--- Pramadityo Tjondronegoro <[EMAIL PROTECTED]>
schrieb:
> An: [EMAIL PROTECTED]
> Von: Pramadityo Tjondronegoro <[EMAIL PROTECTED]>
> Datum: Fri, 9 Feb 2007 00:19:19 -0800 (PST)
> Betreff: [CafeMuenchen] Kekerasan di Poso Bukan
> karena Dendam Semata
>
> <http://www.republika.co.id >
>
> Selasa, 30 Januari 2007 19:18:00
>
> ------------ --------- --------- --------- ----
> Kekerasan di Poso Bukan karena Dendam Semata
> ------------ --------- --------- --------- ----
>
> Palu-RoL-- Kelompok bersenjata melakukan kekerasan
> di
> Poso,
> Sulawesi Tengah (Sulteng), bukan karena dendam
> semata,
> tapi
> juga dilatari adanya pemahaman perbuatan membunuh
> dan
> merampok yang dimaknai sebagai amal ibadah.
>
> Wakil Kepala Divisi Humas Mabes Polri, Brigjen Pol
> Anton
> Bachrul Alam, di Palu, Selasa, mengatakan Abdul Muis
> (27)
> tersangka utama penembakan Sekretaris Umum Gereja
> Kristen
> Sulteng, Pdt Irianto Kongkoli, pada 16 Oktober 2006
> bukan
> korban konflik Poso.
>
> Bahkan seorang pun anggota keluarganya tidak ada
> yang
> menjadi korban dalam konflik bernuasa SARA
> pertengahan
>
> tahun 2000. Abdul Muis yang juga tersangka utama
> peledakan
> bom di pasar daging babi Maesa Palu tanggal 31
> Desember 2005
> itu berani membunuh setelah mendapat doktrin keras
> yang
> kemudian menjadi sebuah keyakinan baru.
>
> "Kesimpulannya, kasus kekerasan di Poso dan di Palu
> bukan
> hanya dendam semata. Pelaku berani berbuat karena
> mendapat
> doktrin yang keras bahwa membunuh dibenarkan sebagai
> amal
> ibadah," kata Bachrul Alam. Dalam rekaman pengakuan
> di
>
> depan penyidik, Abdul Muis mengakui pemahaman yang
> diyakininya
> menjadi dasar kuat sehingga berani menembak Irianto
> Kongkoli
> dan meledakan bom di Maesa Palu.
>
> Lelaki berkacamata minus ini mengutip secara keliru
> Al-Quran
> Surat Attaubah ayat 12 yang memerintahkan membunuh
> pemimpin-
> pemimpin kafir, serta Sirat Nabawiah yang
> mengisahkan
> Nabi
> Muhammad membunuh dua pemimpin Yahudi karena
> melakukan
>
> konspirasi dan perencanaan menyerang masyarakat
> Islam.
>
> "Saya berbuat bukan karena spontan atau ikut-ikutan,
> juga
> bukan karena dendam. Tapi karena keyakinan saya
> setelah
> melalui proses pengkajian," kata dia.
>
> Abdul Muis yang sempat tercatat sebagai mahasiswa
> program studi
> Kehutanan pada Fakultas Pertanian Universitas
> Tadulako
> Palu ini
> mengakui, ide penembakan Irianto Kongkoli berasal
> dari
> dirinya
> sendiri yang kemudian diutarakan kepada Riansyah,
> buronan Polri
> yang tewas tertembak dalam penyergapan tersangka DPO
> di Jln
> Pulau Jawa II Kelurahan Gebang Rejo, Poso Kota, pada
> 11
> Januari 2007.
>
> Ryan alias Riansyah, menurut Bahrul Alam, yang
> memfasilitasi
> Abdul Muis merealisasikan niatnya dengan menyuruh
> Dedy
> Parsan
> mencarikan senjata api serta menemani dalam operasi.
> Dedy Parsan
> yang termasuk dalam 29 tersangka DPO Polda Sulteng
> juga tewas
> dalam penyergapan polisi pada 11 Januari 2007 di
> Poso.
>
> Sementara aksi peledakan bom di pasar daging Maesa
> Palu pada 31
> Desember 2005 yang menewas delapan orang diakui oleh
> Abdul Muis
> sebagai pelaku yang meletakkan bom di bawa salah
> satu
> lapak
> penjual di pasar ini. Ide peledakan itu datang dari
> Tengku
> alias Icang, DPO Polda Sulteng yang juga tewas dalam
> penyergapan
> polisi di Poso pada 22 Januari 2007.
>
> "Icang yang mendatangi saya di Palu, lalu
> mengutarakan
>
> niatnya meledakan bom sebagai hadiah Natal. Setelah
> saya
> berpikir beberapa hari, saya menyetujui rencana
> tersebut,"
> ujar Abdul Muis yang terlihat didampingi
> pengacaranya
> Asluddin Hatjani SH dari Tim Pembela Muslim Sulteng.
>
> Menurut dia, target peledakan bom di Maesa
> seharusnya
> pada
> tanggal 24 Desember 2005, tapi bom rakitan yang
> sudah
> diletakkan
> di pasar yang terletak di Jln Sulawesi Palu itu
> gagal
> meledak.
> Bersama Icang, Abdul Muis kembali merencanakan
> peledakan pada
> tanggal 31 Desember 2005. Alasannya hari itu akan
> ramai
> pengunjung membeli daging babi untuk perayaan Tahun
> Baru
> 2006.
>
> Bom yang dipasang terakhir ini berhasil meledak
> sesuai
> rencana
> sekitar pukul 08.00 Wita. "Dedy Parsan dan seorang
> temannya ikut
> membantu perencanaan, sementara Icang yang merakit
> bomnya dan
> saya sendiri yang meletakkan bom tersebut di pasar,"
> ujar Abdul
> Muis.
>
> Sebelum mengakhiri pembicaraanya, Abdul Muis
> berpesan
> kepada
> rekan-rekannya untuk kembali mengevaluasi segala
> perbuatannya
> yang merugikan banyak pihak selama ini, yaitu dengan
> kembali
> kepada ajaran Islam yang benar.
>
> "Saya berpesan kepada ikhwan-ikhwan (kawan-kawan)
> yang
> lain
> untuk mengoreksi perbuatan yang telah kita lakukan.
> Jika tidak
> betul, tak ada salahnya kita mengubahnya, " kata dia
> mengimbau.
> antara/mim
>
>
>
>
>
____________________________________________________________________________________
> Never Miss an Email
> Stay connected with Yahoo! Mail on your mobile. Get
> started!
> http://mobile.yahoo.com/services?promote=mail
>
___________________________________________________________
Der frühe Vogel fängt den Wurm. Hier gelangen Sie zum neuen Yahoo! Mail:
http://mail.yahoo.de