http://www.indopos.co.id/index.php?act=detail_c&id=267743 Melecut Pesantren Lepas dari Feodal
Oleh M. Mas'ud Adnan * "Silakan bicara (kritik) apa saja di sini, asal jangan membakar pondok," kata KH M. Yusuf Hasyim (Pak Ud) kepada ribuan santri Tebuireng. Pidato itu disampaikan Pak Ud pada 1980-an, ketika Orde Baru di bawah Soeharto masih gagah perkasa. Saat itu, jangankan mengkritik pemerintah, beda pendapat saja dituding subversif. Uniknya, Pak Ud malah ngajangi santri untuk berani bicara, termasuk mengkritik Pak Ud sendiri selaku pengasuh pesantren. Konsekuensinya, pidato-pidato santri sangat kritis, baik kepada pemerintah maupun Pak Ud. Tapi, Pak Ud tenang-tenang saja. Bahkan, kadang Pak Ud mengintip santri yang pidato vokal dari balik jendela ndalem. Besoknya, si santri dipanggil, diberi buku atau informasi aktual, terutama terkait isu nasional. Kontroversial Dalam perspektif budaya pesantren, pidato Pak Ud itu memang kontroversial. Jamak diketahui bahwa hubungan santri-kiai cenderung bersifat patron-klien. Tapi, Pak Ud justru bersikap sebaliknya. Dia berusaha mengajari santri berpikir kritis, demokratis dan -ini yang penting- tidak disandra budaya feodal. Hasilnya memang luar biasa. Selain memiliki keterampilan organisasi dan memimpin, rata-rata alumni Pesantren Tebuireng berwawasan luas dan rasional, tanpa harus kehilangan jati diri selaku santri dengan basis budaya tradisional. Bahkan, beberapa santri yang kemudian belajar di Amerika Serikat, Mesir, Saudi Arabia, dan negara-negara lain tetap committed terhadap basis budaya tradisional pesantren. Artinya, di tengah era globalisasi, mereka mampu merespons tantangan perubahan sesuai dengan kapasitas, bidang, dan profesi masing-masing, namun tetap berdiri kukuh dalam bingkai budaya pesantren. Sikap Pak Ud itu, tampaknya, sesuai dengan pandangan KH Abdul Wahid Hasyim, ayah Gus Dur, yang menjadi pengasuh kedua Pesantren Tebuireng, pasca Hadratussyaikh Hasyim Asy'ari selaku pendiri. Menurut Kiai Wahid, tak semua santri yang mondok di Tebuireing berorientasi jadi kiai. Memang mereka semua ingin mempelajari agama. Namun, cita-cita mereka belum tentu ingin jadi kiai. Artinya, cita-cita mereka beragam. Ada yang ingin jadi pengusaha, ulama, jaksa, hakim, wartawan, politisi, menteri, presiden, dan sebagainya. Karena itu, mereka tak hanya dididik agama, tapi perlu bekal ilmu pengetahuan yang kuat dan luas. Nah, untuk membuka cakrawala pemikiran santri itu, mereka perlu dirangsang dengan iklim dialogis, rasional, kritis, dan demokratis, tidak menabukan kritik dan beda pendapat, termasuk dengan kiainya. Karena itu, ketika kiai-kiai di lingkungan pesantren masih pro-kontra soal kehadiran pelajaran umum, pada 1975 Pak Ud sudah berani mendirikan SMP dan SMA di Tebuireng dengan siswa putra-putri tanpa sekat. Kritik pun meledak dengan dahsyat, termasuk dari kiai-kiai di lingkungan Tebuireng. Bertahun-tahun Pak Ud mendapat kritik keras. Namun, Pak Ud yang dikenal teguh pendirian pantang menyerah. Kini SMP-SMA Wahid Hasyim itu menjadi salah satu sekolah terbaik di Jombang. Bahkan, pada 1967 Pak Ud mendirikan Universitas Hasyim Asy'ari yang terbuka bagi mahasiswa putra-putri. Padahal, saat itu belajar satu ruangan bagi mahasiswa-mahasiswi di lingkungan pesantren sangat tabu. Tapi, Pak Ud punya alasan kuat. Menurut dia, kalau kita konsisten dengan pemisahan laki-perempuan, jangan hanya di ruangan belajar. Tapi, di bus-bus dan transportasi lain, penumpang laki-perempuan juga harus dipisah. Lalu berapa kita harus menyediakan bus untuk kepentingan itu. Belum lagi jika ditinjau dari segi efektivitas dan dananya. Yang penting, bagaimana menata hati dan moralitas mahasiswa-mahasiswi agar tak punya niat melanggar syariat agama. Sebab, begitu keluar dari pesantren, mereka juga dihadapkan pada realitas masyarakat yang tanpa sekat pemisah antara laki-laki dan perempuan. Keluar dari Ndalem Karakter kekiaian Pak Ud sangat kuat. Maklum, Pak Ud adalah putra ulama besar, yaitu Hadratussyaikh Hasyim Asy'ari, pendiri NU yang juga dikenal sebagai pahlawan nasional. Namun, karakter kekiaian Pak Ud tak pernah ditunjukkan dalam simbol-simbol artifisial. Sebaliknya, dimanifestasikan dalam integritas moral dan perilaku sehari-hari. Selain dikenal sebagai kiai bersih, secara moral Pak Ud juga sangat bersahaya. Buktinya, meski Pak Ud dikenal sebagai tokoh nasional dan pernah menjadi anggota DPR, ndalem yang ditempati di Tebuireng jauh dari kesan mewah. Bahkan, cat dan kondisi rumahnya sudah kusam. Yang mengenaskan, tempat tidur Pak Ud jauh dari layak. Berpuluh-puluh tahun Pak Ud tidur di kamar pengap dengan tempat tidur seadanya. Sedemikian tak layak sampai beberapa santri dan alumni terheran-heran. "Kamar Pak Ud masih lebih baik kamar santri," kata seorang alumni. Pada 2006 Pak Ud menyerahkan kepemimpinan Tebuireng kepada KH Salahuddin Wahid (Gus Solah). Yang menarik, Pak Ud langsung keluar dari ndalem yang selama ini ditempati. "Saya sudah tak berhak tinggal di sini," katanya. Keruan saja para alumni yang diundang untuk bahas suksesi itu tertegun. Saya coba menyela, "Kiai, ini kan bukan suksesi pejabat pemerintah sehingga kiai harus keluar dari ndalem." Tapi, sikap Pak Ud bulat, tak mau menempati rumah yang bukan haknya. Sejak itu, Pak Ud tinggal di kediaman pribadinya. Kini Pak Ud telah menghadap sang khalik. Semoga Allah SWT membalas semua amal perjuangannya yang tanpa kenal lelah membela hak-hak rakyat dan agama. Kita berharap semoga para santri, alumni, bahkan masyarakat luas bisa meneladani dan meneruskan perjuangannya. Amin. * M Mas'ud Adnan, alumnus Pesantren Tebuireng, kini direktur utama Harian Bangsa, Surabaya [Non-text portions of this message have been removed]
