Wen Peor bersama Afandi ditahun 1988 [Sumber: nasional-list, Tuesday, March 27, 2007 5:37 AM] Surat Sutera Putih MENYERTAI KEPERGIAN PELUKIS WEN PEOR [2] Kesetiaan Wen Peor pada dirinya sendiri, pada komitmen berkeseniannya yang tak terpenggal apalagi terpisah dari pemanusiaan manusia, kehidupan dan masyarakat telah ia buktikan sepanjang khayat. Ajal hanya cengar-cengir sendiri melihat gagalnya ia mengusik dan mencoba. Misalnya, pada tahun 1943 karena lukisannya yang berjiwa "kerakyatan" ditangkap oleh militerisme Jepang, tapi Wen masih saja Wen Peor. Ia tak bergeming di hadapan penjara dan bayonet fasis. Wen sudah mengucapkan kata terakhir mengenai kesetiaan ini. Barangkali, lirik lagu Joseph H. Gilmore [1861] yang dikirimkan oleh Ida Khouw: "E'en death's cold wave I will not flee", karena ia adalah seniman, dan seniman tidak lain dari manusia sadar, berkesadaran manusawi. Sementara penyelenggara negara sering kehilangan kesadaran manusiawi ini karena mabuk kuasa atau mabuk penyimpangan kekuasaan. Sebagai seniman demikian, adakah asal etnik, bangsa dan tanahair bagi seniman? Kata "adakah", di sini kugunakan dalam artian nilai filosofisnya atau hakikinya. Sejauh ini, aku menganggap bahwa sastrawan-seniman yang sudah meninggalkan tingkat instingtif, dan berkesenian dengan taraf kesadaran dan komitmen manusiawi, memang punya tanahair dan bangsa. Tanahair dan bangsa itu bernama "kemanusiaan yang tunggal", meminjam istilah Paul Ricoeur, filosof Perancis yang meninggal Mei tahun lampau. "Kemanusiaan yang tunggal" mengatasi batas geografi, apalagi tonggak-tonggak partai politik atau simplisisme bernama fanatisme, sektarisme, kultus, etno sentrisme, etno nasionalisme dan isme-isme sejenis. Etnik, bangsa dan tanahair, lebih merupakan wilayah geografis paling dekat guna mewujudkan "kemanusiaan yang tunggal". Secara hakekat, negara pun, kukira, bertujuan untuk memanusiawikan manusia, kehidupan dan masyarakat juga adanya. Apabila negara menyimpang dari tujuan ini, maka negara bisa dikatakan bahwa penyelenggaranya telah melakukan power abuse [penyalahgunaan kekuasaan]. Sementara sastrawan-seniman yang melepaskan diri dari "kemanusiaan yang tunggal" ini, akan melakukan artistic abuse. Ujudnya macam-macam. Seperti membudak ketidakadilan, tiarap di hadapan boyonet militerisme, dan lain-lain.... demi selembar nyawa tanpa mengindahkan makna. Singkatnya Melacurkan kemanusiaan dan sastra-seni. Di zaman Orba Soeharto yang mentrapkan pendekatan "keamanan dan stabilitas nasional" yang menghasilkan " budaya takut" artistic abuse ini sangat lazim dilakukan. Wen Peor, seperti halnya Julius Fucik, Cak Durasim, dan entah berapa nama lagi ... bukan seniman jenis "pelacur" atau pelaku artistic abuse. "They will not flee in front of death's cold wave". Fucik bahkan menulis "Catatan Di Bawah Tiang Gantungan" sejalan dengan semangat Liu Hu Lan, gadis 17 tahun yang berkata di hadapan mata peluru militerisme Jepang: "Lebih baik mati berdiri dari pada hidup bertekuk lutut", semangat yang di kalangan masyarakat Jawa diungkapkan dengan kata-kata "rawe-rawe ratas, malang-malang putung" atau "isen mulang", jika menggunakan ungkapan manusia Dayak dahoeloe. Jika benar Wen Peor tergolong seniman bertanahairkan "kemanusiaan yang tunggal", apakah predikat bahwa Wen adalah seorang seniman Tionghoa, seniman kelahiran Padang, Indonesia, tidak hanya menempatkan Wen ke ruang terbatas sangat sempit? Aku tidak melihat dasar kuat untuk menyetujui predikat ini bagi seorang seniman sadar, termasuk terhadap Wen Peor. Predikat "pelukis Tionghoa" hanya mengecilkan Wen dan barangkali kurang memahami arti menjadi sastrawan dan seniman. Dan apabila kita bandingkan predikat sempit "pelukis Tionghoa" ini dengan praktek berkesenian berdasarkan suatu wawasan yang dikhayati oleh Wen, selain mengundang debat teoritis, juga agaknya kurang memahami apa-siapa Wen Peor. Atau barangkali aku yang kurang memahami Wen, sekali pun karya-karyanya kurasakan pengungkap rasa diri dan kudengar penyuara gemuruh suara nuraniku sendiri. Apabila aku mengatakan hal ini, kuharapkan aku tidak ditafsirkan sebagai mengutarakan pendapat bahwa aku menyangkal pengaruh budaya etnik, bangsa dan negeri di mana kita dilahirkan, mungkin juga dibesarkan dan didewasakan, terhadap seorang seniman. Dengan ini, Anggi, kita sampai ke masalah pengaruh dan peran budaya lokal dalam kaitannya dengan suatu karya sastra-seni nasional serta internasional, jika mau mengambil lingkup lebih besar lagi. Paris, April 2007 ---------------------- JJ. Kusni [Bersambung....]ariSeSebM [Non-text portions of this message have been removed]
