Notes Arjo Pilang
SUMBANGAN SASTRA INTERNET KEPADA SASTRA NASIONAL Dalam laporannya berjudul "Cerita Sampul, Merayakan komunitas, Mengkaji Selektifitas", tentang kegiatan milis-milis sastra yang disiarkan oleh milis [EMAIL PROTECTED] [26 Februari 2007], Akmal N Basral, sastrawan dan wartawan Tempo, antara lain menulis: [Maaf, kutipan agak panjang]. "Di mata Ibnu Wahyudi, dosen Sastra Bandingan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia yang juga pengamat aktif milis-milis sastra, fungsi utama dari keberadaan milis-milis ini baru sebagai wadah komunikasi dan medium untuk menampilkan identitas. "Saya kira masih belum terlihat kontribusinya bagi perkembangan sastra nasional," ujarnya. Penyebab pertama adalah karena semua karya bisa tampil tanpa ada otoritas yang menyeleksi mana karya yang layak, mana yang belum layak. Campur aduknya kualitas karya membuat bobot rata-rata karya dari para "sastrawan internet" ini masih harus ditakar dengan seksama. "Bukan berarti tidak ada yang bagus, tapi masih lebih banyak yang kurang bagus dibandingkan yang bagus," tuturnya. Penyebab kedua, adalah muara keinginan para anggota milis yang tetap memimpikan karyanya dicetak seperti karya-karya sastrawan sebelum era internet. "Bagi saya ini agak aneh, karena jika penekanannya pada kata maya, seharusnya karya-karya itu tidak perlu dibukukan," ujarnya. Namun Ibnu Wahyudi masih melihat peluang bagi para anggota milis untuk memberikan pengaruh positif bagi perkembangan sastra nasional, "sepanjang unsur selektifitas tidak dilupakan," simpulnya. "Tanpa itu, saya khawatir fungsi milis hanya berakhir sebagai sarana silaturahmi." Sebuah sinyalemen yang layak diperhatikan para "sastrawan internet" di berbagai milis, di tengah keriaan selebrasi masing-masing komunitas." Masalah lain yang menarik perhatianku dari laporan Akmal N Basral ini adalah masalah "selektifitas". Sebagai alternatif dari seleksi para redaktur atau moderatorn tanpa mengabaikan mutu tulisan maka aku usulkan jalan yang kunamakan "otoseleksi". Bagaimana penterapan otoseleksi ini di sastra internet jika sastra internet ingin memberi "pengaruh" pada perkembangan sastra nasional, jika menggunakan istilah Ibnu Wahyudi dari Universitas Indonesia dan digarisbawahi oleh Akmal N Basral? "TEKS BEBAS" SEBAGAI JALAN KELUAR?! Otoseleksi, yaitu seleksi yang dilakukan oleh para penulis sendiri sesuai wawasan mereka dalam menulis, kukira sejalan dengan apa yang disebut oleh Sam Haidy sebagai "teks bebas" [free text]. "Sekarang adalah era free text, teks bebas. Tulisan yang masih perawan bebas berhubungan intim dengan pembaca, tanpa disunting terlebih dahulu, tanpa editor sebagai penghulu. Mari kita rayakan pesta teks bebas sebagai gaya hidup yang sehat!", tulis Sam Haidy di milis apsas, 03 Maret 2007. Barangkali yang dimaksudkan oleh Sam [tolong dikoreksi jika salah] dengan "era" lebih menunjukkan kepada syarat tekhnologi yang memungkinkan adanya media elektronik, sehingga siapa pun bisa melahirkan sebuah "teks". Tekhnologi yang sama sekali tak dikenal sebelumnya. Walau pun di sementara milis teks-teks itu masih dimoderasi, apalagi suratkabar dan majalah, "teks bebas" ini masih jauh dari kenyataan. Sehingga apakah benar sekarang bisa diklasifikasi sebagai "era teks bebas" masih menjadi suatu pertanyaan. Barangkali akan lebih tepat jika disebut sebagai "menjurus" ke suatu era, walau pun jika dikaitkan dengan berbagai kepentingan lebih luas dan berpengaruh, apakah "era teks bebas" yang diimpikan oleh Sam akan segera jadi kenyataan penuh. "Teks bebas" barangkali lebih tepat merupakan suatu perspektif idealis. Karena Negara sekali pun dilemahkan oleh globalisasi kapitalis, masih belum bisa "fading away", "melenyap" jika menggunakan istilah V. I. Lenin dalam karyanya "Tentang Negara" [terjemahan karya ini sudah diterbitkan oleh Indonesia Tera Magelang di bawah nama Fuspad, dengan kata Pengantar Joesoef Ishak dari Hasta Mitra Jakarta]. "Melenyapnya" Negara bukanlah proses dekade tapi mungkin dalam takaran abad. "Teks bebas" , apalagi disebut sebagai suatu "era" dalam suatu konteks Indonesia, di mana fanatisme yang bersifat keagamaan dan belum punahnya militerisme, kukatakan tidak lebih dari suatu perspektif idealis, dan bukan suatu kenyataan. "Kebebasan" di internet yang itu pun sering dimoderasi, hanyalah bagian kecil dari suatu kenyataan negeri. "Kebebasan" dalam artian bagian ndari nilai republiken di negeri kita masih suatu proses dan dinilai oleh hasil pertarungan berdarah-darah. Tidak sesederhana yang dibayangkan oleh mimpi atau keinginan serta semangat muda yang menggebu-gebu kadang kurang berhitung dan kurang cermat membaca keadaan atau terlelap oleh hura-hura sebagai ujud eskapisme. [ Untuk ini aku memerlukan penjelasan rinci dari Sam Haidy yang barangkali mempunyai alasan dan penjelasan tersendiri sebagai hasil bacaannya terhadap keadaan masyarakat negeri kita]. "Bebas" adalah satu segi dari suatu hal ikhwal yang bernama sastra. Mutu yang disebut oleh Ibnu Wahyudi adalah soal lain. Seperti kategori Budi Darma, jika berbicara tentang mutu maka kita tidak bisa mengabadi mutu isi dan bentuk. Kebebasan adalah syarat politik pengungkapan diri, yang merupakan sisi syarat dalam bersastra tapi bukan untuk menilai mutu karya sebagai hasil sastra. Dalam hal ini, aku mengerti dan sepakat dengan Cak Bono ketika mengatakan bahwa "Memang seleksi dibutuhkan" dalam artian untuk mencapai peningkatan mutu karya. Sayangnya Cak Bono tidak menawarkan jalan bagaimana melakukan "seleki" yang dikatakannya sebagai "memang diperlukan itu". Dan aku menganjurkan jalan "otoseleksi". Otoseleksi sejalan dengan ide "teks bebas" dan ide Cak Bono tentang memang perlunya seleksi. Otoseleksi, kukira sesuai dengan watak milis. Otoseleksi mengarah kepada tuntutan ototanggungjawab dan kesadaran bersastra. Sedangkan dengan menggarisbawahi "kebebasan teks", terkesan tidak mengindahkan mutu dan tanggungjawab. Lebih sekedar semangat-semangatan setelah kita melampaui era diktatorial Orde Baru Soeharto. Apa isi kebebasan dan bagaimana mengisi kebebasan itu secara bermutu tidak tergambarkan. Aku setuju bahwa dalam milis ada kesantaian. Tapi rasanya tidak berguna sama sekali, jika kesantaian ini disamakan dengan promosi diri, ber "hik-hik" yang tidak punya arti publik sementara internet mempunyai fungsi publik, sambil menerakan etiket sastra. Terlalu serius etiket "sastra"ini untuk mendampingi "hik-hik" dan segala ucapan selamat yang bersifat pribadi yang bisa dilakukan melalui japri. Tapi barangkali hal begini merupakan psikhologis produk suatu era yang asing dari masa remajaku. Hal yang kucoba memahaminya. Era sekarang barangkali lebih egostik dan memerlukan pengakuan sebagai ujud produk juga dari globalisasi kapitalis. Bahwa dirimu layak diperdagangkan di tengah persaingan demikian makin ketat. Ego jauh lebih penting daripada kepentingan mayoritas, bangsa dan negeri serta kemanusiaan yang sering kusaksikan ditempatkan pada deretan kursi "kelas kambing" di negeri ini, sebagaimana pernah disinyalir oleh Eros Jarot. Keadaan beginilah yang kubaca dari evaluasi Cak Bono, sebagai salah seorang moderator milis [EMAIL PROTECTED] bahwa "Pada dasarnya sastra internet memang selebrasi" dan bahwa milis adalah "Ajang silaturahmi...memang demikian adanya! Memang apsas secara milis berfungsi untuk itu, lain halnya bila apsas mempunyai kendara media tersendiri, blog resmi, media cetak berupa buletin dsb." Ini adalah suatu konsep. Berada di hadapan evaluasi "memang" begini aku merasa diriku berada sangat jauh berada di belakang dan sedang berpikir untuk tidak lagi terlibat dalam pembuangan waktu bermain-main yang bukan masaku lagi. Tentu saja ini adalah kekeliruanku sendiri. Juga tentu saja sifat "ringan" dan "sekedar begini" akan membuat suatu milis akan ramai dengan anggota. Ramai dan ramain tanpa mutu apakah gunanya selain memuaskan dan pamer diri? Apakah hasil dari ber "hik-hik" dan "silaturahmi" untuk sastra nasional? Inikah yang disebut "sastra internet"? Dengan sikap begini barangkali tulisan ini pun tidak sempat dan tidak bisa kurampungkan serta berkesimpulan salah mendapat tempat, seperti yang sering diucapkan oleh teman dekatku yang setia. Aku khawatir dengan sikap begini, milis sastra secara sukarela melepaskan peluang dalam bersastra dan memberikan "sumbangan" serta "pengaruh" pada sastra nasional sehingga tidak perlu diindahkan dan tak lebih dari "keranjang sampah". Padahal milis merupakan suatu sarana di mana demokratisasi sastra bisa diujudkan. Sulit kupahami, bagaimana anggota-anggota milis terdidik , termasuk yang bertingkat universiter [bangga lagi dengan gelar S1 , S2 dan S3 mereka], lelap dengan "hik-hik" dan asyik bersilaturahmi sementara negeri berada di ujung tanduk. Perkembangan sastra pun tidak terlalu istimewa dibandingkan dengan sastra negeri-negeri lain. Apakah milis dipandang sebagai tempat melepaskan diri dari galau kehidupan sehari-hari? Generasi apakah jenis ini? Di hadapan keadaan begini, aku sering menegur diri: Jika kau masih mencintai Indonesia, kau harus sanggup untuk tidak gila dan bersiteguh menyetiai mimpi tentang Republik dan Indonesia sementara nilai-nilai republiken dan berkindonesiaan masih dalam proses pengejawantahan serta sering dicuekkan sebagai kesia-siaan. Pikiran-pikiran begini melintas di benakku karena dibandingkan dengan masa remaja Yogyaku yang penuh keterbatasan sarana, adanya perkembangan tekhonologi hingga melahirkan milis seperti sekarang adalah peluang luarbiasa menguntungkan. Akukah yang tak bisa melihat perkembangan zaman dan psikhologi angkatan suatu bangsa? Boleh jadi. Dengan keterbelakangan ini, aku masih saja melihat mungkinnya dipadukan antara tanggungjawab bersastra serta memberi sumbangan dan pengaruh pada sastra nasional, dengan kesantaian. Aku sama sekali tidak melihat adanya pertentangan. Masalahnya terletak pada pengelolaan dan konsep pengelolaan serta wawasan bersastra dan bermilis. Bagaimana kongkretnya?*** Paris, Maret 2007 ------------------------ JJ.Kusni [Non-text portions of this message have been removed]
