Air Api dan Secangkir Kopi Panas

Apa mauku apa maumu 
Slalu saja menjadi 
Satu masalah yang tak kunjung henti 
............ .......

Di sebuah negeri yang sudah renta dan jenuh dengan
intrik, saling nyikut, dan nafsu menguasai..
Tersebutlah dua makhluk yang sama-sama memiliki kuasa.
Memiliki pengaruh dan massa. Tetapi sifatnya beda,
yang satu sukanya manut, nurut keadaan. Di taruh di
kamar manut, bentuknya ikut. Dituang di gelas, ikut
juga. Dan rasanya seger kalau lewat tenggorokan yang
lagi dahaga. Namanya Air Satu lagi,
agak sedikit mbalelo, tapi sebenarnya baik. Kalau
ditaruh di dalam lemari, malah melumat. Dituang di
gelas nggak mau. Lari malah. Tapi kalau lagi hujan
nggak brenti-brenti gini, saya jadi kangen
keberadaannya. Dia suka ngangetin. Ya, dia itu
Api.

--oOo-

Pas lagi leyeh-leyeh nonton berita di tivi, mereka
berdua, si air dan si api, ngobrol renyah. Apalagi
yang diomongin, kalau bukan tentang kekuasaan,
kesuksesan karena telah tercipta -otomatis-jadi
makhluk yang berkuasa.

Air : (sambil ngikuti perkembangan Adam Air dan KM
Senopati yang klelep Tak
pikir-pikir, aku ini memang ditakdirkan jadi makhluk
yang hebat banget ya? Tuhan itu nyiptain aku dengan
kelewat leluwih. Kalau lagi pingin bersahabat, aku
bisa masuk ke dalam kendi, menjelma jadi penawar
dahaga yang hebat. Uadem dan seger! Tapi kalau ada
yang macem-macem, ya itu, bakal tak gulung habis. Aku
tenggelamkan. Apapun di muka bumi ini bisa aku sikat
sekali kerja. Sudah banyak buktinya. Termasuk banjir
yang barusan membenam ibukota.
Kowe juga. Api mana yang nggak mati kesesep,
tinggal asap thok kalau kusentuh. Termasuk
manusia-manusia yang kebakar jilatan neraka
jahanam bakal ilang panasnya kalau diguyur,
dimandiin pake telaga Kautsar  Telaga
itu kan juga anak buahku.

Api jadi panas diremehin begitu. Dasarnya juga memang
sudah panas. Tambah emosi dia.
Api : Lah..lah..lah, kok nyimut. Mau menangnya
sendiri. Mbok ya mikir, saya gitu itu karena mau
ngalah selama ini. Kalau ada pesawat kebakar trus
padam begitu masuk laut, itu sih karena aku kalah
massa aja. Pasukanku kalah banyak. Lautan yang
sebegitu luasnya, apa nggak bakal ngilang juga, kalau
shift jaga saya diperpanjang 24 jam sehari, kalo Gusti
Allah nggak kasih malam. Malam hari, Dia nyuruh saya
rehat, buat ibadah. Coba kalo enggak, saya sih oke-oke
aja manasin kamu sepanjang hari. Dasar!
Api bener-bener emosi, kepancing sama umpan. Pingin
rasanya ngasih bogem mateng ke hidung sosok di
depannya.

Ye.. gitu aja kok sewot. Emang buktinya selama
ini, manusia lebih mudah berkawan denganku dari pada
sama kamu kan? Air masih juga mancing-mancing.
Wis nggak usah ngomong thok! Api
semakin memanas. Emosinya sudah di ubun-ubun. Dia
berdiri dan berkacak pinggang. Ayo
dibuktikan!Tantangnya.

Tok..tok..tok. .! pintu depan diketok-ketok.
Waa.. Sett..!; teriak mereka tertahan
berbarengan. Keduanya spontan pelukan. Setan
bukan ya? Api yang nggak begitu nyadar--setan
juga diciptakan dari bangsanya-- jadi gemeter.
Jangan- jangan iya. Hujan-hujan begini,
Air juga nggak kalah bloon-nya, hujan malah jadi
alasan.
--oOo-

Hujan memang belum menunjukkan tanda mau pamit, sejak
siang tadi. Mereka berdua -tokoh-tokoh kita tadi-masih
sibuk dengan pikirannya masing-masing. Padahal di
depan pintu ada yang lagi kedinginan. Pingin masuk.
Singkat cerita, muncul tokoh ketiga dalam cerita ini.
Kopi Panas, Secangkir Cumaan.
subyektif-nya yang nulis sebagai penggemar kopi.
Nikmat memang nyruput kopi saat stuck on
mind; buat nulis. Kopi itu teman setia, seperti
di cerita ini.

Kopi : (sambil ngelus-ngelus dagunya, yang sebenernya
sama sekali tandus) Hmm.. iya iya saya ngerti.
Wajar-wajar. . kalau lagi berkuasa, kecenderungannya
memang begini. Kayak kalian ini-lah. Teori Konflik
Makro, hehe..Tapi gini deh men. Saya tahu, semuanya
juga tahu, kalian berdua ini sama-sama besar, punya
massa dan kuasa.
Air dan Api menyimak.
Coba kalau sekarang Kopi melanjutkan,
Kita pandang dari asas manfaat adanya kalian
ini. Bukannya dulu kalian juga pernah nyantri? Gusti
Rasul kan pernah ngingetin, Kalau adanya kita
di dunia ini nggak ada manfaatnya.. mati jadi lebih
baik kan?

Kopi lantas nyetel winamp, dengerin Semesta
Bertasbih nya Opick. Biar tenang,
katanya.
Wis sekarang minum dulu biar adem, dan bisa
mikir jernih Jelas aja Api emoh.
Iya.. iya saya sudah nggak emosi kok. Nggak
perlu minum deh! tolaknya, masih ketus.
Nah, maksudku gini lho. Coba kalian lihat aku.
Adanya aku ini kan berkat kalian, kalau mau rukun dan
kerja sama. Air dipanasin pake api, trus dicampur kopi
plus gula, jadilah aku. Nikmat kan?
Sekarang kan bisa pake heater? Air
nyletuk tiba-tiba.
Iya, bisa pake pemanas memang, tetapi jangan
dilupa, substansi api masih ada di sana. Ojo sok
menang sendiri. Kalau nanti ada secangkir kopi panas
tanpa pakai air piye? Who knows coba, wong
teknologinya berkembang. Kopi jadi membela
diri, tapi masuk akal juga sih, bukan untuk zaman ini,
pasti. 
Sebenernya daripada gelutan terus begini, apa
nggak lebih baik kalian ini akur, dan kerjasama
gitu? 
Wis jangan ribut terus! Yang nulis juga nih,
ngerti nggak?

Eh kok jadi dia nyaut-nyaut saya? Suka-suka dong,
wong saya yang nulis!

--oOo-

Tak pikir-pikir lagi memang iya, perbedaan kok selalu
bisa jadi pemicu konflik. Apalagi kalau
masing-masingnya sudah punya massa, wah..wah..
manusia, tanpa prestasi apapun pada dirinya, cenderung
nggak pe-de, dan pe-de itu akan diperolehnya dengan
ber-komunitas, nyari status. Sehingga sebenernya pe-de
itu semu, pe-de itu hanya pengaruh psikologi massa.
Contoh yang pualing gampang tu pas lagi demo. Mustahil
banget saya berani maju dengan tubuh semungil ini.
Tetapi kemudian saya jadi sangat berenergi saat ada
massa. Dan kalau massa itu emosi, entah mengapa, tanpa
sadar saya juga ikutan marah. 
Lha terus kalau saya sudah cukup pe-de dengan
ber-sendiri, dengan punya prinsip dan keyakinan
sendiri, pas ketemu komunitas lain yang beda, apalagi
yang terjadi kalau bukan kemudian methungul konflik
dalam diri. Berusaha pasang tameng. Parahnya lagi,
kalau ternyata saya juga punya massa. 
Tapi kalau ngutip katanya Schelling.Konflik,
kompetisi, dan kerjasama (cooperation) pada dasarnya
saling berkaitan, konflik terjadi manakala tujuan,
kebutuhan, dan nilai-nilai kelompok-kelompok yang
bersaing bertabrakan dan akibatnya terjadilah agresi,
walaupun belum tentu berbentuk kekerasan
(Schelling 1960). Konflik dan kerja sama itu
saling berkaitan, masak sih?

Saya pernah dikit buka-buka dan baca artikelnya El
Fatih A. Abdel Salam, Associate Professor, Department
of Political Sciences dari International Islamic Univ,
Malaysia.
Sebenernya jujur, nggak begitu mudeng dengan
tulisannya, berat. Tapi rasanya kok nyambung dengan
ini, maka saya kutip dikit deh!

Semoga lah apa yang jadi harapannya Secangkir
Kopi Panas; tadi bener-bener bisa saya penuhi.
Beda, trus ngerasa asing, lalu jadi defend (cenderung
bertahan). Keterusan lagi, jadi timbul konflik? Yah..
moga saya masih bisa nganggep itu wajar-wajar aja.
Hingga kemudian saya bisa memahami pesannya Hermawan
Kartajaya: daripada berkompetisi, kerjasama
lebih menguntungkan. Atau bisa mengarifi
tulisan Schelling juga:Dalam setiap kompetisi
dan konflik, selalu ada unsur-unsur kerjasama
Pas kuliah, dari pada saingan apik-apikan nilai,
mendingan contekan bareng, hehe.. inget masa lalu.
Hmm..

Terimakasih setulus-tulusnya saya haturkan buat
teman-teman yang baca tulisan ini. Namanya masih
amatir, jadi
sepunten bila bahasanya muter-muter nggak karuan,
hihi.. Harapan saya dan semua, semoga apa yang kita
inginkan dan cita-citakan, tak hanya menjadi
semoga- semoga yang tak kunjung ada
hasilnya.



                
___________________________________________________________ 
What kind of emailer are you? Find out today - get a free analysis of your 
email personality. Take the quiz at the Yahoo! Mail Championship. 
http://uk.rd.yahoo.com/evt=44106/*http://mail.yahoo.net/uk 

Kirim email ke