Gus Mus,
contoh ulama yang konsisten
tetap pada tujuan utama
membina umat untuk tetap tahan
dari tarik menarik kepentingan politik
kalau saja semua ulama seperti Gus Mus
Mukhlisin <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
http://www.indopos.co.id/index.php?act=detail_c&id=279315
Jumat, 06 Apr 2007,
Minta Nahdliyin Tidak Terperosok Politik
Taushiyah Gus Mus kepada Warga NU
LAMONGAN - KH Mustofa Bisri (Gus Mus) berpesan agar warga NU berhati-hati dalam
menyikapi manuver partai politik. Dia meminta warga nahdliyin tidak terperosok
lagi dalam perangkap politik.
"Menurut tuntunan Rasulullah, tidak pantas terperosok lubang yang sama sampai
berkali-kali sehingga warga NU harus banyak belajar dari masa lalu," tutur kiai
asal Rembang itu dalam ceramah Maulid Nabi Muhammad SAW yang digelar PC NU
Lamongan di Asrama Haji Lamongan Rabu malam lalu.
Di hadapan ribuan jamaah yang hadir dalam acara tersebut, Gus Mus mengungkapkan
keprihatinannya terhadap kondisi NU saat ini. "Dulu (NU) jual mahal ketika
diajak bergandengan oleh Pak Harto (mantan presiden RI), akhirnya disiyo-siyo
sampai 32 tahun. Namun, saat ini (NU) justru dijual terlalu murah," katanya.
Terkait kondisi tersebut, kiai yang juga dikenal sebagi sastrawan itu
mengingatkan warga nahdliyin bahwa tingkatan lembaga NU cukup tinggi, yakni
organisasi jamiah, tidak sekadar organisasi jamaah karena umatnya sudah ada
baru dibentuk lembaga.
"Masak tingkatan yang sudah jamiah ini harus dikalahkan dengan organisasi yang
dibentuk dulu, kemudian umatnya baru dipikir belakangan," katanya.
Meski dalam ceramahnya secara eksplisit mengkritisi fenomena adanya beberapa
partai yang mengatasnamakan warga nahdliyin, Gus Mus enggan berkomentar ketika
ditanya tentang sikap warga NU terhadap keberadaan Partai Kebangkitan Bangsa
(PKB) dan Partai Kebangkitan Nasional Ulama (PKNU) yang sama-sama mengklaim
sebagai partai warga NU. "Saya tidak soal itu. Barangkali warga NU malah senang
karena banyak pilihan," ujarnya.
Ketika ditanya tentang munculnya dikotomi antara kiai kampung dan kiai khos,
Gus Mus juga tidak banyak berkomentar. "Itulah kesukaan orang Indonesia, suka
membuat istilah-istilah. Ada kiai khos, kiai kampung, kiai karismatik. Juga ada
yang menyebut Islam liberal, Islam moderat, dan lainnya," jawabnya.
Dalam acara Maulid Nabi Muhammad SAW itu hadir Rais Syuriah PC NU Lamongan KH
Suudi Karim, Ketua Tanfidzyah PC NU KH Abdullah Maun, para kiai, dan sejumlah
tokoh parpol. (feb)
[Non-text portions of this message have been removed]
---------------------------------
The fish are biting.
Get more visitors on your site using Yahoo! Search Marketing.
[Non-text portions of this message have been removed]