang tidak akan ngantuk, tidak akan lelah bicara sendiri, tidak akan
lelah bermain wayang dan mengisi suara-suaranya, bahkan suara perempuan, apa
yang terjadi ketika dalang tiba-tiba pengen ketoilet, bisa jadi wayangnya
kocar-kacir. Begitu pula Allah yang mengatur alam raya ini tak pernah ngantuk,
yang maha kuat dan tak akan pernah lelah, yang tak akan lelah mementaskan
kehidupan ini sampai kapan saja Dia mau.
Dalang dalam perwayangan hanya bisa menggerakan dua wayang dan bicaranya
bergantian tak akan bersamaan. Dalang dalam perfileman bisa menggerakkan
ratusan bahkan ribuan orang dengan suaranya masing-masing dan bisa berbicara
secara bersamaan. Dalang dalang pemerintahan bisa menggerakkan jutaan mahluk
hidup bahkan bisa menggerakan ekonomi, Dalang dalam kehidupan dapat
menggerakkan segala alam raya, manusia, hewan, serta mengisi suara mereka
secara bersamaan, menggerakkan mereka, Dialah Allah dalang dari segala sesuatu.
Pernahkah wayang merasa dirinya digerakkan sang dalang? Tahukah anda kenapa
bumi tidak berapa diposisi merkurius? Atau menggantikan posisi pluto yang kini
diusir dari planet galaksi bima sakti? Jika bumi dipindah diposisi merkurius
tentu akan menjadi lava pijar karena terlalu dekat dengan matahari, yang tak
akan bisa di huni oleh segala macam makhluk hidup, begitu pula jika dipindah
diposisi pluto tentu akan beku.
Kita ibarat wayang yang berjajar rapi didua sisi layar pewayangan yang akan
bergerak dan kembali diam sesuai keinginan sang dalang, namun kita bukanlah
wayang kulit, kita adalah wayang peradaban, kita dibekali akal pikiran agar
tidak seperti wayang kulit yang digerakkan manusia dalang. Dalang kita adalah
Maha Dalang, dan kita menjadi maha wayang, jika manusia-dalang hanya mampu
menjadi dalang semalam suntuk, namun Allah menjadi dalang sepanjang masa. Jika
wayang kulit bisa berfikir tentu akan ikut membaca tulisan saya ini he he he.
Ingatlah bahwa wayang tak akan mampu melawan dalang, sebesar apapun bentuk
wayang, atau sekuat apapun gatotkaca, begitu pula aktor tak akan mampu melawan
sutradara, bahkan melanggar aturan sutradara bisa kena sangsi dan tidak diberi
gaji, begitu pula melawan Allah bisa mendapat sangsi abadi. Marilah kita
berbuat baik yang sepenuhnya, jangan hanya untuk memburu nafsu duniawi semata.
Bukankah Allah sang maha sutradara sangat adil, kaya dan bijaksana, jika kita
ikuti aturannya tentunya Dia menepati janjinya.
Alliem,
Sabtu, 23 Desember 2006
Berusaha menjadi wayang yang dekat dengan dalang
----====o0o===----
Kunjungi
http://www.muallim.tk
Kritikmu harapanku
Ngobrol bareng aku, silahkan gabung di
http://tech.groups.yahoo.com/group/kang_guru/
Bersama menuju bahagia
__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com
[Non-text portions of this message have been removed]