Assalaamu'alaikum Wr. Wb.

Tahun baru Hijriah merupakan salah satu hari istimewa bagi Ummat Islam. Di 
tanah air dan di berbagai belahan Nusantara bahkan di seluruh dunia Islam 
dipanjatkan puji syukur, permohonan ampun, ditambah doa harapan di tahun 
baru. Sementara di beberapa tempat, sekelompok manusia tak henti-hentinya 
berhujjah ini bid'ah, itu bid'ah terhadap ummat Islam yang sedang berdoa 
ini. Untuk itu marilah kita kaji sejenak, benarkah hujjah segelintir manusia 
ini dalam mengganggu kekhusyuan ibadah yang dituduhnya dlalalah (sesat) dan 
masuk neraka itu.

Adakah seluruh kaum muslimin di dunia tadi telah bersatu dalam kesesatan dan 
ramai-ramai masuk neraka? ataukah jangan-jangan yang sibuk menuduh kafir itu 
yang dijanjikan Rasulullah SAW bakal terkafirkan oleh ucapannya sendiri? 
pertanyaan-pertanyaan yang tidak perlu dijawab ini, mari kita kesampingkan 
saja. Yang perlu diketahui adalah apakah ada basis argumentasi bagi amalan 
tersebut. Sebab bagi yang tidak mengetahuinya akan mudah sekali menuduh ini 
dan menuduh itu.

Beredarnya masa selama satu tahun yang terdapat 12 bulan didalamnya ini 
adalah salah satu kekuasaan Allah SWT. Dan pada saat berakhirnya tahun 
tersebut, sudah selayaknya kita memuji keagaunganNya dengan segala pujian 
dan permohonan ampun. Sebagai hamba yang hanya bisa bermohon, sudah 
sepatutnya pula awal tahun ini kita buka dengan bermohon keberhasilan dan 
kesuksesan segala urusan dunia dan akhirat, agar di tahun yang akan datang 
senantiasa dipenuhi rahamt dan maghfirah.

Bid'ah dlalalah (yang sering dikatakan oleh mereka secara mutlak semuanya 
sesat dan ke neraka) adalah mengadakan sesuatu yang baru yang tidak ada 
alasannya langsung kepada ajaran Islam. Bagi mereka, bid'ah ini hanya 
berdefinisi sebagai segala yang tidak pernah dikerjakan Rasulullah SAW. 
Sangkaan ini sungguh sangat dhalalah pula, menyesatkan orang yg tidak tahu 
dan merusak keyakin orang yang ragu. Sebab banyak sekali tindakan yang tidak 
ada riwayatnya, tapi sangat dibutuhkan untuk dikerjakan. Sayyidina Usman 
telah mengawali mengkompilasi mushaf AlQuran dan mengadakan Adzan Jumat 2 
kali. Sayyidina Umar telah memulai pengaturan shalat Tarawih secara 
berjamaah. Itulah sebabnya Imam Syafi'i menyebut amalan ini sebagai bid'ah 
hasanah, bahkan Imam Nawawi mendefinisikannya hinggal 5 level. Untuk ini 
kita menjadi faham, bahwa amalan baru yang tidak ada alasan hukumnya kepada 
Alquran maupun Hadits itulah yang berujung kepada Dlalalah (sesat). Saat 
inipun internet sudah merambah berbagai lini, sehingga pengajianpun dapat 
dilangsungkan dengan teleconference. Membaca kitab para ulama'pun dapat 
melalui monitor. Bahkan lantunan AlQuranpun (jelas ibadah) dapat dinikmati 
melalui media audio visual. Semua ini belum pernah diamalkan pada jaman 
dahulu.

Sekarang kita masuk ke topik, yakni doa tertentu pada masa tertentu yang 
gemar dituduhkan sebagai amalan bid'ah. Perlu diketahui, kita sudah terbiasa 
memuji Allah karena melihat tanda kebesaranNya, berterima kasih kepadaNya 
karena segala nikmatNya. Kalaulah dikatakan, itu semua harus persis 100% 
dengan petunjuk Allah dan tidak semata-mata mengikuti akal, maka perlu 
diketahui bahwa kita bersyukur ini tidak semata-mata mengikuti akal, namun 
kita mengikuti perintah Allah SWT dan Rasulullah SAW. Bukankah berdoa itu 
saja sudah ibadah, bukankan berdzikir itu juga jelas ibadah. Kita tidak 
merayakannya dengan pesta kembang api atau pentas drama dan konser, namun 
dengan sesuatu doa. "Ud'uni astajiblakum", demikian firman Allah "berdoalah 
kepadaKu, Aku akan kabulkan", hak Allah SWT untuk mengabulkan. Soal doa kita 
bakal menghapus dosa setahun atau tidak, itu hak prerogratifNya. Soal 
setahun kedepan nanti bakal didampingi malaikat atau tidak, itu juga 
kehendak Allah SWT. Bahkan kita juga tidak tahu, apa yang akan ditimpakan 
Allah SWT terhadap orang yang rajin menteror hambaNya yang berusaha 
mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Maasyiral Muslimin Rahimakumullah.

Dalil berikutnya adalah AlQuran dan hadits yang sudah sangat banyak 
memerintahkan ummat Islam, selalu minta ampun dan berdoa, kapan saja dan 
dimana saja. Tak terbatas hanya saat akan makan, mulai belajar, atau 
menjelang tidur. Bahkan di saat apapun. Dan bukanlah kewajiban untuk selalu 
berdoa terus menerus dengan teks persis AlQuran dan hadits, walaupun jelas 
ada fadlihah khusus untuk itu. Akan tetapi berdoa lumrah saja disesuaikan 
dengan apa yang sedang dimohonkannya. Ingin lulus ujian, ingin naik pangkat, 
ingin melamar gadis, atau yang lain, tentu doanya juga akan menyesuaikan 
dengan keinginan itu.

Faktor yang lain lagi adalah kemaslahatan suatu amalan. Saat manusia sedang 
bergembira ria menyambut tahun yang baru yang mungkin dirayakan dengan 
kemaksiatan, betapa maslahahnya bila dialihkan dengan mengajak ibadah.

Kadang juga seseorang suka bermain dalil dengan melarang orang berdoa 
kecuali dengan bilangan, jenis bacaan, hari, dan tempat yang 100% persis 
dengan Rasulullah. Bila meleset satu saja, sudah diklasifikasi sebagai Bidah 
Dlalalah, dan masuk neraka. Dalam menentukan hukum agama, marilah membuang 
jauh-jauh hawa nafsu, dendam kesumat pribadi, dan akal semata. Rasulullah, 
para shahabat, termasuk para ulama terdahulu tidak pernah membuat aturan 
seaneh ini. Bila ada yang shalat shubuh 3 rakaat karena berharap pahala 
lebih, maka layaklah itu kita golongkan sebagai mengada-ada. Adapun berdoa 
pada saat yang tidak pernah diriwayatkan wajib berdoa saat itu, tidaklah ada 
hukum dosa, karena Rasulullah SAW senantiasa berdoa dan berdzikir kepada 
Allah SWT kapan saja, bahkan di saat mata beliau terpejampun.

Disamping itu, perintah berdoa dan berdzikir tidakah mewajibkan kekhususan 
waktu dan tempat. Tidak ada salahnya bila kita ingin baca AlQuran selepas 
Maghrib. Tidak ada salahnya pula kita bershalawat tiap hari Minggu atau 
Senin, walaupun tidak ada riwayat khusus tentang itu. Kalau sudah begini, 
tidak ada salahnya pula kita mengkhususkan diri berdzikir saat hadirnya 
tahun yang baru, dimana akan dimulainya hitungan 12 bulan, salah satu 
kekuasaan Allah SWT. Sebuah ungkapan rasa syukur dan harap atas kemurahan 
Allah SWT

Walhasil, doa di akhir tahun maupun di awal tahun ini adalah salah satu 
bentuk pendekatan diri kepada Allah SWT. Dan berdoa disana bukanlah 
kewajiban, sehingga tanpa melakukannyapun tidaklah berdosa. Namun bila ingin 
kita ungkapkan rasa syukur dan harap itu, marilah berdoa, semoga di tahun 
yang lampau, segala dosa kita diampuni Allah SWT. Dan di tahun yang baru 
nanti, kita selalu dilindungi dan senantiasa menjadi hamba Allah yang 
bertaqwa.

Ada baiknya kita baca hadits Rasulullah SAW

‏مَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً حَسَنَةً فَعُمِلَ بِهَا بَعْدَهُ كُتِبَ 
لَهُ مِثْلُ أَجْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا وَلَا يَنْقُصُ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْءٌ 
وَمَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً سَيِّئَةً فَعُمِلَ بِهَا بَعْدَهُ 
كُتِبَ عَلَيْهِ مِثْلُ وِزْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا وَلَا يَنْقُصُ مِنْ 
أَوْزَارِهِمْ شَيْءٌ

Artinya: "Barangsiapa yang membuat sunnatan hasanatan (contoh yang baik) 
dalam Islam, maka ia mendapatkan pahalanya dan pahala orang yang mengamalkan 
setelahnya, tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun. Barangsiapa yang 
memberikan contoh jelek dalam Islam, maka ia mendapat dosanya dan dosa orang 
yang mengamalkan setelahnya, tanpa mengurangi dosa-dosa mereka" (HR. 
Muslim).
Hadits ini mendorong untuk selalu memulai dalam kebaikan, memberikan tradisi 
dan contoh, dan mengajak kepada kebaikan, melarang memulai kebatilan dan hal 
yang tidak baik.

Wassalam
Agus Zainal Arifin

* Warga NU Nihon
* Hiroshima University, Japan. 

Kirim email ke