Notes Arjo Pilang:

ORHAN PAMUK MENGUNGSI KE AMERIKA SERIKAT


Oleh adanya ancaman  gencar pembunuhan pada dirinya, pemenang Nobel Sastra 
2006, Orhan Pamuk, Kemis 8 Februari 2007 yang lalu mengambil pesawat 
meningggalkan Turki menuju New York, Amerika Serikat.  Terhadap kepergian ini, 
Pamuk tidak memberikan komentar publik apa pun, hanya saja orang-orang dekat 
sastrawan pemenang Nobel ini menolak menyebut keberangkatan Pamuk sebagai 
mencari suaka.  Tapi mereka juga tidak bisa memastikan kapan sang sastrawan 
kembali ke Turki.


Keputusan meninggalkan Turki, tanahairnya, erat berhubungan dengan peristiwa 
pembunuhan Hrant Dink, wartawan asal Armenia, direktur  Majalah Agos, pada 19 
Januari 2007 lalu. Seperti diketahui umum bahwa genosida Armenia merupakan 
topik tabu bagi kaum nasionalis Turki.  Dan justru terhadap  masalah tabu ini, 
Orhan Pamuk menolak diam dan secara terbuka menyatakan pendapat serta bersikap. 
Dalam wawancaranya dengan harian Swiss, Tages Anzieger, pada  bulan Februari 
2005, Pamuk antara lain menyatakan: "Satu juta orang Armenia dan 30.000  orang 
Kurdi telah dibunuh di bumi ini,  tetapi terhadap soal ini tidak ada yang 
berani mengungkannyakecuali saya" [Lihat: Le Figaro, Paris, 08 février 2007]. 
Pernyataan Pamuk ini menyebabkan lahirnya anjuran dari pemerintah Turki untuk 
membakar buku-buku Pamuk dan ia dituduh terlibat dalam persekongkolan "menghina 
bangsa Turki". Oleh pernyataan terbuka ini pula maka Pamuk diajukan ke depan 
pengadilan. Tapi proses pengadilan atas Pamuk dihentikan karena pemerintah 
Turki yang sedang berusaha menjadi anggota Masyarakat Eropa [ME], khawatir 
citra dirinya memburuk  jika proses pengadilan dilanjutkan.  Dengan 
latarbelakang ini pulalah maka ketika pada bulan Oktober 2006 lalu Orhan Pamuk 
dinyatakan sebagai pemenang Nobel Sastra, kemenangan ini disambut dingin di 
negerinya sendiri.


Penghentian proses pengadilan pada Pamuk tidak berarti ancaman pada pengarang 
berhenti. Ancaman ini justru kian menjadi-jadi, terutama dari kalangan kaum 
nasionalis ekstrim. Lebih-lebih setelah pembunuhan terhadap  Hrant Dink, asal 
Armenia.  Ketika Pamuk sedang di sidang pengadilan, Yasin Hayal,  salah seorang 
dari kelompok nasionalis ekstrim Ogun Samast, berhasil memasuki ruang sidang di 
Istambul  dan berkata pada Pamuk: "Orhan Pamuk, bersikaplah cerdik, bersikaplah 
cerdik". Yasin Hayal ini jugalah yang diduga keras oleh pihak keamanan Turki 
sebagai penaruh bom di restoran Mac Donald di Trabzon pada tahun 2004 sebagai 
protes terhadap agresi Amerika Serikat atas Irak.


Pada saat penyelidikan atas pembunuhan Hrant Dink dilakukan, Pamuk tidak 
diperkenankan meninggalkan Istambul, kita kediamannya. Berbarengan dengan apa 
yang dialami oleh Pamuk, puluhan cendekiawan dan sastrawan juga ditempatkan di 
bawah pengawasan dan perlindungan langsung Kementerian Dalam Negeri Turki. 


Keberangkatan Orhan Pamuk ke New York tercium oleh para wartawan tivi nasional 
yang kemudian merekam keberangkatan sang sastrawan. Dari siaran-siaran kanal 
tivi nasional ini nampak suasana tegang yang menyertai kepergian Pamuk.  
Pemirsa juga bisa menyaksikan kehadiran  Samast, bendera Turki di tangan 
orang-orang yang mengawasi keberangkatan Pamuk. Sebuah slogan terpampang di 
spanduk bertuliskan kata-kata Kemal Atatürk: "Tanah bumi pertiwi adalah tanah 
yang sakral, ia tidak boleh diperlakukan sekehendak hati".  Polisi mencegah 
orang-orang yang menggenggam bendera Turki dan spanduk ini, mendekat sang 
sastrawan menaiki tangga pesawat.  Sekali pun demikian, kejadian ini kembali 
membuat pemerintah Turki dan pihak kepolisian merasa tidak nyaman.  Terutama di 
hadapan negara-negara ME yang diharapkan oleh Turki mau menerimanya sebagai 
anggota.  Ketidaknyamanan penguasa Turki jadi bertambah oleh adanya 
serangan-serangan anonim terhadap pengarang "Salju" melalui internet. Bersamaan 
dengan ini, sebuah organisasi yang menyebut diri "Komando Turki Untuk Balas 
Dendam" menyiarkan  mayat Hrant Dink dan foto-foto Pamuk sambil menyatakan 
bahwa :"akan ada kematian-kematian lain". Sejak wawancaranya pada Februari 
2005, Pamuk memang dijadikan "kambing hitam" oleh kelompok-kelompok nasionalis 
radikal Turki. Dalam keadaan beginilah maka Kemis 8 Februari 2007, Pamuk 
berkeputusan untuk pergi ke New York di mana ia bekerja sebagai pengajar di 
Universitas Columbia. Hanya saja, menurut  Gallimard, editor Paris Orhan Pamuk, 
kepergian pengarang ke New York lebih bertujuan untuk menyelesaikan romannya 
yang baru serta menyiapkan pidato-pidato peluncurannya kelak.  "Ia menjauhkan 
diri dari ancaman dan mencari ketenangan", ujar editor Paris Orhan Pamuk. 
Diharapkan pada bulan April 2007 nanti, Pamuk akan menyampaikan pidato di 
Universitas Sorbonne dan meluncurkan karya baru berjudul "Istanbul". Demikian 
editor Paris sang pengarang.


Sekembalinya dari Pameran Buku Internasional di Kairo, Pamuk membatalkan 
rencana kunjungannya ke Jerman, di mana terdapat komunitas besar orang-orang 
Turki.  Tadinya, dari Kairo, pemenang Nobel Sastra 2006 ini akan berkunjung ke 
Köln, Stuttgart untuk menyampaikan serangkaian seminar, lalu di Berlin ia akan 
menerima Doktor Honoris Causa dari Universitas Terbuka [l'Université Libre] di 
ibukota Jerman.


Dari sikap Pamuk, aku melihat kesetiaannya pada profesi sastrawan dalam 
menyatakan kebenaran serta pendapat tanpa tabu sekali pun harus berhadapan 
dengan ajal. Sikap Pamuk juga mengingatkan aku akan baris-baris penyair 
Ramadhan KH bahwa: 


"Penyair paling setia
mengajak sekali waktu untuk bersikap" 

lalu:

"Dan untuk kebebasan jiwa
kuserahkan hidup"

Prinsip yang disetiai inilah , barangkali yang memberi jiwa dan kekuatan pada 
kata.***


Paris, Februari 2007.
---------------------------
JJ. Kusni

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke