Jurnal Shangrila:

ABU


Enambelas Februari 2007. Dingin Paris  hingga sungsum di jam 10:00 winter. Aku 
bergegas mengenakan mantel tebal pembungkus tubuh,  meninggalkan apartemenku 
yang terletak di Montmartre, tempat tertinggi bagian utara ibukota Perancis, 
menunju ke Pemakaman Umum Père Lachaise di mana jenazah Sobron Aidit akan 
diperabukan. Ketika memasuki ruangan upacara, kebaktian secara Kristen -- 
sesuai dengan permintaan terakhir  Bung Sobron -- sudah dimulai. Pandangan 
kulayangkan ke seluruh ruangan  yang dipenuhi oleh teman-teman berdatangan dari 
 Negeri Belanda, Swedia dan Jerman untuk memberikan penghormatan terakhir 
kepada almarhum.  Pandanganku kemudian berhenti di sebuah patung Yesus disalib 
yang diletakkan dibagian kepala peti  jenazah terbuat dari kayu mengkilat. 
Mungkin sejenis jati. Di antara taburan rangkaian bunga  antara lain dari Radio 
Nederland berbahasa Indonesia, dari Yayasan Wertheim, dari Koperasi Restoran 
Indonesia, dari milis Aksarasastra, di bagian kaki, terpampang foto besar Bung 
Sobron.  Pandanganku lama melekat di patung Yesus disalib yang senantiasa 
memberi makna besar bagiku. Patung dan kisah kehidupan yang menyetiai cinta 
sebagai suatu konsep hidup-mati dengan segala resiko hingga akhir. Konsep ini 
lalu kutautkan dengan pesan terakhir Bung Sobron. Pikiranku yang liar 
menghamburkan sekian banyak pertanyaan tanpa jawab seperti sekawanan burung 
mengepakkan sayap-sayapnya  ke segala penjuru. Penulis adalah pohon di mana 
bersarang kawanan ribuan tanya yang mencari dan mencari sesuatu di cakrawala 
kehidupan .  Cakrawala itu masih saja menyimpan misteri.

"Adakah misteri di patung Yesus di salib Golgota itu?", tanyaku pada Dini, 
seorang ibu muda, sobat lama yang berdiri di sampingku. Dini menatap lurus ke 
mataku:


"Kematian agaknya tidak merupakan jawaban terakhir bagi segala tanya. 
Barangkali hidup merupakan kalimat yang berhenti pada koma semata. Hal ini 
jugalah yang mengusik benakku detik ini", ujar Dini yang kemudian melanjutkan 
keterangannya dengan rangkaian cerita demi cerita penguat hipotesanya.

"Lalu?".

"Karena itu aku sesungguhnya sangat mencintai hidup betapa pun hidup sangat tak 
ramah-tamah".


Sementara masmur dan litani terus berkumandang mengisi ruang menambah khusuk 
upacara . Lagu-lagu yang pernah pada suatu saat sering kunyanyikan juga di 
gereja-gereja berbagai negeri dan kota. Isi dan melodinya padu, ujud dari 
keselarasan antara  isi berupa pujian serta komitmen dalam bentuk yang artistik 
hingga menimbulkan riak ke lubuk nurani yang mendengar. 


Pidato duka dan selamat jalan disampaikan oleh anak-cucu disusul oleh Soejoso, 
wakil dari Koperasi Restoran Indonesia Paris dan Pascal LUTZ , mantan direktur 
Koperasi yang bekerja sukarela tanpa sepeser  bayaran selama puluhan tahun. 
Kemudian hadirin dipersilahkan melihat wajah Bung Sobron untuk terakhir kali 
sebelum ia diabukan. Setengah jam aku menatap wajahnya dari sebuah jendela kaca 
kecil peti jenazah. Bersih dan putih. Mengenakan baju batik dengan warna dasar 
putih. Perasaan sedih tiba-tiba menyembur tanpa kusadari dalam bentuk genangan 
air di kedua bola mataku. Membuatku terdiam. Malas bicara dengan siapa pun. 
Anak bangsa yang terbuang dari negeri kelahiran dan mati di negeri orang 
sementara cintanya pada negeri kelahiran itu tak juga surut dan suram hingga 
akhir hayat. Apakah kematian begini merupakan gugatan pada keadaan negeri dan 
perlakuan yang mereka hadapi? Apakah ini salah satu resiko menyetiai cinta? 
Kepada diri sendiri kujawab: "Ya! Ya!". Lalu pandang, kembali kuarahkan ke 
patung Yesus yang disalib. Hidup kurasakan seperti suatu perjalanan mengemban 
sejenis salib ke Golgota ajal tanpa bergeming dari pendirian yang mencintai. 


Peti jenazah kemudian diangkat oleh petugas ke atas sebuah  panggung. Suasana 
hening  memuncak ketika peti jenazah itu secara pasti diturunkan oleh sebuah 
lift ke bawah ke tempat perabuan. Aku menggunakan  bayanganku sendiri, 
menduga-duga apa-bagaimana jenazah Bung Sobron dibakar hingga tinggal abu.  
Wajah yang baru saja beberapa menit lalu kutatap. Kurang lebih dua setengah jam 
kemudian, yang dibawa ke hadapan keluarga dan teman-temannya hanyalah berupa 
abu.  Butiran-butiran abu yang ditaruh di dua buah guci. Aku mendekati dua buah 
guci abu itu. Benar. Hanya abu yang kulihat dan bukan berbentuk wajah yang 
beberapa menit lalu kusaksikan. Ada keanehan tiba-tiba muncul di hatiku melihat 
Bung Sobron akhirnya berujud dalam bentuk abu.  Aku merasa sedang hadap-hadapan 
dengan suatu keganasan tak berhati. Ada keniscayaan tak terbantah. Ada 
keterbatasan mimpi. Ada keterbatasan daya. Tiba-tiba kenakalan masa bocahku di 
Katingan dahulu menyeruak ke hati. Aku ingin mengepal tinju kecilku di hadapan 
ajal bertaring penuh darah. Aku mau melawannya seperti dahulu aku mengepal 
tinju sebelum menerjunkan diri ke  gelombang dan melihat langit menurunkan 
topan di sungai kelahiran.  Aku mau bertarung habis-habisan dahulu sebelum tiba 
di kediaman abadi, untuk memperlihatkan bahwa manusia tak gampang-gampang 
angkat tangan. Dengan semangat begini jugalah aku melihat Indonesia dan hidupku 
sebagai pengembara. Inikah hidup? Apakah arti hidup jika mati akhirnya 
mencengkram menyergap tanpa permisi di tiap tapak diayun? Dengan 
pikiran-pikiran begini, aku berkata pada diri: "Kalau aku tak sampai kepadamu, 
Manis, Manis, mimpi akan kutinggalkan padamu sebagai kalung tanda mata kasih 
sayang untukmu. Kata-kataku akan bersama angin mengetok tingkap jendela dan 
pintumu". 


Di hadapan dua guci abu jenazah Bung Sobron ini, aku merasa diri berada di 
tengah-tengah lembah sunyi yang dalam. Pertanyaan serupa angin menderu di 
sekitarku di dalam  lembah itu. Di antara deru angin itu yang tertinggal 
akhirnya adalah  kata yang kita tulis dan kita ucapkan. Ajal tak meremukkannya  
jadi abu. Kata inilah yang terus menggaung sekali pun barangkali merupakan 
kalimat tak usai, belum mencapai titik. Pada upacara pelepasan Bung Sobron 
secara Kristen, kata-kata Bung Sobron digaungulangkan oleh dua penyair 
Indonesia yang tinggal di Negeri Belanda: Mawi dan Heri Latief.  Sementara itu, 
pada hari yang sama Tossi, sohibku dari   Radio Nederland yang khusus datang ke 
upacara penghormatan terakhir pada Bung Sobron, di  Harian The Jakarta Post 
menyiarkan tulisannya berjudul: "Sobron's Fate Highlights Nation Tragedy".  
Kukira Tossi menyentuh salah satu masalah hakiki yang sedang menimpa bangsa dan 
negeri ini.  Patutkah tragedi dan dampak-dampaknya kita pelihara seperti 
memelihara macan yang lapar? ***


Paris, 16 Februari 2007.
--------------------------------
JJ. Kusni

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke