Notes Arjo Pilang:

SEKALI LAGI TENTANG "LETTERS FROM IWO JIMA"


2.  


Melalui "Mémoires" dan "Letters",  aku melihat  benar, seperti yang juga 
dikatakan oleh May Teo dalam tulisannya,  sikap Clint Eastwood  yang anti 
perang, anti kekerasan dan menempatkan masalah manusia serta kemanusiaan 
sebagai titik sentral. Clint  Eastwood mendekati tiga masalah ini dengan 
pendekatan HAM sehingga, terkesan padaku, bahwa karya-karya Eastwood mempunyai 
nilai universal. Melalui pendekatan begini, aku pun melihat bahwa universalisme 
itu bukannya sikap tidak berpihak. Komitmen seniman-seniman universalis, justru 
terletak kesetiaannya pada nilai-nilai manusiawinya. Jika dihubungkan dengan 
polemik Lekra versus Manikebu, jika polemik ini bebas dari peran kepentingan 
politik, aku jadi bertanya-tanya, apakah polemik demikian, bukannya suatu 
polemik semu? [Lihat: JJ. Kusni, "Menoleh Ke Belakang Melirik Esok", in: Jurnal 
Demokrasi & HAM",  Vol.5. No.2, 2005,  Habibie Center, Jakarta, hlm-hlm. 
57-81].  


Sikap anti perang, anti ketidakmanusiaan serta anti kekerasan ini,  kukira, 
merupakan sikap sangat aktual dan relevan di kehidupan kita hari ini. Sulit 
dibayangkan bahwa Eastwood, seperti halnya dengan Costa Gravas, mungkin membuat 
filem-filem begini, jika ia hampa wawasan, tanpa keberpihakan serta hampa 
pengetahuan,  tidak melakukan studi serius tentang masalah yang ia olah. 
Instingtisme agaknya tidak padan untuk menjawab masalah dan menggarap suatu 
tema. Dari dua filem Eastwood ini, aku juga melihat bahwa  pengetahuan, wawasan 
manusiawi dan kemampuan tekhnik, merupakan tiga unsur yang diharapkan dari 
seorang seniman dalam mencipta.


Dengan pendekatan seperti di atas dan tiga unsur di atas, Eastwood melihat 
bahwa sikap tidak manusiawi tapi juga yang manusiawi, terdapat pada keduabelah 
pihak yang sedang berperang.Hal ini ditunjukkan oleh Eastwood melalui 
penembakan dua tentara Jepang yang mengibarkan bendera putih kepada tentara 
Amerika. Sedangkan pada pihak Jepang,  kekerasan dan ketidakmanusiawian itu 
digugat oleh Clint melalui peristiwa pembunuhan seekor anjing milik keluarga 
Jepang yang ditinggalkan oleh suaminya untuk ikut perang. Sedangkan sikap 
manusiawi pada kedua belah pihak, ditunjukkan oleh Clint melalui dirawatnya 
seorang Letkol Amerika yang ditembak ketika akan menyerbu sebuah terowongan 
pertahanan tentara Jepang. Juga dari sikap Jendral Kuribayashi terhadap 
prajurit-prajuritnya serta hubungannya dengan orang-orang Amerika saat ia 
bersekolah di AS. Atau keputusan-keputusan sang jenderal untuk mengungsi 
penduduk sipil,   yang sadar benar bahwa ia sedang memimpin perang untuk kalah. 
Sadar bahwa Iwo Jima adalah kuburannya. Di pihak lain, di samping memahami 
sikap orang Jepang tentang bunuh diri, agaknya Clint juga menyelipkan kritiknya 
terhadap  "harakiri" atau pemenggalan kepala saat seorang tentara merasa gagal 
merampungkan misinya dan militerisme dengan disiplin matinya. Rasanya, Clint 
tidak mungkin memahami masalah antropologis begini, jika sebagai sutradara ia 
tidak mempelajari kebudayaan Jepang secara memadai dalam pembuatan filem 
"Letters" ini. 


Menonton filem "Letters" ini,  aku mendengarkan banyak pesan, harapan dan makna 
yang disampaikan secara artistik serta menguggah perasaan oleh Eastwood dengan 
memainkan psikhologi penonton. Melalui usaha memahami manusia seutuhnya sebagai 
manusia dengan kelebihan dan kelemahannya. Bukan sebagai "manusia supra". Di 
hadapan keterpaksaan sejumlah jenderal dan prajurit melakukan perang dan sadar 
akan buruknya perang bagi pihak mana pun, apalagi melaksanakan perang yang 
pasti kalah,  aku melihat adanya tragedi serta bahayanya nasionalisme membuta. 
Seni oleh Clint dijadikan sarana untuk menyampaikan mimpinya dunianya. Mimpi 
dunia ini ia suguhkan melalui tokoh-tokoh dan permasalahan mereka, pikiran  dan 
perasaan mereka. Banci sikap,  nihilis dan egotis atau narsistik? "Mémoires" 
dan "Lettres" memperlihatkan bahwa Clint Eastwood bukanlah seniman jenis 
demikian. Wacana dituangkan dalam bentuk artistik, apakah bukan ini yang 
disebut seni? Sedangkan universalisme manusiawi memperlihatkan peran 
sastra-seni dan kedudukan sastrawan-seniman dalam masyarakat. Jika demikian, 
adakah tanahair bagi sastrawan dan seniman, kecuali sastra-seni itu sendiri?***


JJ. Kusni
--------------
Paris, Februari 2007.


[Selesai]

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke