Setiap kali saya datang ke acara pernikahan
sahabat-sahabat saya, selalu saja muncul kalimat yang
terus menerus tak bisa saya elakkan sepulangnya dari
berbagai acara pernikahan tersebut. Para tamu undangan
kerap berkata, "Yah memang sudah jodohnya."

Terus terang saya jadi terusik untuk membahas soal
tersebut. Apakah ketika dua orang manusia telah
mencapai sesuatu jenjang pernikahan berarti mereka
telah menemukan jodoh mereka masing-masing? Jika
benar, apakah ungkapan bahwa jodoh itu berada di
tangan Tuhan itu adalah benar? Sebab jika saya
meng-iyakan bahwa yang disebut jodoh itu adalah ikatan
pernikahan maka sebenarnya saya merasa ragu dengan
istilah jodoh itu berada di tangan Tuhan.

Mengapa saya ragu, sebab menurut saya bukan jodoh yang
terletak di tangan Tuhan, namun cinta yang berada di
tangan Tuhan. Ya, cinta yang timbul diantara dua anak
manusia ketika saling mencintai. Karena ketika makna
kata jodoh itu disamakan dengan ikatan pernikahan,
saya rasa itu bukan jodoh itu sendiri, sebab jodoh
adalah Cinta yang ada dalam diri mereka yang sedang
berjodoh. Jadi cintanya, bukan ikatan pernikahannya,
sebab ikatan pernikahan pun bisa didasari bukan karena
cinta, bisa jadi karena tuntutan keluarga (Orang tua
atau kerabat) atau faktor ekonomi.

Bagaimana ketika sebuah pernikahan kandas? Banyak yang
menjawab bahwa jodoh mereka kandas atau mengkambing
hitamkan jodoh itu sendiri bahwa jodoh itu tak mungkin
abadi. Lantas kemana cinta mereka? Pertanyaan ini juga
mungkin dijawab dengan ketidakkekalan cinta bagi
sesama umat manusia. Sebagian komunitas beranggapan
bahwa pernikahan itu tidak harus didasari oleh cinta,
ya itu boleh saja bagi mereka yang beranggapan bahwa
jodoh adalah ikatan pernikahan tersebut, meski
pernikahan mereka dilalui dengan jalan tanpa cinta
antara kedua pasangannya.

Namun bagi saya cinta adalah keharusan dua insan
manusia sebelum menjalani sebuah pernikahan, walaupun
seringkali ada yang berkata pada saya bahwa cinta bisa
dipelajari atau ditumbuhkan sambil menjalani
pernikahan, maka saya jawab mungkin saja bisa timbul
cinta, sebab bagaimana pihak wanita mau berkata tidak
mencintai suaminya meski pada awalnya suaminya bukan
lelaki pilihannya jika tubuhnya sendiri telah
dicampuri oleh suaminya dan mulutnya telah diberi
materi uang dan makanan. Wanita mana yang akan mengaku
tidak akan mencintai suami yang bukan pilihannya itu
jika sudah dibegitukan.

Ketika seorang pria mendengar pernikahan kekasihnya,
apakah hatinya tidak akan sakit sewaktu tahu beberapa
jam lagi kekasihnya itu akan ditiduri oleh sang suami,
dan entah bagaimana wanita kekasihnya dapat
menghindari pernikahan yang dianggap "jodohnya" itu
selagi jiwanya mencintai pria lain. Saya rasa hati
wanita itu pun juga sama tersayat perihnya, terlebih
harus menyerahkan tubuhnya bagi lelaki yang tidak
dicintainya atau bahasa saya lelaki yang bukan
merupakan jodohnya.

Jadi ketika jodoh saya harus dikorbankan bagi
suaminya, maka dada saya bagaikan tertancap ribuan
duri yang langsung menggantungi jantung saya. Ketika
itu pula saya merasa sesak, saya tidak menyalahkan
dirinya yang terpaksa meninggalkan saya, karena saya
tahu ia mencintai saya. Namun saya akan menunggu
seminggu atau dua minggu lagi, setelah pernikahan itu
terjadi, apakah dirinya masih menjaga cinta diantara
saya dan dia.

Jika pada akhirnya nanti ia terlena dengan benih cinta
baru yang telah disirami suaminya pada rahimnya itu,
maka saya akan melupakan dirinya. Karena saya tahu
hatinya lemah dan cintanya merapuh karena tak ada
cinta saya yang menguatkannya. Melainkan suaminya yang
merekayasa dengan keturunan dan harta benda. Maafkan
saya... Jodoh diantara kita telah memudar akibat
kehadirannya, maaf saya tak mampu memertahankannya.


        
        
                
___________________________________________________________ 
New Yahoo! Mail is the ultimate force in competitive emailing. Find out more at 
the Yahoo! Mail Championships. Plus: play games and win prizes. 
http://uk.rd.yahoo.com/evt=44106/*http://mail.yahoo.net/uk 

Kirim email ke