Surat Sutera Putih:

WATAK PUISI



5.


Sekali pun  puisi sering jadi pulau terkucil di tengah laut pemahaman tapi ia 
senantiasa ditunggu dan diharapkan. Ini pun dinyatakan oleh Siméon: "Saya 
sangat optimis  akan hari esok puisi dan kehidupan puisi, karena sejak beberapa 
tahun, saya saksikan sendiri publik pembacaan puisi dan pembaca puisi dari 
tahun ke tahun  bertambah tanpa jeda. Ke mana pun saya berkunjung dan tampil, 
saya selalu berhadapan dengan banyak pengunjung".  


Sekali lagi, barangkali kesimpulan Siméon ini sama dengan sikap menghadapi 
seorang anak  yang sulit   dimengerti tapi dirindukan dan diperlukan. 
Mungkinkah ia diperlukan jika ia tidak memberikan makna? 


Kalau karena penyair sering disebut "nyentrik" atau "liberal" dan lain-lain 
sebutan, tapi sebutan-sebutan ini, bagiku sendiri, tidak sama dengan bebas dan 
hampa nilai.  Dari segi republik, penyelenggara Negara, politik, "nyentrik"  
dan "liberal" menunjukkan penyair diperlukan sebagai salahs atu pengawas sosial 
dan politik. Barangkali "nyentrik" dan "liberal" bisa diartikan  "libre 
d'esprit", penolakan jadi budak dan hanya bisa mengatakan "ya". Apakah bangsa 
kita dan kemanusiaan  memang memerlukan budakisme yang terkurung di penjara 
dogma, fanatisme dan pemujaan mitik untuk menjadi warga negara dan anak manusia 
? Dalam pengertian inilah kukira tersirat makna kata-kata Chairil Anwar : "yang 
bukan penyair, minggir!"


Puisi sebagai bayi  kandungan "libre d'esprit", hasil pergulatan pencarian 
"free thinker" dan "humanism great lover", lahir dan muncul ke tengah-tengah 
kehidupan masyarakat sebagai "anak nakal yang cerdik", tak obah bagaikan 
seorang anak yang mengacungkan tinju kecilnya menjawab tantangan langit atau 
seperti Sun Wu Kung, si raja kera putih, yang jujur dan setia pada mimpi 
manusiawinya,  tak segan menyerbu dan mengobrak-abrik kerajaan sorga.  Puisi 
pun tak obah bagai tokoh legenda Dayak Katingan: Panimba Tasik dan Panetek 
Gunung turunan Utus Panarung, perujudan dari "Sanaman Lampang" [Besi Timbul], 
wajah mental dari "rengan tingang nyanak jata" [anak enggang putera-puteri 
naga]. Puisi adalah mandau penuh isi di tangan tokoh-tokoh legendaris yang 
menyimbolkan wajah mental rakyat berbagai negeri.  Karena itu, sekali pun puisi 
sering tidak dipahami bahkan dibenci tapi ia dirindukan dan dicintai. Tak 
dihalau dari rumah hati manusia. Hati manusia tidak pernah menjadi pintu 
terpalang bagi puisi.  Seperti para penunggu penguasa kerajaan sorga mencintai 
Sun Wu Kung. Oleh serbuan Sun Wu Kung, penguasa kerajaan sorga terkesiap dan 
mengoreksi olahnya yang melanggar prinsip sorgawi. Sun Wu Kung, sang raja kera 
putih adalah puisi itu sendiri.  Kesetiaannya pada  prinsip manusiawi dan 
kesanggupan total membela prinsip ini , menyebabkan puisi dicintai dan 
dirindukan walau pun terkadang menjengkelkan oleh ungkapan "brutal dan 
menyengat"nya.  


Posisi puisi yang begini, oleh Siméon, dinilainya sebagai "kekuatan puisi".  
Kongkretnya sebagai  "kesanggupan berlawan". "Kekuatan puisi terletak pada daya 
lawannya". Demikian Jean-Pierre Siméon dalam wawancaranya dengan wartawan 
budaya Harian La Croix , Paris, berkenaan dengan kegiatan "Printemps des 
Poètes".  Melawan apa? Apakah melawan asal melawan? Siméon mengatakan bahwa 
yang dilawan oleh penyair melalui puisi-puisinya adalah "pseudo-valeurs 
dominantes de notre société" [nilai-nilai semua dominan dalam masyarakat kita]. 
"Pseudo-valeurs dominantes" inilah yang diberontaki puisi dan menjadi salah 
satu watak puisi. Yang memberikan kekuatan pada puisi sehingga ia cepat atau 
lambat diindahkan. Membuat pembaca atau pendengarnya tercengang ketika 
berhadapan dengan puisi karena merasa seperti melihat suatu cakrawala lain. 
Selain itu, puisi juga mempunyai watak "menolak immediatitas"[l'immediateté], 
"menolak kesegeraan [la vitesse], "menolak permukaan" [la surface]. Apakah 
puisi curhat sampai pada tingkat ini? Apakah puisi ratap tangis putus cinta 
yang sering dimegatruhkan berada pada taraf  yang disebut oleh Siméon sebagai 
watak puisi itu? Barangkali, dengan mengacu pada watak puisi yang diajukan oleh 
Siméon ini, kita bisa melihat ulang puisi-puisi yang ditulis oleh 
penyair-penyair Lekra [Lembaga Kebudayaan Rakyat] dulu yang sering terjebak 
pada "immediatitas", "kesegeraan" dan  "permukaan".  Puisi-puisi curhat, kukira 
bagian dari puisi jenis ini. Termasuk puisi-puisi "terpenjara" dogma. Menurut 
Siméon, puisi-puisi "immediatitas", "kesegeraan", dan "permukaan" "menempatkan 
puisi pada ruang kosong, di dalam vertikalitas". "Puisi jenis ini puas dengan 
"kelambanan,  puas dengan kepasrahan, lega dengan berleha-leha. Padahal arti 
sebuah puisi", menurut Siméon,  sebenarnya berwatak "mengatasi waktu" [se 
conquiert  dans le temps]. Makna yang diungkapkan oleh puisi, akan diraup 
setelah berkali-kali membacanya.  Puisi membangunkan kualitas manusiawi yang 
sering terkantuk-kantuk dalam jiwa kita sebagaimana dikatakan oleh Malbranche 
sebagai "doa jiwa" [la prière de l'ame].  Kecuali itu, Siméon juga melihat 
bahwa puisi itu berwatak atau bercirikan usaha mengajak kita menyelami dan 
mengeksplorasi hal terdalam di nurani anak manusia lain karena kenyataan, 
menurut Siméon, tersembunyi di balik pepohonan dan doa.  Kedalaman manusiawi 
dan kasihsayang manusia, sebenarnya  berada di hadapan kita  sebagai penyair 
untuk dieksplorasi serta dijelajahi. Demikian  Jean-Pierre Siméon. Penyair saja 
yang sering tidak mengacuhkannya karena keasyikan dengan diri sendiri, dengan 
"nihilisme dan otofiksi", jika menggunakan istilah esais Perancis, Todorov. 


Apakah watak atau ciri puisi yang dikemukakan oleh Siméon di atas, hanya 
mempunyai arti sebatas dunia perpuisian Perancis saja? Penyair, seperti halnya 
dengan semua anak manusia,  tanpa memerlukan perdebatan atau silang kata, 
akhirnya menentukan dan memilih nilai dirinya sendiri. Termasuk kadar 
puisi-puisi mereka sendiri, penyair itu sendirilah yang menentukannya. ****



Paris, Maret 2007
-----------------------
JJ. Kusni


[Selesai]

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke