Berikut ini adalah tulisan Imam Prihadiyoko, wartawan "politik islam" Kompas, 27/2/2007 Ada pertanyaan menantang apakah kiai kampung yang telah menjadi "kosakata" baru dalam jagat politik nasional itu akan benar-benar kembali ke kampung atau justru meninggalkan kampung? Kalau mau silahkan menjawab. Silahkan berspekulasi juga tentang "perang dingin" di dunia pesantren, apa penyebabnya, sampai kapan? Atau justru media massa lah yang tahu itu; kapan perang dingin itu dimuat dalam rubrik politik dan hukum sebagai berita syuuur yang bikin koran laris dan banyak iklan? Siapa aktor perang dingin? Kalau ada fungsinya, perang itu untuk apa?
Akan hal para peneliti seperti seperti Martin van Bruinessen, Sartono Kartodirejo, Umaruddin Masdar, Clifford Geertz, dan John L Esposito PADA MASA DAHULU KALA TELAH memberikan beberapa kesimpulan mengenai kedekatan hubungan kiai dan masyarakat: Bahwa kiai punya kekuatan menggerakkan massa untuk melawan penjajahan; bahwa kiai adalah makelar budaya; bahwa kemudian ada jarak antara kiai dan realitas masyarakat yang perlu dijembatani oleh Gus Dur, BUKANKAH sekarang sudah banyak perkembangan baru yang dapat difikirkan? Lalu apa? Semoga kau mengeti maksudku, *>>>>>>>>>>>>>>>* *Kembalikan Kiai pada "Kampungnya" * Tadarusan dan pengajian di lingkungan pondok pesantren memang bukan hal yang aneh. Tetapi, jika kegiatan itu diikuti ulama atau dalam bahasa kaum nahdliyin disebut kiai, yang biasanya memimpin majelis pengajian, tentu sangat luar biasa. Sekitar lima ribu kiai dari berbagai daerah di Indonesia, dua pekan lalu berkumpul di Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Munawaroh, Jalan Warung Sila, Ciganjur, Jagakarsa, Jakarta Selatan. Ponpes itu diasuh KH Abdurrahman Wahid yang akrab dipanggil Gus Dur. Ngaji bersama Gus Dur, inilah tema yang diusung dan terpampang pada spanduk yang dipasang sepanjang jalan menuju Ponpes Al-Munawaroh. Pertemuan kiai yang menyebut diri sebagai Majelis Silaturrahim Ulama Rakyat (Masura) ini adalah gerakan baru dari Gus Dur. Gus Dur membahasakannya sebagai kiai kampung. Kosakata baru yang siap masuk dalam wacana politik. Sebelumnya, menjelang Pemilu 1999, Gus Dur menggagas pertemuan Forum Kiai di Desa Langitan, Tuban, Jawa Timur. Forum ini segera masuk dalam perbincangan politik nasional, tidak saja sebagai wacana, tetapi menjadi alat legitimasi politik. Paling tidak, legitimasi itu bisa dimanfaatkan Gus Dur atau kaum nahdliyin. Pasca-turunnya Gus Dur dari kursi kepresidenan, kiai langitan yang pada awalnya untuk mendukung gerakan politik Gus Dur saat muncul bersama Amien Rais sebagai Poros Tengah, mulai menjauh. Bahkan, ada yang berseberangan dengan Gus Dur. Perang dingin itu mulai terbuka dalam Muktamar II Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) di Semarang tahun 2005. Pelaksanaan muktamar yang sejak awal kontroversial ini akhirnya meninggalkan konflik internal PKB. Akibat konflik ini, PKB harus menjalani proses hukum yang melelahkan. Meski PKB hasil Muktamar II Semarang menang, tetapi tidak bisa mencegah munculnya sempalan PKB, bernama Partai Kebangkitan Nasional Ulama (PKNU). Kemunculan PKNU yang mengklaim mendapat dukungan dari kiai langitan, diikuti hijrahnya Saifullah Yusuf dari PKB ke Partai Persatuan Pembangunan (PPP) yang juga mengklaim mendapat restu kiai langitan, tentu membuat "sang pemilik" forum kiai langitan gundah. Sebagai layaknya alat, tentu akan dipakai jika memang berguna. Sebaliknya, ketika alat itu tidak cocok lagi, bisa dimodifikasi atau diganti dengan yang baru. Itulah logika yang mungkin dipakai ketika mengangkat kiai kampung dan meninggalkan kiai langitan. Gus Dur, dalam pertemuan kiai kampung, mengaku dia yang membentuk kiai langitan. Kiai langitan itu sesungguhnya tidak pernah ada dan tak akan besar kalau tidak dibesarkannya. "Mereka sekarang lupa dengan misi untuk menjaga umat. Mereka tergiur posisi politik," papar Gus Dur. *Sang Kiai * Kiai, jelas adalah elite dalam struktur masyarakat, terutama di kalangan nahdliyin. Namun, posisi elite ini tak diakui elite politik nasional, kecuali kiai dijadikan lembaga dan dibawa dalam jaringan arus politik nasional. Itulah yang dilakukan Gus Dur saat memunculkan Forum Langitan menjadi kiai langitan. Sebagian umat Islam Indonesia, diakui atau tidak, memiliki ketergantungan yang kuat pada kiai. Sejak lahir, hingga ajalnya tiba, orang yang hidup dalam komunitas Islam, terutama di lingkungan Nahdlatul Ulama (NU), sangat akrab dengan kiai. Bahkan, kedekatan itu bisa berubah menjadi ketergantungan. Begitu lahir, orang tua sang bayi terkadang memintakan doa dan nama pada kiai yang ada di kampungnya. Setelah itu, beragam ritual keagamaan lain mulai diikuti. Ada upacara menyambut kehadiran sang bayi atau upacara akikah. Jika sang jabang bayi perempuan, orangtua akan menyembelih seekor kambing, dan dua kambing jantan untuk jabang bayi laki-laki. Begitu bayi mulai berbicara dan berjalan, mereka sudah diajarkan tentang agama. Bahkan, sebelum usia mereka masuk taman kanak-kanak, masyarakat Muslim sudah mengajari anak-anaknya tentang shalat, menghafal Juz 'Amma, dan membaca Al Quran. Seiring bertambahnya usia, ada yang meneruskannya dengan membaca kitab Al Barzanji, sampai kitab fikih dan tasawuf. Pada saat memasuki usia akil balik atau remaja, bagi anak laki-laki akan disunat dengan upacara khitanan. Ketika mereka menikah pun, membutuhkan kehadiran kiai. Bahkan, saat meninggal pun masih membutuhkan bimbingan kiai untuk mengafankan dan menshalatkan. Urusan belum selesai, karena masih ada ritual upacara selamatan mulai dari hari kematian hingga 1.000 hari setelah wafat. Namun secara politis, peran kiai sudah berakar lama. Sejarawan Sartono Kartodirdjo dalam buku Protest Movements in Rural Java (1973) menilai, kiai punya peran efektif dalam menanamkan sikap bermusuhan dan agresif terhadap orang asing dan juga pribumi yang menjadi aristokrat kolonial. Martin van Bruinessen mencatat peran kiai dalam gerakan melawan penjajahan diperlihatkan Syaikh Abdussamad dan Syaikh Yusuf Makassar. Syaikh Abdussamad selalu mendorong Sultan Mataram (Hamengku Buwono I) dan Susuhunan Prabu Jaka (putra Amangkurat IV) agar berjihad melawan Belanda, sebagaimana yang dilakukan Sultan Mataram sebelumnya. Syaikh Yusuf Makassar sudah menjadi penasihat Sultan Ageng Tirtayasa ketika melawan Belanda. Umarudin Masdar dalam bukunya, Gus Dur Pencinta Ulama Sepanjang Zaman (2005), menilai pandangan antropolog Clifford Geertz yang mengatakan kiai hanya berperan sebagai makelar, sudah punya banyak pengikutnya, terutama pada masa Orde Baru, kiai bahkan dianggap sebagai penghambat pembangunan. Gus Dur, menurut Umarudin, melakukan pembelaan posisi kiai dengan memunculkan istilah kiai eksentrik pada awal 1970-an. Karena peran kiai yang tidak hanya tunggal pada persoalan keagamaan, tetapi juga punya kemampuan berpikir dan menawarkan solusi bagi berbagai persoalan sosial. Di balik sikap hidup seorang kiai yang statis, tersimpan daya tahan, bahkan mampu melakukan perubahan dan modernisasi dengan caranya sendiri. Kiai dalam komunitas masyarakat, terutama kalangan nahdliyin, bukan sekadar dianggap sebagai elite agama, tetapi juga menjadi bagian masyarakat yang lebih luas. Kiai inilah yang mampu membumikan Islam. Orang Islam tidak kehilangan akidahnya, dan orang Jawa tidak merasa kehilangan identitasnya. Oleh karena pandangan Gus Dur inilah, John L Esposito dan John O Voll (2002) menyatakan, Gus Dur merupakan jembatan antara keulamaan tradisional dan pemikiran modern. Senada dengan pandangan Gus Dur ini, Sekretaris Jenderal PKB Lukman Edi menilai, tanpa peran kerakyatannya yang membumi, kiai akan ditinggalkan. Jika itu terjadi, peran keagamaan yang diemban kiai juga menjadi tidak berarti. Untuk mendekatkan kembali kiai dengan umaranya itulah, PKB memfasilitasi kiai kampung dalam Masura. Keterlibatan kiai tidak lagi terbatas pada kiai tertentu saja, tetapi semua kiai yang langsung bersentuhan dengan umat akan diajak untuk mencari solusi bagi persoalan yang dihadapi. Seperti apakah kelanjutan dari kiai kampung dalam pentas politik nasional, apakah tetap menjadi alat atau bisa "pulang kampung" karena memang punya kemandirian, hanya sejarahlah yang akan menilainya. [Non-text portions of this message have been removed]
