SANSANA SUNGAI ANGKE
1. rabun memang mataku sudah dengan mata dirabun usia aku memandang angke mengalirkan arus melintasi tanjung dan rantau waktu kutajamkan telinga tuaku mendengar gemersik riak mencanda tebing menggoda bulan dan matari kutajamkan telinga tuaku menelusur misteri angin sungai apalagi sungai negeri ini apalagi sungai kecil sekecil angke serupa orang-orang kecil tak obah sampah dan busa di sungai mengarus lupa ingat tercatat di arus lubuknya negeri dan bangsa ini hanya ada di sungai-sungai hanya ada di catatan bulan dan matahari tersimpan di semilir angin dan topan langitnya segala warna tertera di fajar dan awan angkasa ada di sungai angke mengalir diam-diam utuh halaman demi halaman tak terkoyak rayap lupa -- pelabuhan khianat kita seperti aku seperti kau, kekasih semakin tua semakin rabun semakin nyinyir diganggu lupa semakin menyingkirkan mimpi tanahair [banyaknya orang nyinyir jariku tak lagi cukup berhitung manis, manisku banyaknya khianat banyaknya orang melacur jariku tak lagi cukup berhitung sulap-menyulap kian canggih kekasih, kekasihku nalarku pun tak menjangkau aku merasa kian dungu kian bebal mati rasa] tapi sejarah tetap sejarah dilupakan atau diingat tak terkoyak siang dan malam tak dilapukkan hujan waktu tak dilekangkan matahari bersaing bulan 2. kecil memang sungai angke tak sebandingkapuas dan mahakam tentu saja tak sebesar katingan dan mentaya hidung tajam dayakku si anak enggang putera naga menyakralkan darah mencium masih kisah panarung di angke tercium masih ketika aku di rantau benua asing kubaca di arusnya kisah tarung menjadi manusia kudengar di gemersik riak di silir angin mengusik daun riwayat hasrat merdeka saat indonesia masih janin 3. angke sungai angke sungai darah sungai duka dan harapan sungai martabat angke sungai warna pelangi sungai negeri impian: indonesia 4. angke dan katingan sebelum malam sebelum fajar akankah aku sampai ke tebing-tebingmu menjawab seru mataharimu pulang dari kembara hingga subuh dan gigil mimpi ataukah aku memang tetap perantau indonesia nama lain monopoli sebuah harem perbudakan? 5. rabun memang mataku sudah rabun mataku dirabun usia tapi cintaku secarah fajar tanpa senja aku masih mengaku indonesia sebagai kutukan sungai aku mencintaimu sebagai kutukan sungai kuteruskan laga anak naga dayak panarung Paris, Maret 2007 ---------------------- JJ. Kusni [Non-text portions of this message have been removed]
