Surat Sutera Putih:
WATAK PUISI 3. Sekarang aku kembali ke soal pendapat Jean-Pierre Siméon, yang juga seorang penyair, tentang puisi dan arti Printemps des Poètes [Musim Semi Penyair] , suatu kegiatan perpuisian yang diorganisasi oleh Perancis dan lembaga-lembaga kebudayaannya melampaui batas wilayah Republik Perancis, bahkan sampai di Indonesia, seperti Jakarta dan Bandung. Terlebih dahulu, aku ingin menuturkan pendapat Siméon sebagai direktur artistik kegiatan "Printemps des Poètes", tentang kegiatan "Musim Semi Penyair" ini. "Printemps des Poètes", yang diselenggarakan saban tahun, oleh Siméon, dipandang sebagai "salah satu sarana atau cara melakukan perlawanan terhadap anggapan-anggapan salah terhadap puisi". Kegiatan "Printemps des Poètes" ingin mengatakan serta menunjukkan kepada masyarakat, dengan cara membaca dan membiarkan mereka membaca sendiri, teks-teks kekinian. Dengan cara ini, mereka bisa menyadari bahwa sesungguhnya puisi itu tidaklah seperti yang mereka perkirakan atau anggap. Apabila kita membaca dan memperhatikan "puisi-puisi riil" Perancis yang diciptakan dewasa ini, kita akan menyadari bahwa puisi Perancis sekarang, sangat-sangat beraneka-warna dan sebagian terbesar karya-karya tersebut makin besar dan membesar penggemarnya. [Kenyataan begini, membantah dugaan sementara orang di Indonesia yang menganggap bahwa dunia perpuisian Perancis sangat njelimet dan ketat sehingga tidak memberikan peluang bagi pembaruan-pembaruan. Aku tidak tahu dari mana asal-muasal dan bagaimana anggapan begini bisa muncul. Apakah dugaan dan anggapan begini berdasarkan pengenalan ataukah suatu kira-kira tak berdasar atau a priorisme?]. Selanjutnya, melalui kegiatan "Printemps des Poètes", diharapkan oleh Siméon, bisa ditunjukkan bagaimana memahami teks, berbeda dengan cara-cara yang dilakukan di sekolah-sekolah. Menurut Siméon, di sinilah justru terletak nilai penting "Printemps des Poètes". Dengan cara ini diharapkan orang-orang memasuki dunia puisi, seperti halnya mereka memasuki genre sastra yang lain, secara spontan, naif, tapi dengan penuh kecintaan. Karena merasakan puisi sebagai ucapan eksistensi diri, lepas dari segala a priori. Berhadapan dengan puisi sebagaimana laiknya kita melakukan sesuatu yang seniscayanya kita lakukan. Menimbang puisi sebagaimana adanya puisi itu sendiri sebagaimana kita berbuat saat berhadapan suatu panorma, menghadapi tamasya indah itu sebagaimana adanya yang merentang di hadapan kita. Dan benar, ujar Siméon, bahwa puisi sesungguhnya mempermasalahkan hal-hal yang sangat hakiki: metafisik, sosial, dan politik. Tapi justru karena itu, menurut Siméon, dari puisi dituntut untuk sederhana [Pandangan tentang kesederhanaan begini juga pernah diucapkan oleh penyair Agam Wispi alm. dengan tambahan bahwa "untuk sederhana itu tidak mudah"]. Karena itu jika ada anggapan negatif tentang puisi, atau sulitnya orang-orang dalam membaca puisi, hendaknya pertama-tama jangan orang-orang ini yang disalahkan. Bahwa jika terjadi ada pemahaman dan ketidakpahaman terhadap puisi, menurut Siméon, hal demikian merupakan kenyataan tak terelakkan. Termasuk misteri dan teka-teki yang muncul saat membaca karya puisi atau keinginan untuk memberikannya makna. Karena itu Octavio Pas [sastrawan Meksiko] dan Francis Ponge [penyair Perancis], berpendapat bahwa pada akhirnya yang menjadi penyair dengan membaca puisi, dan yang menyusun puisi, sebenarnya adalah para pembaca itu sendiri. Membaca pun jadinya merupakan suatu kegiatan kreatif. Melalui kegiatan membaca teks, maka terbentuk kelompok perempuan, lelaki dan orang-orang yang bergiat di dalam teks. Anehnya, jika ini dianggap keganjilan, walau pun ada ketidakpahaman terhadap puisi, terdapat kesulitan-kesulitan memahami puisi, kita saksikan bahwa orang-orang masih saja menaruh minat pada puisi. Gejala ini mengusik tanya: Gerangan apakah yang menyebabkannya? Apakah karena puisi memang mengandung "arti" [sens] bagi kehidupan dan orang-orang mencari makna baru di luar adanya ideologi-ideologi besar? Jawaban pertanyaan ini, dilihat oleh Siméon, pertama-tama terletak pada kepentingan orang akan bahasa. Bahasa puisi di telinga orang-orang terdengar merdu, mempunyai gaunggema tersendiri. Pada saat orang-orang terlibat dalam percakapan, berada di tengah-tengah limpahan kata-kata sehingga pengertian kita terapung olehnya, tiba-tiba kita merasakan puisi tampil dengan kepadatannya yang mewakili. Ketika mendengar sebuah puisi, kita rasakan puisi memberikan kita makna dengan kepadatan dan kesederhanaannya. Puisi jadi tampil dengan prestisenya. Mendengar puisi, orang-orang merasakan seakan ada orang lain sedang berucap. Mengatakan sesuatu. Di sinilah lalu, puisi dengan alur jalannya yang bertolakbelakang dengan banjir kata-kata menghadirkan suatu kepentingan. Selain itu, apakah puisi memang menawarkan suatu makna sebagai makna yang diharapkan kehidupan? Jika memang demikian, apakah makna yang diberikan oleh puisi? Pertanyaan ini barangkali juga akhirnya menyangkut tanggungjawab penyair, bagaimana berpuisi dan posisi puisi dalam masyarakat. Tentu saja, jawaban seorang penyair satu dan yang lain, akan wajar jika berbeda-beda, sesuai dengan konsep bersyair dan pandangan hidup pilihan masing-masing. Berikut ini adalah pandangan Siméon. Paris, Maret 2007 ----------------------- JJ. Kusni [Bersambung ....] [Non-text portions of this message have been removed]
