Beberapa dasawarsa terakhir ini kita dikejutkan dengan
hadirnya sebuah komunitas da’wah yang bernama Salafy.
Kita bersyukur dan menyambut dengan senang hati
kedatangan mereka di tanah air.  Sehingga beban da’wah
akan semakin ringan dikarenakan tambahan energi baru.
“Sedikit sama dijinjing, berat sama dipikul.” Namun
setelah beberapa tahun meneliti dan mengkaji komunitas
ini, kami dan sebagian besar umat islam menjadi
bingung dan tak habis pikir. Bagaimana mungkin sebuah
komunitas da’wah yang mengaku sebagai pewaris sah ahlu
sunnah wal jama’ah (suni) ini, justru membuka “medan
tempur” baru. Baik diantara sesama Salafy, lebih-lebih
dengan jama’ah atau muslim di luar kelompoknya.
Dengan “amunisi” bid’ah, hizby, sururi, sufi, zindik,
bodoh, “anjing-anjing neraka” dan mengeksploitasi
hadits terpecahnya umat menjadi 73 firqah mereka mulai
“memberondong” siapapun juga yang tidak sepaham dengan
doktrin dan pemahaman mereka. Seperti orang “mabuk”
mereka “menembak” ke kanan, ke kiri, ke depan, ke
belakang, ke atas dan ke bawah. Bahkan ke seluruh
penjuru mata angin.  Untuk itulah, agar kita dapat
bersikap arif dan bijaksana kepada salafiyyin, sudah
saatnya kita mengenal jama’ah ini. Sehingga kita dapat
membedakan mana salafy asli dan mana yang imitasi.
Mana yang benar-benar mengikuti salafush shalih dan
mana yang hanya ngaku-ngaku. 
SALAFY, SALAFIYAH DAN SALAFIYYIN
        Dalam kehidupan sehari-hari kita sering mendengar
istilah Salaf, Salafiyah, Salafiyun, Salafiyin dan
Salafy (atau Salafi). Kata dasar dari semua istilah
tersebut adalah Salaf. Artinya adalah yang terdahulu,
yang lalu, telah selesai atau kaum di masa lalu.  Atau
golongan terdahulu dalam perjalanan hidup, dalam umur
atau dalam keutamaan atau dalam kematiannya. 
        Adapun secara istilah berarti Salafush shalih yaitu
para pendahulu umat Islam yang shalih. Mereka adalah
generasi islam yang pertama yaitu generasi sahabat,
tabi’in dan tabi’ut tabi’in.    Rasululah bersabda
“Sebaik-baik manusia adalah pada masaku ini (masa
sahabat), kemudian yang sesudahnya (masa tabi’in),
kemudian yang sesudahnya (masa tabi’ut tabi’in).” 
        Salafush shalih juga mendapat pujian dari Allah dalam
surat At taubah ayat 100 yang artinya : “Orang-orang
yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam)
dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang
yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada
mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah
menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir
sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. mereka kekal
di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.”
Mereka juga disebut Khairu ummah (sebaik-baik ummat),
sebagaimana firman Allah di surat Ali Imran ayat 110
yang artinya : “Kamu adalah umat yang terbaik yang
dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf,
dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada
Allah…”
Salafiyah secara sederhana berarti khazanah ilmu atau
ajaran salafush shalih. Salafiyun atau Salafiyin
adalah orang-orang yang mengikuti ajaran salafush
shalih. Sedangkan Salafy atau Salafi ialah sebutan
bagi orang-orang yang mengikuti ajaran salafush
shalih. Seseorang kadang disebut Salafy sebab sikap
dan perilakunya menunjukkan kesetiannya kepada ajaran
salafush shalih, meskipun ia tidak menyebutkan dirinya
Salafy. Tapi adakalanya orang-orang tertentu
menyebutkan dirinya Salafy meskipun dirinya belum
memahami dan belum mengamalkan ajaran salafush shalih.
 Istilah salafy selanjutnya menjadi sebutan bagi
komunitas yang mengikatkan dirinya dengan ajaran
salafush shalih. Baik dalam ikatan yang kuat maupun
longgar.  
Menurut Ustadz Yazid  Salaf bukanlah kelompok atau
golongan namun merupakan manhaj atau ajaran tentang
sistem hidup dalam ber-‘aqidah, beribadah, berhukum,
berakhlak dan lain-lain yang wajib diikuti oleh
seorang muslim. As Salafiyun disebut juga Ahlu Sunnah
Wal Jama’ah karena mereka mengikuti manhaj salafush
shalih dari shahabat dan tabi’in. Dan setiap orang
yang mengikuti jejak mereka dan berjalan di atas
manhaj mereka di sepanjang masa.
Syaikhul Ibnu Taymiyah berkata “Bukanlah merupakan aib
bagi orang yang menampakkan manhaj Salaf dan
menisbatkan dirinya kepada salaf, bahkan wajib
menerima yang demikian itu karena manhaj Salaf tdak
lain kecuali kebenaran.” 
Namun demikian dalam realitas kehidupan sehari-hari,
media, pers, masyarakat hingga peneliti memahami
mereka sebagai komunitas atau sebagai jama’ah. Karena
mereka berkelompok, berjama’ah dan mudah dikenali dari
ciri-cirinya. Baik dalam bentuk lahir maupun
doktrin-doktrinnya. Bahkan tidak sedikit pengamat dan
saudara kita kaum nahdliyyin (NU) juga salah dalam
memahami salafy atau wahabi. Sehingga mereka
memasukkan hizbut tahrir, FPI dan MMI sebagai salafy.
Padahal sebenarnya bukan. 
Dalam catatan Syaikh Qaradhawy, Salafy di era ini
tidak menjelma menjadi satu kelompok saja. “Ada
kelompok “Salafiyah Politik” yang dengan alasan
universalitas ajaran Islam lebih menaruh pada
persolan-persolan politik ketimbang akidah. Kelompok
inilah yang menentang keberadaan Amerika Serikat dan
intervensi militernya dalam perang teluk II. Mereka
juga menentang politik kerajaan Saudi Arabia karena
banyak pertimbangan.  Itulah sebabnya banyak diantara
mereka yang masuk penjara. Semisal Salman Al Audah,
Safar Al Hawali dan Aidh Al Qarni.  Kemudian negara
membebaskan mereka sehingga dapat kembali pada
pekerjaan-pekerjaan formal mereka. Dan tampaklah
saling pengertian dan rekonsiliasi antara mereka dan
pemerintah. Toh perdamaian adalah jalan terbaik.” 
Adapula “Salafiyun Albaniyun” yaitu pengikut Syaikh Al
Muhaddits Nashiruddin Al Albani. Mereka memerangi
fanatisme madzhab, madzah-madzab fikih, taklid dan
loyalitas terhadap madzhab sekalipun mereka adalah
orang awam. Tetapi pada saat yang bersamaan mereka
juga mentaklid pendapat-pendapat Syaikh Albani dan
mentasbihkan diri mereka sebagai “Madzhab kelima.” 
Selain itu ada kelompok “Salafiyun Al Jamiyun”
(Salafiyun yang beringas). Tokohnya adalah Syaikh
Rabi’ Al Madkhali.  Kelompok ini tidak punya kreasi
lain kecuali menyalahkan dan menyerang orang lain.
Serta menyerbu semua ulama dan dai yang bertentangan
dengan mereka. 
Tak ada figur yang selamat dari serangan kelompok
tersebut. Baik dari zaman klasik maupun modern.
Termasuk pula Imam An Nawawi dan Al hafizh ibnu Hajar
Al Asqalani. Hanya karena mereka berdua seorang
penganut Asy’ariyah.  (Yaitu salah satu aliran dalam
ahlu sunnah wal jama’ah yang menta’wil ayat-ayat sifat
seperti tangan, wajah dan mata, pen.)  Adapula 
pengikut Syaikh Abdurrahman Abdul Khalik di Kuwait
yang membentuk suatu tanzhim atau organisasi. Yang
dikenal sebagai Salafy haraki. Namun oleh salafy
lainnya atau Salafy at tahdziri (salafy yang hobi
mencela) tidak dianggap bagian dari salafy. Dan
dimasukkan sebagai hizby (berkelompok-kelompok).
Sejarah Salafy Dalam berbagai versi
Awal sejarah da’wah salafiyah ini memiliki banyak
versi. Versi pertama menyatakan bahwa da’wah Salafiyin
sudah ada sejak zaman Nabi Adam. Ruarrr biasa?, 
“Dengan demikian, Da'wah Salafiyyah adalah da'wahnya
seluruh Nabi, mulai dari Nabi Nuh sebagai Rasul
pertama sampai dengan Nabi Muhammad yang merupakan
Nabi dan Rasul terakhir yang diutus kepada umat
manusia, semoga damai dan rahmat Allah selalu tercurah
bagi mereka semua. Maka sejarah dari Da'wah Salafiyyah
dimulai sejak dari Nabi pertama. Hal ini bahkan ada
yang mengatakan bahwa dimulainya Da'wah Salafiyyah ini
dimulai dari Nabi Adam 'alaihis Salam, sebab da'wah
ini adalah da'wah yang murni ….”  
        Dalam kesimpulannya tulisannya Al Puari berkomentar
“Keyakinan salafi bahwa mereka telah ada semenjak nabi
Adam AS, maka inilah golongan tertua didunia. Tetapi
setelah ditelaah sejarah kemunculan salafi, maka
terungkap salafi bermula dari da’wah Muhammad bin
Abdul Wahab yang mengambil madzhab Hanbali sebagai
sumber pemikirannya. Sehingga pernyataan bahwa salafi
telah ada sejak nabi Adam AS, merupakan sikap arogan
dan mau menang sendiri saja.”
        Versi kedua menyatakan bahwa da’wah Salafiyah ada
semenjak abad IV H. Namun ini baru kemungkinan. Sebab
menurut catatan K. H. Siradjuddin Abbas madzhab atau
manhaj salaf itu tidak ada. Demikian halnya jika kita
mengkaji Alqur’an dan hadits-hadits nabi yang terdapat
dalam kitab yang enam dan lainnya, tdak pernah
dijumpai tentang adanya suatu madzhab ataupun gerakan
da’wah yang bernama madzhab salaf.  
        Begitupun batas waktu yang tegas antara yang dinamai
zaman salaf dan khalaf (yang terkemudian) tidak ada
keterangan. Baik dari Alqur’an maupun hadits Nabi.
Apakah yang dimaksud Salaf itu 100 tahun, 200, 300,
400 atau 500 tahun sejak zaman nabi? Tidak ada
keterangan yang pasti. 
        Mungkin saudara kita Salafy akan beragumen dengan
hadits “Sebaik-baik kurun adalah kurunku kemudian
setelahnya, kemudian setelahnya...” Maksud hadits ini
juga debatable, karena dari artinya nampak jelas bahwa
ini adalah informasi dan sebuah motivasi bagi umat
beliau, bukan dasar untuk memisahkan antara salaf dan
khalaf.  Dan bukan berarti setelah kurun tersebut
pasti jelek dan terus mengalami kemerosotan. Karena
nabi sebagai pendidik memang sering memuji umatnya
dengan puji-pujian dalam rangka mebangkitkan semangat
dan memotivasi umat Islam. 
        Selain itu dalam hadits nabi yang diriwayatkan oleh
Imam Ahmad dan Baihaqi  dijelaskan bahwa suatu saat
nanti akan lahir khilafah ‘ala manhaj nubuwwah. Yaitu
sebuah khilafah yang mengikuti rasululah dan
khulafa’ur rasyidin dalam menjalankan pemerintahannya.
Bukan sebuah kerajaan yang mengikuri cara-cara
Sriwijaya dan Majapahit dalam mengangkat seorang raja.
Tak peduli bodoh atau pintar yang penting keturunan
raja “berdarah biru” maka ia jadi pemimpin, harus
dipuji, disanjung dan tidak boleh dikritik apalagi
didemo. 
        Versi ketiga adalah yang menyatakan bahwa da’wah ini
ada sejak zaman Syaikhul islam Ibnu Taymiyah. Ustadz
Hartono A. Jaiz  mengutip dari Abu Bakar Atceh bahwa
pada abad VII H datang Ibnu Taymiyah menghidupkan
ajaran salaf. Dipelopori juga oleh ulama-ulama Hanbali
yang mengaku pendapat mereka berasal dari Imam Ahmad
bin Hambal. Latar belakang lahirnya paham ini
dikarenakwn perlakukan penguasa mu’tazilah yang zhalim
lagi kejam terhadap ulama-ulama lainnya. Raja-rajanya
secara membabi buta memaksa ulama-ulama tunduk pada
pendirian mu’tazilah. Yang menyatakan bahwa kalam itu
tidak qadim dan Qur’an itu makhuk.
        Hanya ada empat imam yang masih berani mempertahankan
hukum Allah yaitu imam Ahmad bin hanbal, Al Quwawiri,
Muhammad bin Nuh dan Sajjadah. Namun ketiganya
akhirnya tunduk, kecuali Imam Ahmad. Meskipun
dibelenggu, dicambuk sampai pecah-pecah badannya.  Dan
delapan belas bulan dipenjara, Imam Ahmad tetap teguh
pendiriannya bahwa Alqur’an adalah kalam Allah bukan
makhluk.
        Versi keempat sebagaimana disusun oleh WAMY , da’wah
Salafiyah lahir pada abad 12 H. Yaitu dengan tokohnya
Muhammad bin Abdul Wahhab(1115-1206 H/1703-1791 M).
beliau dilahirkan di kota ‘Uyainah, dekat kota Riyadh.
Belajar pertama kali kepada orang tuanya sendiri
tentang fiqih hanbali, tafsir dan hadits. Hafal
Alqur’an ketika berusia 10 tahun. 
        Beliau pergi ke Mekah untuk menunaikan haji kemudian
ke Medinah untuk menuntut ilmu syari’at. Beliau juga
menuntut ilmu ke Irak terutama di kota Baghdad dan
basrah. Da’wah tauhid ini mendapatkan ujian dari
berbagai pihak yang iri dan benci kepada beliau.
Sehingga beliau harus berpindah-pindah dari satu
tempat ke tepat yang lain. Da’wahnya mulai kokoh
setelah beliau bertemu dengan pangeran Muhammad bin
Su’ud (berkuasa tahun 1139-1179H). Yaitu pendiri
Negara Saudi Arabia.    
        Dari Saudi inilah da’wah salafiyah berkibar ke
seluruh penjuru dunia. Antara lain Yaman, Yordania,
Syria, jazirah Arab, Mesir, Pakistan, India, Asia
tengah dan Indonesia.  Da’wah salafiyah pada mulanya
bermadzhab Hanbali. Tetapi dalam fatwa-fatwanya tidak
selalu terikat oleh madzhab tersebut, apabila
didapatkan dalil yang lebih kuat. Oleh karena itu
Salafiyah sering disebut “Laa Madzabiyah” (tidak
bermadzhab) dalam ushul (pokok) dan bermadzab Hanbali
dalam furu’ (cabang). Menurut Syariahonline.com 
da’wah ini dinilai sebagai pelopor gerakan ishlah
(reformasi) yang muncul menjelang masa-masa kemunduran
dan kebekuan berpikir pemikiran dunia Islam sekitar 3
abad yang lampau atau tepatnya pada abad ke-12
hijriyah. Dakwah ini menyerukan agar aqidah Islam
dikembalikan kepada pemurnian arti tauhid dari syirik
dengan segala manifestasinya. 
        Dakwah beliau lebih tepat dikatakan sebagai dakwah
salafiyah. Dakwah ini telah membangun umat Islam di
bidang aqidah yang telah lama jumud dan beku akibat
kemunduran dunia Islam. Mereka memperhatikan
pengajaran dan pendidikan umum serta merangsang para
ulama dan tokoh untuk kembali membuka literatur kepada
buku induk dan maraji` yang mu`tabar, sebelum menerima
sebuah pemikiran. Mereka tidak mengharamkan taqlid
namun meminta agar umat ini mau lebih jauh meneliti
dan merujuk kembali kepada nash dan dalil dari
Kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW serta pendapat
para ulama salafus shalih. Di antara tokoh ulama salaf
yang paling sering mereka jadikan rujukan adalah Imam
Ahmad ibn Hanbal (164-241 H), Ibnu Taimiyah (661-728
H) dan Ibnul Qayyim Al-Jauziyah (6691-751H). Oleh
banyak kalangan (meskipun sebagian Salafiyin
menolaknya-pen.) gerakan ini dianggap sebagai pelopor
kebangkitan pemikiran di dunia Islam, antara lain
gerakan Mahdiyah, Sanusiyah, Pan Islamisme-nya
Jamaluddin Al-Afghani, Muhammad Abduh di Mesir dan
gerakan lainnya di benua India. Paling tidak, masa
hidup Muhammad bin Adbul Wahhab lebih dahulu dari
mereka semua. Dalam penjulukan yang kurang tepat,
gerakan ini sering dijuluki dengan wahabi. Namun
istilah ini tidak pernah diterima oleh mereka yang
ikut mengembangkan dakwah salafiyah.
Tapi perlu diketahui bahwa da’wah Syaikh Muhammad bin
Abdul Wahab ini hanya bertumpu atau memprioritaskan
pada masalah akidah, ibadah dan menentang bid’ah.
Mungkin pada waktu itu belum dibutuhkan. Atau karena
masyarakatnya adalah masyarakat Badui.  Sampai saat
ini kita tidak mendapatkan peninggalan beliau yang
berupa kitab-kitab fiqih. Ataupun ijtihad-ijtihad
beliau dalam bidang muamalah.
Sejarah Perkembangan salafy Di Indonesia
        Menurut Abu Abdirrahman Al Thalibi , paham Salafiyah
yang masuk ke Indonesia bermacam-macam warnanya. Warna
yang paling asli adalah warna yang dibawa oleh
ulama-ulama di sumatera barat pada awal abad ke-19.
Inilah salafiyah pertama di Indonesia. Yang dikenal
sebagai kaum Padri. Di zaman kolonial turut berperang
melawan kaum adat dan Belanda. Kaum Padri masih eksis
sampai hari ini, meskipun jumlah mereka tidak besar.
Dan mereka memisahkan diri dari adat Minangkabau
secara umum.    Paham ini juga mempengaruhi
organisasi-organisasi da’wah di Indonesia seperti
Muhammadiyah yang terkenal dengan gerakan anti TBC
(Taqlid, bid’ah dan churafat). Dan Persis dengan
tokohnya A. Hasan. Serta Syarikat Islam dan Al Irsyad.
Di Indonesia paham Salafiyah masuk melalui berbagai
media seperti internet, majalah, buku, kaset, VCD,
pendidikan dan  program kerjasama. Serta
bantuan-bantuan, baik dalam bidang pendidikan, sosial,
kesehatan, pembukaan majelis ta’lim dan pendirian
lembaga-lembaga ilmiyah. Namun yang paling mencolok
adalah hadirnya Laskar Jihad Ahlu Sunah Wal jama’ah
yang dipimpin oleh panglimanya waktu itu, Ustadz
Ja’far Umar Thalib. Sekarang sudah dibubarkan karena
dinilai sudah keluar dari doktrin atau prinsip
salafiyah. Yaitu karena melawan pemerintahan yang sah,
membentuk pasukan semi militer dengan struktur yang
lengkap dan melakukan hukum rajam padahal mereka bukan
umara.
        Sebagian keragaman da’wah salafiyah tersebut adalah
seperti berikut ini  : Sikap ilmiyah murni, membangun
jaringan majelis ta’lim, halaqah atau tasjilat yang
menginduk ke madrasah salafiyah di Timur Tengah.
Bersikap keras dalam mengingkari kelompok ahlu bid’ah
dan menyimpang. Kadang ditunjukkan dengan muka masam,
tidak mau menjawab salam, bersikap menjauh, mencela,
membuka aib-aib, menghina hingga memboikot. Mengambil
prinsip-prinsip dan khazanah ilmu salafiyah namun
menerapkan sistem kejama’ahan/organisasi atau sering
disebut salafy haraki sebagaimana yang diterapkan oleh
jama’ah-jama’ah islam pada umumnya.. Mengambil
prinsip-prinsip tertentu dari paham salafiyah yang
bersifat mendasar, lalu meletakkan di atas itu
dasar-dasar pemikiran non salafiyah seperti doktrin
politik, demontrasi dan organisasi.  Mereka
menyebarkan ilmu-ilmu salafiyah secara mandiri, lokal
dan menyesuaikan metode da’wah sesuai situasi dan
kondisi masyarakat yang dida’wahi. SALAFY GARIS KERAS   
Doktrin-doktrin dan prinsip salafiyah sebenarnya tidak
jauh berbeda dengan jama’ah-jama’ah Ahlu Sunnah
lainnya. Secara garis besar perbedaannya adalah dalam
masalah boleh tidaknya menta’wil ayat-ayat asma wa
shifat, menasehati pemimpin secara sembunyi-sembunyi
atau terbuka, berdemontrasi, berorganisasi dan masalah
shufi. Yang lainnya berkaitan dengan masalah seperti
dzikir berjama’ah, tawasul dengan ruh nabi, pembacaan
barjanji dan  masalah ikhtilaful ummah (perbedaan
pendapat di kalangan umat islam) lainnya.
        Yang kami maksud salafy garis keras adalah bagian
dari Salafiyyin yang mensikapi perbedaan pendapat di
atas dengan cara-cara yang kasar, keras, mencela dan
penuh caci maki.        Mereka ini sering disebut Salafy
Yamani. Meskipun tidak tertutup kemungkinan dari
Salafy lainnya juga melakukan hal ini. Namun yang
paling bersemangat dan sangat getol melakukannya
adalah kelompok Salafy Yamani. 
        Kelompok ini di Indonesia diwakili Laskar Jihad.
Sekarang sudah bubar. Kalau anda baca website mereka
sebelum ditutup, maka akan anda dapatkan caci maki,
perkataan yang buruk dan cara yang kasar dalam
berda’wah. Sayang penulis tidak sempat menyimpannya.
Tapi paling tidak Gusdur, kaum nahdliyin (NU) dan
anggota DPR dari PKB adalah saksi hidup yang dapat
merasakan sikap kasar tersebut ketika mereka mendemo
Gusdur di Istana Negara pada saat itu.
        Laskar Jihad sudah bubar, namun pengikut dan
simpatisannya tetap melanjutkan gaya berda’wah yang
kasar dan penuh caci maki.  Ini dengan jelas dapat
kita lihat di website utama mereka yaitu Salafy.or.id.
Kemudian diikuti oleh majalah Asy Syari’ah.     Siapapun
juga baik kawan atau “lawan” yang tidak sesuai dengan
doktrin mereka maka akan disikat habis dan dihinakan
sehina-hinanya. Bahkan lebih hina dari orang kafir
sekalipun.  Kenapa mereka berbuat demikian ? Adakah
murni untuk kepentingan agama? Atau jangan-jangan ada
kepentingan lain atau ada yang menunggangi mereka?
Wallahu ‘alam.




 
____________________________________________________________________________________
Need Mail bonding?
Go to the Yahoo! Mail Q&A for great tips from Yahoo! Answers users.
http://answers.yahoo.com/dir/?link=list&sid=396546091

Kirim email ke