08 Maret 2007  8:37:00Ma'ruf Amin: Persuasif Edukatif Hadapi ‘’Dai
Militan‘’


Jakarta--RoL-- Ketua Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia, Ma'ruf Amin
mengakui masih ada dai militan, yang mempunyai fanatisme tinggi sehingga
kerap terdengar ketika berdakwah menggunakan "ayat-ayat perang" ,
memusuhi kalangan tertentu padahal situasi di tanah air dalam keadaan
damai.


Para dai militan dan punya fanatisme berlebihan itu memang harus diberi
pemahaman yang tepat , katanya, di Jakarta, Kamis, ketika dimintai
tanggapannya seputar komentar Menteri Urusan Keislaman, Wakaf, Dakwah
dan Penyuluhan Arab Saudi, Sheikh Saleh bin Abdul Aziz bin Muhammad bin
Ibrahim Al-Seikh bahwa para dai militan di negerinya dapat diperbaiki.


Sheikh Saleh sebelumnya bersama rombongan bertemu dengan Menteri Agama,
Muhammad Maftuh Basyuni di Jakarta, Selasa, untuk membicarakan berbagai
hal, antara lain penyelenggaraan pendidikan swasta dan pemberdayaan dana
zakat. 


Juga dibicarakan kerja sama memerangi terorisme dan pendidikan/
pelatihan mengelola zakat, wakaf dan dakwah. Rencananya, realisasi kerja
sama tersebut akan dirumuskan dalam bentuk naskah saling pengertian
(MOU) bilateral.


Menteri Sheikh Saleh mengatakan, di negerinya para dai memiliki izin
dalam berdakwa. Ketika para dai tersebut punya fanatisme berlebihan,
maka mereka harus diperbaiki dengan cara mengikuti pendidikan sehingga
dapat diluruskan pikirannya.Kalaupun tak dapat diperbaiki lagi, maka dai
bersangkutan tak dapat lagi melakukan aktifitasnya.



Perbaiki dai

Untuk di tanah air, kata Ma'ruf Amin, tak ada lembaga yang ditugasi
untuk memperbaiki para dai yang dinilai punya paham "militan". Kendati
diakui masih ada dai punya fanatisme dan sampai kini tak ada yang
dilarang untuk berdakwah.


Ia setuju jika para dai memiliki persepsi yang sama dalam berdakwah,
sehingga dalam pelaksanaanya pun tak keluar dari ketentuan dan koridor
ajaran Islam. Namun untuk meniru sepenuhnya seperti di Saudi Arabia,
maka hal itu tak mungkin dapat dilakukan.


Yang penting, kata dia, agar dai dapat melaksanakan tugasnya dengan baik
maka perlu ada kesamaan langkah antarulama, termasuk MUI. Pola yang
digunakan untuk meningkatkan kualitas para dai adalah persuasif
edukatif.Dengan demikian, ajakan memerangi kelompok lain menggunakan
"ayat perang "dapat dihindari. "Di Indonesia sekarang tak ada perang,
sehingga jangan gunakan "ayat perang" . Itu faham yang salah, misalnya
untuk ngebom," ujar Ma'ruf Amin.


Diakui jika dai salah 'menerjemahkan' ayat maka akan timbul bahaya di
tengah masyarakat. " Pahamnya sih tak salah, tapi bisa salah paham,"
ujar dia.Mengenai kemungkinan dai tak dipakai atau dinonaktifkan karena
punya faham militan, Ma'ruf mengatakan, Indonesia adalah negara yang
demokratis. Jika pendekatan kepada para dai dilakukan dengan cara-cara
represif maka akan mendapat tantangan. "Itu pasti ditolak," katanya. 


Jadi, menurut dia, pendekatan yang tepat adalah persuasif edukatif.
Harus ada perbaikan dan penyamaan persepsi sehingga materi dakwah yang
disampaikan kepada masyarakat akan memberikan kesejukan dan kedamaian.
Antara

yto

  _____  

Berita ini dikirim melalui Republika Online http://www.republika.co.id
Berita bisa dilihat di :
http://www.republika.co.id/Online_detail.asp?id=285406&kat_id=23
<http://www.republika.co.id/Online_detail.asp?id=285406&kat_id=23> 


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke