Notes Arjo Pilang:
KEKUASAAN POLITIK DAN SASTRA
3.
Sebagai perbandingan lain guna mencoba menjawab pertanyaan hakiki Bung Akmal
di atas, secara sepintas aku ingin mengambil contoh sastra samizdat yang muncul
di masa Uni Soviet.
Samizdat adalah karya-karya para penulis Unis Soviet yang beredar di bawah
tanah pada masa "garis tunggal" diberlakukan kepada para sastrawan-seniman
negeri tersebut yang dilaksanakan dibawah pengawasan Himpunan Pengarang Soviet.
Karya-karya ini sebagian diselundupkan keluar, terutama ke Eropa Barat. Bahkan
di Paris, Perancis pernah terbit sebuah majalah khusus untuk mempublikasikan
karya-karya ini.
Dengan contoh samizdat ini, yang ingin kuperlihatkan adalah bagaimana "garis
tunggal" pilihan kekuasaan politik membuat sastra-seni memunyai satu "warna"
atau "corak", sehingga sastra-seni tidak menjadi "taman bunga untuk mekar
bersama". Tapi adanya sastra samizdat ini pula nampak bahwa kebebasan berkarya
agaknya tidak gampang-gampang dimatikan oleh tindakan-tindakan adminstratif.
Bahkan tidak sedikit para sastrawan-seniman yang sanggup menanggung segala
resiko dalam berkarya. Penindasan dan penyeragaman akan melahirkan jenis
sastra-seni lain yang menentangnya. Sastra-seni yang melawan arus sekalipun
bergerak di bawah tanah. Keadaan ini pun, kukira terdapat di Indonesia pada
beberapa kurun zaman sejarahnya, termasuk pada masa negeri ini berada di bawah
Orde Baru Soeharto dengan pendekatan "keamanan dan stabilitas nasional"nya yang
amat ketat. Masa Orba melahirkan sejenis sastra bawah tanah. Tetralogi pulau
Buru Pramoedya A Toer pada mulanya juga beredar di bawah tanah
dari tangan ke tangan, dalam bentuk stensilan sebelum Hasta Mitra Jakarta
berkeputusan menerbitkannya secara terbuka. Aku tidak tahu, sampai sekarang,
adakah pihak-pihak, terutama para akademisi, yang tertarik meneliti sastra
bawah tanah di Indonesia ini, baik yang di dalam negeri mau pun di luar negeri.
Mengenal sastra bawah tanah ini, kukira, akan melengkapi panorama kehidupan
sastra kita pada suatu periode. Dengan melihat sastra legal atau sastra resmi
dan "illegal" atau bawah tanah ini, kita jadi mengenal wajah pemikiran dan
mentalitas kita, terutama pola pikir dan mentalitas para cendekiawan kita pada
suatu kurun waktu. Mengenal dua sisi kehidupan sastra ini, kita juga,
barangkali bisa mengetahui tradisi apa yang ada dalam sejarah sastra-seni kita.
Penindasan untuk menyeragamkan sastra-seni bertentangan dengan watak
sastra-seni itu sendiri. Penindasan akan melahirkan gaya pengucapan sendiri.
Simbolisle menjadi subur. Barangkali dari segi inilah lambang "AKU" atau "kuda
jalang yang tak diikatkan pada siang dan malam" Chairil Anwar menjadi
kristalisasi semangat perlawanan rakyat pada pendudukan militerisme Jepang atas
Indonesia pada Perang Dunia II. Atau lagu "Maju Tak Gentar" Cornel Simanjuntak,
poster "Ajo Bung!" Affandi. Penindasan akan melahirkan dua jenis sastra-seni
yaitu sastra loyalis alias pembudakan dan yang lain sastra-seni perlawanan.
Keadaan serupa juga kita saksikan di dalam sejarah Perancis, pada masa
pendudukan Nazi Jerman. Bahkan jauh sebelum itu, Zola sudah habis-habisan
melakukan perlawanan terhadap pemerintah yang secara tidak adil menuduh Kapten
Dreyfus sebagai pengkhianat.
Sastra-seni penindasan dan sastra-seni perlawanan, kukira, merupakan dua sisi
dari kehidupan sastra suatu bangsa. Penindasan adalah kendaraan yang
mengangkut benih-benih perlawanan di berbagai bidang. Sebab umumnya penindasan
itu bersifat total, maka perlawanan pun akan bersifat total , jika menggunakan
istilah Truong Chinh , salah seorang pemimpin perlawanan anti Jepang dan
kolonialis Perancis. Totalitas ini menyusup ke dunia sastra. Wajah dominan
sastra-seni pada suatu kurun waktu, biasanya ditentukan oleh pilihan politik
kekuasaan politik pada kurun waktu itu. Pembudakan dan perlawanan mengujudkan
diri secara pikiran dan mentalitas pada tokoh kongkret sastrawan-seniman.
Karena itu di Perancis, Pramoedya A Toer dilihat sebagai "jiwa Indonesia" yang
berlawan, penyair Aimé Cesaire dinilai sebagai "jiwa Martinik dan Guadaloupe",
Jean-Paul Sartre dianggap sebagai jiwa "Revolusi Mei 1968 Perancis". Sementara
Ferdinand Celine di Perancis sebagai wakil dari sastrawan yang
pro Nazi. Sastra-seni yang utuh suatu negeri adalah kehadiran dua jenis
sastrawan-seniman ini. "Keduanya patut dicatat. Keduanya dapat tempat", jika
menggunakan ungkapan Chairil Anwar, dan apabila kita menyetiai kenyataan
sebagaimana adanya kenyataan serta tidak memutihkan halaman-halaman sejarah.
Pandangan Chairil di atas, kukira adalah suatu pandangan dan sikap sejarah
sekaligus pandangan dan sikap realis pada kehidupan.
Dari dua segi kehidupan sastra-seni yang utuh di atas, kiranya bisa kelihatan
betapa pilihan politik sebagai ujud dari suatu pandangan dunia sangat erat
kaitannya dengan karya sastra-seni dan mempengaruhi perkembangan sastra-seni.
Secara sosiologis hal ini dinyatakan dalam istilah "elite dominan" dan "elite
tandingan" [contre élite]. Apakah seorang seniman sadar atau tidak akan hal
ini, adalah soal lain lagi. Sadar dan tidak, steril atau tidak, menyangkut
kadar seseorang pada suatu ketika.
Sekarang, aku mencoba melihat posisi sastra-seni Perancis dalam konteks
Republik Ke-V serta pemilihan presidensial yang akan berlangsung pada Mei tahun
ini, untuk menjawab pertanyaan Bung Akmal.***
Paris, Februari 2007
---------------------------
JJ.Kusni
[Bersambung......]
---------------------------------
Real people. Real questions. Real answers. Share what you know.
[Non-text portions of this message have been removed]