Surat Sutera Putih:
WATAK PUISI 2. Aku tidak tahu, apakah pertanyaan-pertanyaan Jean-Pierre Siméon dan konstatasi Todorov di atas, merupakan pertanyaan yang bisa diketengahkan ke dunia perpuisian Indonesia kekinian, termasuk sastra cybernya yang dikhawatirkan oleh Ibnu Wahyudi dari Universitas Indonesia, gampang terjerumus sebagai ajang silahturahmi. Apakah puisi Indonesia merupakan wilayah bermain keisengan dan sekedar sejenis "ceremony of life"? Pertanyaan-pertanyaan Simeon ini, kukira, jika mungkin dan padan dikenakan pada sastra Indonesia sekarang akan menyangkut masalah apa-bagaimana watak wajah perpuisian Indonesia kekinian. Ataukah pertanyaan-pertanyaan ini tidak relevan untuk konteks Indonesia -- nama yang menjurus dari keunikan dan penyimpangan sehingga yang putih bisa berarti hitam, yang hitam bisa dimaknakan putih. Beginikah, adakah, gejala integritas sastra dominan kita di bawah label konsep bahwa "segalanya bisa diatur", "komplotisme" dan "kroyokisme" jika menggunakan istilah alm. Pramoedya A. Toer, ujud lain dari jalan pintas dan kemalasan berpikir? Barangkali ada yang sewot dengan pertanyaan-pertanyaanku ini. Menganggap pertanyaan-pertanyaan tersebut sebagai hasil dari pendekatan "hitam-putih" dan tidak menetrapkan metode "positive thinking". Jika memang ada yang memandang pertanyaan-pertanyaan demikian kuajukan dengan pendekatan seperti itu, maka aku ingin menjelaskan bahwa pertanyaan pada galibnya mengandung hakekat ingin mendapatkan penjelasan didasarkan pada suatu hipotesa. Hipotesa tidak lain dari suatu keraguan dan bukan kesimpulan karena itu memerlukan penjelasan beserta pembuktian. Bukan ditanggap dengan tudingan memastikan. Menjawab hipotesa dengan tudingan memastikan tanpa keterangan dan apalagi tanpa pembuktian, kukira sama dengan tidak menjelaskan apa-apa yang tak jauh berbeda dengan metode berpikir jalan pintas, mie instan dan gampang-gampangan juga adanya. Ujud dari kemalasan berpikir. Apabila dasar pertanyaan hipotetis itu tidak benar, maka yang perlu dibuktikan bahwa dasar pertanyaan hipotetis itu tidak benar. Bahwa pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak relevan. Sedangkan metode pendekatan "positive thinking" itu sendiri, kukira berangkat dari hipotesa kemauan baik seseorang saat menghadapi interlokutornya. Bentuk dari toleransi, menyediakan ruang kebenaran pada pihak lain. Tapi tidak berarti sudah memastikan "harga" atau "nilai". Metode pendekatan "positive thinking", tidak juga bertujuan merenggut ruang bagi daya kritik. "Positive thinking" jadinya landasan dari suatu debat memburu hakekat. Sikap anti ini dan itu secara apriori, apalagi jika tidak dilandasi oleh pengetahuan yang layak, kukira, bertentangan dengan metode pendekatan "positive thinking". Apriori adalah bentuk lain dari jalan pintas juga. Menyederhanakan masalah, yang jarang sederhana, menjadi dua warna "hitam putih". Mutlak-mutlakan yang menganggap diri sebagai pemilik tunggal kebenaran. Pertanyaan hipotetis, apakah menyederhanakan soal? Pertanyaan hipotetis berdermagakan kuriusitas, merupakan sarana melaut mencari pantai-pantai kebenaran yang seperti kalimat tak punya titik. Pertanyaan hipotetis begini merupakan salah satu ciri atau watak puisi. Penyair akan mati selagi hidup tanpa pertanyaan hipotetis apalagi jika memandang puisi sebagai lapangan bermain keisengan. Sedangkan curhat menggunakan puisi, tidak otomatis menjadi puisi, tergantung pada kadar curhat dan curhat itu. Metode berpikir jalan pintas, kukira, sangat dominan di negeri ini. Apalagi "budaya takut", kebiasaan hanya mengucapkan "ya" dan tak berani mengucapkan "tidak" yang dominan selama Orba, tidak akan begitu saja hilang tanda-tanda dan pengaruhnya, sekali pun ketika Soeharto sudah tidak lagi menjadi "Presiden", banyak orang berlomba-lomba menyebut diri sebagai anti Orba. Sementara kenyataan dan matahari tidak bisa ditutup dengan telapak tangan. Apakah keadaan begini, bukan bentuk dari suatu mentalitas juga? Apakah ini bukan sikap terhadap diri sendiri? Kerusakan pola pikir dan mentalitas, sebatas penglihatanku, merupakan kerusakan terbesar tinggalan Orba Soeharto. Pelarangan 13 buku sejarah oleh Kejagung, apakah tidak merupakan petunjuk paling aktual?! Kesewotan bisa punya macam-macam makna. Pertama, ia memang punya dasar, dan jika ia tidak bia diberikan penjelasan berbukti, sewot memperlihatkan bahwa kebenaran dan kenyataan itu menyakitkan. Untuk sakit dan melihat buruknya muka jiwa yang bopeng, bukan hal yang gampang. Kesulitan tatapan dengan kebenaran sering membuat orang menafsirkan kritik atau pendapat yang berseberangan sebagai cacian, sebagai pendekatan "hitam-putih". Demikian juga halnya di dunia sastra. Dalam soal ini, aku pribadi, banyak belajar dari debat dan sikap berdebat di Perancis yang sudah mengabad, terungkap pada kata-kata "oui, mais..." [ya, tapi....] sebagai sikap dan tak mau menerima begitu saja suatu pernyataan. Menempatkan suatu pernyataan sebagai hipotesa. Debat bermula dari pendirian bahwa selain wahyu ada sumber kebenaran lain sehingga akhirnya terjelma dalam bentuk pemisahan Negara dan agama serta jabaran nilai "liberté, égalité et fraternité" sebagai hak-wajib dasar, yang secara singkat disebut nilai-nilai republiken. Istilah "warga negara" [citoyen/nne], sebenarnya tidak lepas dari rangkaian nilai ini juga. Apakah ini suatu "language game", "permainan kata"? Apabila ada yang memandangnya demikian, maka pertanyaan ini bisa dijawab dengan pertanyaan: Apa gerangan sebenarnya hakekat bahasa, cq, kata? Berabad lalu, Confucius sudah mengajarkan bahwa "para penyelenggara kekuasaan perlu memahami makna kata". Sastra, termasuk puisi, apakah bisa dibebaskan dari kata dan bahasa? Benar juga. Karena sastra menggunakan bahasa dan kata sebagai sarananya maka ia mengandung unsur "permaian kata" dan "bahasa". Jika masing-masing bangsa mempunyai sastra sendiri, artinya "permainan kata" dan "permaian bahasa" atau seni bahasa itu bukan monopoli Perancis saja. Sastrawan akan memberikan sumbangan kepada kesempurnaan bahasa yang ia gunakan, jika ia sadar bahwa ia bekerja dengan bahasa dan kata. Bisakah penyempurnaan bahasa diharapkan dari sastrawan jika ia sendiri meremehkan dan merusak bahasanya? Makin sempurna suatu bahasa makin tinggi daya ungkapnya. "Bahasa merupakan kunci dari kemajuan", ujar Maurice Druon dari l'Académie française, sebuah lembaga berprestasi yang menangani masalah perkembangan bahasa Perancis. Baris-baris di atas tidak lain merupakan jawabanku atas beberapa tanggapan prinsipil, baik dari segi metode pendekatan mau pun dari segi isi [substansi] atas bagian pertama "surat sutera putih" tentang "watak puisi" ini. Sekarang aku kembali ke soal pendapat Jean-Pierre Siméon, yang juga seorang penyair, tentang puisi dan arti Printemps des Poètes [Musim Semi Penyair] , suatu kegiatan perpuisian yang diorganisasi oleh Perancis dan lembaga-lembaga kebudayaannya melampaui batas wilayah Republik Perancis, bahkan sampai di Indonesia, seperti Jakarta dan Bandung. Terlebih dahulu, aku ingin menuturkan pendapat Siméon sebagai direktur artistik kegiatan "Printemps des Poètes", tentang kegiatan "Musim Semi Penyair" ini. *** Paris, Maret 2007 ----------------------- JJ. Kusni [Bersambung ....] [Non-text portions of this message have been removed]
