http://www.indopos.co.id/index.php?act=detail_c&id=275115
Jumat, 09 Mar 2007,
Waspadai Propaganda Amerika


Ketua MA Iran Temui Hasyim Muzadi
JAKARTA - Ketua Mahkamah Agung Republik Islam Iran Ayatollah Sayyed Mahmoud 
Hashemi kemarin berkunjung ke Indonesia. Selain menemui Ketua MA Bagir Manan, 
kepala yudikatif negeri Persia itu juga bertemu dengan ulama-ulama di Kantor PB 
NU. 

Dalam acara bertajuk Ulama Gathering itu, Hashemi didampingi Duta Besar Iran 
untuk Indonesia Behrooz Kamalvandi. Hadir juga Menteri Luar Negeri Hassan 
Wirajuda, Ketua Umum PB NU Hasyim Muzadi, dan Rais Syuriah PB NU KH Ma'ruf Amin.

Menurut Hashemi, umat Islam di seluruh dunia perlu mewaspadai propaganda 
Amerika Serikat (AS). Pertikaian antaraliran Islam di Timur Tengah saat ini, 
kata Hashemi, merupakan akibat ulah AS. "Krisis di Iraq, Afghanistan, dan 
lain-lain bukanlah akibat perselisihan ulama, tetapi semua karena ulah AS dan 
negara sekutunya," kata Hashemi.

Menurut Hashemi, perbedaan paham dan keyakinan antaraliran tidak pernah 
menyulut perpecahan. Sejak berabad-abad lalu, hubungan keduanya (Syiah dan 
sunni) sangat baik. "Mereka (Syiah-Sunni, Red) selama ini hidup berdampingan 
dan saling menghormati," ujarnya.

Hashemi menceritakan, dirinya pernah tinggal 30 tahun di Iraq. Selama itu tidak 
pernah dia melihat atau mendengar orang Syiah membunuh orang Sunni atau orang 
Sunni membunuh orang Syiah. Mereka hidup damai. Tidak ada fanatisme di antara 
mereka," terangnya.

Selain membahas pertentangan Syiah-Sunni, dialog kemarin juga membicarakan 
rencana pertemuan ulama sedunia yang akan dilaksanakan di Indonesia 2-3 April 
mendatang. "Saya yakin NU mampu mengumpulkan ulama sedunia. Tapi, mereka yang 
mudah mengafirkan orang lain hendaklah tidak datang. Saya menyambut baik ide 
itu. Syaratnya satu, mereka yang hadir adalah ulama-ulama yang tidak mudah 
mengafirkan orang lain," pinta Hashemi.

Ketua Umum PB NU KH Hasyim Muzadi mengatakan, pertemuan ulama sedunia itu akan 
mencari solusi bagi dunia Islam keluar dari isu-isu jebakan. Selama ini, 
menurut dia, dunia Islam seakan terpedaya oleh tipu muslihat AS dengan isu-isu 
sektarian tersebut.

"Di Iraq, pertikaian Syiah-Sunni terjadi setelah pendudukan AS dan negara 
sekutunya. Gerakan intelijen kemudian 'memproses' perbedaan-perbedaan di antara 
Syiah dan Sunni menjadi permusuhan, peperangan, dan tindak kekerasan lainnya. 
Memang, ada perbedaan paham dan keyakinan di antara mereka. Tapi, 
perbedaan-perbedaan itu kemudian "diproses" menjadi kebencian," jelas 
Hasyim.(tom)




[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke