http://www.indopos.co.id/index.php?act=detail_c&id=274760 Rabu, 07 Mar 2007, Nyleneh, Gus Dur Ingin Jadi Penyeimbang
Rektor UMM dalam Bedah Buku Komunitas Tabayun Soal Sikap Gus Dur SURABAYA - Pemikiran mantan Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang sering terlihat aneh, menurut Rektor Universitas Muhammadiyah Muhadjir Effendy, bukanlah sesuatu yang asal beda. Namun, itu adalah upaya Gus Dur untuk menciptakan perimbangan di tengah-tengah masyarakat. "Seperti dalam membela Inul (ratu ngebor Inul Daratista, Red), saya pikir Gus Dur bukan setuju dengan goyangnya Inul. Tapi, lebih dimaksudkan untuk memberikan perimbangan," ujarnya. Muhadjir menyampaikan itu kemarin ketika tampil sebagai pembicara dalam bedah buku Islam Ku Islam Anda Islam Kita yang digelar Komunitas Tabayun di Graha Pena Jawa Pos. Selain Muhadjir, tampil sebagai pembicara tokoh muda NU yang juga wakil wali kota Surabaya, Arif Afandi, dan Direktur The Wahid Institute Ahmad Suaedy. Sekitar 200 orang menghadiri bedah buku tersebut. Di antara hadirin, ada seorang profesor ilmu politik dari Amerika Serikat, Michael Steven Fish. Dia sedang melakukan penelitian soal Islam di Indonesia. Hadir pula Pembantu Rektor II IAIN Sunan Ampel Surabaya Prof Dr Nursyam. Dalam diskusi yang dipandu Direktur Pemberitaan J-TV Imam Syafii itu, Muhadjir menuturkan, Gus Dur berani mengambil posisi seperti itu karena dia sadar bahwa dirinya memiliki modal yang cukup besar. Yakni, sebagai cucu Hadratussyech KH Hasyim Asy'ari, sebagai mantan ketua umum PB NU, dan sebagai intelektual. "Dengan kelebihan seperti itu, Gus Dur akhirnya bisa memosisikan diri sebagai pengimbang. Ini adalah kelebihan Gus Dur yang tidak dimiliki tokoh lain," jelas tokoh Muhammadiyah yang mengaku cukup dekat dengan pemikiran Gus Dur tersebut. Muhadjir lalu menegaskan, se-nyleneh apa pun pemikiran Gus Dur, tapi mantan presiden itu masih dalam rel Islam. "Sejauh yang saya amati, Gus Dur tidak pernah menyamakan Islam dengan agama Islam. Bagi Gus Dur, Islam tetap sebuah agama yang dia yakini kebenarannya." Arif Afandi yang tampil sebelum Muhadjir menuturkan, di tengah ke-nyleneh-an Gus Dur, ada satu hal yang bisa digarisbawahi. Yakni, ideologi pembelaan yang dipegang Gus Dur. Dia selalu memberikan pembelaan kepada pihak-pihak yang teranianya. Dalam kasus itu, Arif mencontohkan sikap Gus Dur terhadap intelektual muda NU Ulil Absar Abdalla. Dalam banyak kesempatan, Gus Dur semestinya mengkritik sikap Ulil yang liberal. Namun, ketika Ulil dihujat sekelompok umat Islam dan akan dibunuh, Gus Dur dengan lantang membelanya. "Jadi, intinya, Gus Dur itu tidak mau ada pihak-pihak yang dominan, lalu mendiskreditkan pihak yang lemah," ujarnya. Suaedy menambahkan, untuk membuat perimbangan, Gus Dur sering melawan arus yang berkembang. "Contohnya, ketika Gus Dur diusir oleh FPI di Purwakarta. Ketika reaksi yang mengecam pengusiran itu begitu besar, Gus Dur malah dengan enteng mengatakan bahwa dirinya tidak diusir." (ded) [Non-text portions of this message have been removed]
