Kongkow Bareng Gus Dur. Perubahan Arti Istilah Umat
Islam 

Menurut Gus Dur istilah umat Islam mengalami banyak
perubahan dari waktu ke waktu.

Rubrik ini adalah hasil Kongkow bersama Gus Dur atau
Abdurrahman Wahid di Kedai Tempo yang disiarkan
langsung oleh Radio 68H di Jalan Utan Kayu Jakarta
Pusat. Acara yang sudah berlangsung sejak November
2005 ini disiarkan pula oleh 60 stasiun radio lain di
seluruh Indonesia. 

Biasanya dialog dibuka dengan pembacaan satu bait kata
mutiara dalam kitab Al-Hikam, Berbagai Hikmah, yang
dikarang oleh Syeikh Ibn Ata’illah al-Sakandari
(709H/1309H). Berbagai topik dibincangkan, dari agama
sampai politik. Tak lupa guyon-guyon Gus Dur turut
mewarnai dialog yang berlangsung dua jam, satu jam
on-air dan satu jam lagi off-air. 

Pagi itu, pukul 10.00, Gus Dur sudah siap didampingi
oleh Muhamad Guntur Romli, alumni Universitas Al-Azhar
Kairo Mesir, sebagai pembawa acara. Di studio ada Alif
Imam, penyiar 68H memandu jalannnya acara. 

Guntur. Assalamu’alaikum. Hari ini saya ucapkan
selamat tahun baru Islam. Pada pagi ini sebetulnya Gus
Dur membuat tulisan untuk kita yang akan didiskusikan
tentang perubahan istilah umat Islam. Dan pagi hari
ini juga ada teman-teman dari Sulawesi Utara tepatnya
Kota Minahasa Utara dan Kota Bitung yang pada saat ini
sedang melakukan advokasi atau semacam lobby pada
pemerintah bahwa ada perusahaan tambang emas di sana 
yang bermasalah dengan masyarakat dan juga hukum. 

Kita ucapkan salam dulu ya pada teman kita dari
Sulawesi Utara. Dan seperti biasa kita akan
mendengarkan satu bait dari Kitab Al-Hikam. “Susunan
kalimat merupakan sajian daripada pendengarnya.
Bukanlah bagi kamu kecuali kamu dapat menyantapnya.” 

Gus Dur. Beberapa hal memang untuk didialogkan dan
disajikan. Kajian bagi kita untuk digunakan
membuktikan kebesaran Allah. Itu hanya alat untuk
menunjukan kedudukan kita di hadapan Allah, tidak
lebih dan tidak kurang. 

Sydney Jones, seorang pengamat peneliti dari Amerika
Serikat pada tahun 1970-an menulis dalam majalah
Indonesia milik Universitas Cornell di New York. Dalam
artikel itu Jones menulis bahwa Kata umat Islam itu
berbeda-beda artinya dalam setiap zaman, 300 abad
lamanya”. 

Sekitar tahun 1970-an arti pertama umat Islam itu
ialah semua orang yang beragama Islam. Kemudian karena
ada yang berpartai politik muncul istilah umat Islam
sebagai kelompok islam. Lalu dipakai lagi untuk setiap
orang yang beragama Islam walaupun dia anggota dari
partai berbeda. 

Sekarang ini, istilah umat Islam dipakai untuk semua
orang. Tidak peduli dia anggota partai atau tidak,
yang penting beragama Islam. Itu intinya dari kata
berubah-ubah dari kata umat Islam.

Kemudian, sekitar tahun 1920-an, di bawah pengaruh KH
Umar Said Cokroaminoto, dan KH Muhammad Hasyim
Asy’ari, pengertian umat itu diciutkan lagi menjadi
anggota organisasi Islam. Sementara yang lain disebut
nasionalis dan seterusnya.
Selanjutnya klik:
http://www.syirah.com/syirah_ol/online_detail.php?id_kategori_isi=420




 
____________________________________________________________________________________
Sucker-punch spam with award-winning protection. 
Try the free Yahoo! Mail Beta.
http://advision.webevents.yahoo.com/mailbeta/features_spam.html

Kirim email ke