Surat Sutera Putih.
POLITIK-EKONOMI DAN SASTRA-SENI MALINKUNDANG Dalam rangka persiapan pemilihan presidensial Perancis yang akan dilangsungkan awal Mei 2007 mendatang, kembali France2, salah satu kanal tivi Perancis, kemarin malam [08 Maret 2007] menayangkan acara "Anda Bertanya". Melalui acara ini, seluruh lapisan warga negara Perancis diberikan kesempatan untuk bertanya tentang soal apa saja kepada kandidat presiden sehubungan dengan program yang mereka tawarkan kepada rakyat. Di moderator oleh kepala bagian pemberitaan France2, Arlette Chabot, salah seorang wartawan politik terkemuka negeri ini, acara kali ini menampilkan Nikolas Sarkozy, kandidat resmi dari partai UMP, yang sejak lima tahun ini menguasai Perancis baik di legislatif mau pun eksekutif. Lebih dari tahun-tahun pemilihan langsung presidensial sebelumnya, pemilihan tahun ini, sifat adu program terasa lebih menonjol disebabkan oleh kejenuhan warga Republik Perancis akan peta bipolarisme politik "kiri" dan "kanan" sejak berdirinya Republik Ke-V. Kejenuhan ini antara lain dicerminkan oleh naiknya secara menyolok François Bayrou, kandidat partai tengah, UDF dengan konsep "rekonsolisasi nasional" yang menyatukan golongan "kiri" dan "kanan" dalam satu pemerintahan jika ia terpilih. Cerminan lain, antara lain juga nampak dari artikel di majalah "La Philosophie" mempertanyakan apakah sebenarnya perbedaan antara "kiri" dan "kanan". Pertanyaan begini pun sudah merembet ke dunia akademi, terutama di kalangan ilmuwan sosial. Perkembangan terakhir memperlihatkan bahwa tidak sedikit cendekiawan-cendekiawan yang sebelumnya dikenal sebagai cendekiawan "kiri", untuk pemilu presidensial mendatang, secara terbuka akan memilih Sarkozy sebagai kandidat partai kanan. Mutasi sikap ini hanya cerminan di tingkat bangunan atas dan elite tentang kegalauan sosial. Program-program yang ditawarkan oleh sepuluh kandidat, mulai dari partai ekstrim "kanan" hingga ke partai ekstrim "kiri", setelah mendapat tandatangan persetujuan dari 500 gubernur dan walikota, merupakan hasil kerja dari Tim Litbang [Penelitian dan Pengembangan] masing-masing Partai setelah membaca keadaan masyarakat dari waktu ke ke waktu sepanjang sejarah Republik Ke-V. Bacaan ini kemudian disimpulkan menjadi program dan teoritisasikan serta diikhtisarkan ke dalam slogan pemilu. Misalnya Segolène Royal, kandidat dari Partai Sosialis [PS]yang dipilih oleh para anggota partai dari tiga calon PS, dengan suara 62% , mengetengahkan program "Pakta Presidensial" dan konsep "Demokrasi Partisipatif" berslogankan "Tanpa Anda Perancis Tidak Bisa Berbuat Apa-apa". Sedangkan Le Pen, mantan letnan parasutis Prancis, dari Front Nasional, tahun lalu menjadi tandingan Chirac dalam duel di ronde kedua pemilu, mengetengahkan semboyan:" Identitas, lapangan pekerjaan yang marak, keadilan sosial, kedaulatan, keamanan, kemerdekaan, kemakmuran ekonomi, otoritas Negara". Oleh adanya 2 juta lebih pengangguran di antara 64 juta penduduk, jumlah yang tidak kecil jika dilihat dari jumlah penduduk aktif, maka masalah sosial-ekonomi menjadi masalah dominan sangat diperhatikan oleh kandidat dan para pemilih. Dominasi soal sosial-ekonomi ini agaknya memperlihatkan kesatuan pandangan partai-partai politik bahawa kegalauan sosial-ekonomi menjadi sumber "pemberontakan banlieu" [pinggiran kota] dua tahun lalu serta keresahan mahasiswa di seluruh negeri. Sarkozy yang tampil malam ini, melihat musabab kegalauan sosial-ekonomi, pendidikan,kebudayaan dan kesehatan, terletak pada mandegnya Perancis. Perancis dilihat oleh Sarkozy, putera dari orangtua imigran pengacara, kehilangan dinamika. Terjebak pada konsep "kiri" dan "kanan" yang usang. Karena itu ia menawarkan konsep "reformasi" sebagai jalan keluar bagi Perancis. Dan dengan konsep ini semalam ia mengatakan jika terpilih, ia adalah presiden nasional, bukan presiden dari partai. Untuk menghadapi tantangan Bayrou, Sarkozy juga sempat mengatakan bahwa ia pun tidak ada keengganan untuk mengambil tokoh dari golongan "kiri" sebagai menterinya. Bagaimana konsep "reformasi Perancis" Sarkozy ini di bidang sastra-seni? Ketika menjelaskan soal ini, Sarkozy pertama-tama tidak melihat masalah pendidik, kesehatan, sosial-ekonomi dan kebudayaan, termasuk sastra-seni sebagai sesuatu yang saling tak kait-mengait. Sebaliknya, bidang-bidang itu, ia lihat sebagai satu kesatuan dari masalah nasional yang tunggal dan saling berhubungan. Bagaimana kita memperbaiki sekolah, meningkatkan taraf pendidikan, penelitian, memperbaiki rumahsakit, membantu kreativitas para sastrawan dan seniman jika kita tak punya uang. Bagaimana kita bisa membeli tiket bioskop, konser, opera, membuat filem, dan lain-lain jika kita tak punya uang? tanya Sarkozy untuk menekankan arti penting reformasi politik sebagai masalah sentral. Agar rakyat mempunyai uang maka pekerjaan harus diciptakan. Jam kerja diperbanyak, bukannya dibatasi dengan 35 jam [undang-undang yang dibuat oleh Martin Aubry, Menteri Tenaga Kerja semasa pemerintahan Lionel Jospin dari PS]. Reformasi diperlukan agar Perancis bisa meningkatkan pertumbuhan ekonoiminya. Dengan pertumbuhan ekonomi inilah , kita membeayai segala kegiatan kita, termasuk kegiatan sastra-seni dan warganegara bisa memenuhi hajat konsumsinya sesuai dengan meningkatnya daya beli [pouvoir d'achat]. Meningkatnya daya beli akan berdampak balik pada perkembangan ekonomi. Demikian Sarkozy. Agaknya Sarkozy melihat bahwa, termasuk untuk pengembangan sastra-seni, diperlukan dasar ekonomi yang sehat. Ekonomi yang sehat bisa diperoleh dan diujudkan dengan reformasi politik secara menyeluruh. Reformasi politik akan berdampak besar pada berbagai bidang. Dalam hal ini, aku jadi teringat akan konsep "tikus dan kucing" Deng Xiao-bing serta seruannya kepada rakyat Republik Rakyat Tiongkok [RRT]: "Menjadilah kaya!" [To be rich!] . Aku juga teringat akan pandangan Lu Sin, yang di RRT pernah disebut sebagai "panglima kebudayaan" modern Tiongkok yang melihat bahwa sesorang sastrawan tidak mungkin menulis jika perutnya lapar. Lebih ekstrim lagi adalah nasehat kepada anak tunggalnya: "Janganlah menjadi pengarang jika kau takt gila". Tak lama setelah mendengar acara "Anda Bertanya", hari ini, aku membaca berita berikut: "Kawasan Timur Tengah, utamanya UAE alias United Arab Emirate, sedang berbenah secara pesat. Setelah Dubai yang dipimpin Sheikh Mohammed bin Rashid Al Maktoum ngebut untuk menjadi barometer properti kelas wahid, maka sekarang gantian Abu Dhabi yang dipimpin Sheikh Kalifa bin Zayed Al Nahayan, ingin menjadi pusat budaya dengan menggaet manajemen Louvre untuk membuka 'cabang' di sana. Dubai dan Abu Dhabi adalah kota kota di UAE. Persaingan di Timur Tengah memang lumayan ketat, dan sepertinya UAE ingin membuat cakupan wisatanya agar komplit". [Dari:Ari Condrowahono, "Museum Louvre Abu Dhabi Akan Dibuka, Warga Paris Protes, milis [EMAIL PROTECTED], 09 Maret 2007]. Berita ini kubaca sebagai tambahan contoh bahkan mungkin bisa dilihat sebagai contoh dari perujudan pandangan-pandangan tentang arti penting atau pengaruh dari pilihan politik dan kekuatan ekonomi bagi pertumbuhan kebudayaan, termasuk sastra-seni. Menjadi rahasia umum bahwa UAE adalah negeri yang kaya raya karena minyaknya. Dan bersandar pada kekuatan ekonomi hasil minyak ini ia "ingin menjadi pusat budaya". Secara lain bisa ditanya: Mungkinkah keinginan ini terujud jika pertama-tama tidak ada kemauan dan pilihan politik, lalu, kedua, mungkinkah keinginan ini dilaksanakan tanpa didukung oleh basis ekonomi? Paralel dengan keadaan ini, sebagai acuan, kita pun kiranya perlu mempertanyakan: Apa mungkin Amerika Serikat melakukan ofensif kebudayaan di seantero dunia sehingga terjadi semacam "Amerikanisasi global" jika tidak mempunyai basis ekonomi yang padan? Untuk pengembangan ekonomi pertanyaan Amartya Sen, pemenang Nobel ekonomi, tentang hubungannya dengan demokratisasi menjadi penting. Apabila pilihan politik dan keadaan ekonomi, berdampak langsung pada keadaan dan perkembangan bidang, termasuk sastra dan seni suatu negeri, pertanyaan berikutnya adalah masih semestinyakah para sastrawan-seniman menjadi a-politis? Pernyataan yang sering kudengar di Indonesia bahwa "aku seorang sastrawan-seniman, politik tidak menarik perhatianku", kukira pernyataan begini muncul karena ketidakjelasan konsepsional atau filosofis tentang hubungan politik-ekonomi dengan bidang-bidang lain, termasuk seniman dan sastra-seni itu sendiri. Barangkali kerancuan konsepsional begini merupakan salah satu hasil dari politik depolitisasi Orde Baru yang melahirkan barisan buta-aksara politik. Merasa tidak ada Kerancuan konsepsional begini juga mengurung para sastrawan-seniman di sebuah "menara gading" sebagai "anak raja" dan "pangeran" jika menggunakan istilah penyair Perancis, Paul Elouard. Sementara itu, jika kita membaca sejarah lahir dan berkembangnya sastra-seni, termasuk sastra lisan, ia selalu merupakan bagian dan satu dengan kehidupan. Ia lahir karena keperluan kehidupan dan untuk melayani kehidupan sehingga merupakan cerminan zamannya, sampai-sampai disebut sebagai "anak zaman". Ekspresi diri pribadi adalah produk dari zamannya juga. Pola pikir dan mentalitas suatu zaman pun adalah produk zaman tertentu, sebagaimana halnya "budaya takut" adalah produk era Orba Soeharto, imperium berdasarkan militerisme dan neo-feodalisme. Sastrawan-seniman "menara gading" karya "anak raja" dan "pangeran" akan melahirkan yang disebut oleh Todorov sebagai karya-karya "nihlisme dan otofiksi". Dilihat dari sejarah lahir dan berkembangnya sastra-seni maka karya-karya begini, barangkali bisa disebut sebagai sastra-seni Malinkundang. "Nihilisme dan otofiksi" barangkali sejenis sastra-seni Malinkundang juga adanya.*** Paris, Maret 2007 ------------------------ JJ. Kusni [Non-text portions of this message have been removed]
