Dear Cak Anam and all,
pertama, sy perlu menggarisbawahi bhw terminologi liberalisme BERBEDA dg
neoliberalisem dalam disiplin ekonomi (ini salah satu kritik saya terhadap
bukunya mas Baso, NU studies, yg tidak jelas membedakan terminologi keduanya.
impliaksinya adalah krtik thd freedom institut ttg subsidi BBM waktu lalu,
sekedar hanya berdsarkan opini publik).
namun pd saat bersamaan saya jg menentang keras neoliberalisem diterapkan di
negara kita tercinta oleh karena ini hanya diperuntukkan bagi kesejahteraan
negara2 yg kuat secara capital ekonomi, politik, pendidiakn, sosial, dan
budaya. selama, maaf, pak Ical, bu sri mulyani, dan yg "sehabitat" masih
berperan di negara kita maka selama itu pula tempat bagi kelas ekonomi bawah
susah terurusi. hingga saat ini ekonomi mikro -yg berhub dg sektor riil masih
belum maksimal. akibatnya kemiskian dan pengangguran merajalela. kritik balik
dari neoliberalis di negara kita adalah kemudian solusi terbaiknay apa?? ini yg
beberapa waktulalu mas Ulil di milis ini juga sampaikan pada kita setelah
merespon email saya. namun begitu saya singgung dg ideologi ekonomi lain yg
saya anggap lebih "populis-religius", beliau belum menanggapinya hingga anda
membaca tulsian saya ini krn menganggap diskusi ini sbg "diskusi warung kopi".
entah apakah krn awam di bidang ekonomi sbgmana yg diakuinya atau
apa, saya tidak tahu. yang jelas beliau (bersama freedom institut) dg alasan
praktis-pragmatis (memindahkan subisidi BBm ke pendidiakn, dll) telah
terpampang nama dan fotonya di kompas dg mendiukung pencabutan subdisi BBM
(Benar-Benar Membingungkan). BBM (benar2 membingungkan) karena dua hal:
pertama, freedom isntitute adalah LSM yg seharusnya menjadi penyeimabng antara
pemerintah, pemgusaha, dan pasar BUKAN malah mendukung policy pemerintah!!
kedua, alasan yg digunakan mas ulil bukan substansi -sebagaimana biasa JIL yg
saya kagumi berpikir- namun praktis dan pragmatis yg berasal dari penjelasan
pak rizal mallarangeng dkk. Persis seperti seorang peserta baru di sebuah liqo'
di mesjid, setelah mendengar ceramah sang ustadz, kemudian dg bangga
berkoar-koar bhw islam adalah panacea!
kembali ke lap.....top!
nah dalam konteks di atas, pemanfaatan isu digalakkan oleh kelompok yg
disebut "islam fundamentalis" dg menghabisi ideologi lain yg berlaku di
indonesia dg menawarkan ideologi islam sebagai panacea. ini syah-syah saja dan
perlu diapresiasi sebagai sebuah tawaran solusi alternatif. walau pun sy juga
bingung bgmn bentuk konkritnay ideologi politik islam. saya ngobrol dg ustadz
irfan (ketua MMI yg getol kampanye islam politik) dari dulu hingga 2 mingguan
yg lalu belum ada deskripsi konkrit yg saya dapatkan. beliau hanya bilang:
musibah terjadi di indoenisa krn mayoritas menolak syariat islam (dalam hati sy
bingung apa gunung merapi di Jogja tidak jadi meletus bila melihat cewek
berjilbab?). namun apa pun saya tetap salut bagi sebuah komunitas yg masih
berusaha menawarkan solusi bagi krisis bangsa ini. maaf, sudah terlalu banyak,
entar bosen membacanya. sampai sini dulu ya besok disambung lagi.
salam,
Munir, Ansor DIY
kh anam <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Menarik sekali tulisan Sdr Herdi Sahrasad. Saya tidak seberapa pasti
apakah
Herdi adalah seorang pengamat yang secara pribadi tidak sepakat dengan
neoliberalisme lalu mengancam alias menakut-nakuti "awas...!" akan ada bom
waktu bernama "gerakan kultural NU" yang pada saatnya akan meledak-ledak
menyerang neoliberalisme. Atau sebaliknya dia adalah pengamat yang merangkap
sebagai penasehat neoliberalisme yang memberikan arahan agar jangan sampai
neoliberalisme menyentuh wilayah sensitif kaum tradisional NU sehingga faham
ini tetap berada pada titik aman; katakan dia semacam para pemikir
neoliberal yang memanfaatkan kritik marxisme untuk memperbaharuhi
manifestonya dari generasi ke generasi.
Saya hanya ingin memberikan catatan: 1) Ketakutan adanya fundamentalisme
agama (kata herdi ditandai dengan formalisasi syariah) yang bakal menyerang
fundamentalisme pasar saya kira terlalu berlebihan dan tidak berdasar. Dua
model fundamentalisme ini beda jalur dan tidak saling bersentuhan; kebetulan
saja dua-duanya memakai istilah fundamentalisme jadi seakan-akan
berhubungan. Padahal, yang satu ingin membebaskan pasar dan yang satu ingin
menerapkan aturan Islam secara formal dan tekstual, perlu digarisbawahi
BUKAN INGIN melawan pasar bebas; Yang satu bersibuk dengan urusan pasar dan
yang satu bersibuk dengan urusan Tuhan dan bisa jadi pemerannya sama.
(Jangan-jangan herdi dkk bersibuk memasalahkan dua istilah yang diciptakan
sendiri, bahasa mantiknya menjawab soal dengan soal itu sendiri). Sampai
saat ini pun tidak ada yang bisa membuktikan bahwa tragedi WTC adalah
serangan dari kaum fundamentalisme agama. Yang bisa dirasakan justru para
penyerang WTC adalah bagian dari para pemain pasar bebas yang kehabisan cara
untuk menghabisi para saingan bisnisnya. Tidak pernah bisa dibuktikan bahwa
"bin laden" itu misalnya, punya faham keagamaan yang bertentangan 180
derajat dengan faham neoliberalisme, tapi orang pada tahu kalau nama "bin
laden" itu adalah jaringan konglomerat dunia.
2) Soal penolakan kalangan NU terhadap JIL dan sejenisnya (termasuk beberapa
istilah indah yang menjadi tameng neoliberalisme seperti pluralisme, HAM dan
gender), menurut saya, tidak kemudian bisa disimpulkan bahwa NU menolak
neoliberalisme. Bahwa ada orang NU seperti Ahmad Baso yang menyatakan tidak
senang dengan neoliberalime itu memang iya (meski sampai saat ini saya tidak
yakin Baso itu jujur, wong sekarang mencalonkan diri jadi anggota komnas
HAM, hehe..). Penolakan NU terhadap JIL dkk itu saya yakin karena paham
keagamaannya yang dinilai terlalu gampangan, tidak sesuai dengan ajaran
Nabi, para sahabat, wali songo, para salafus solih (pokoknya tidak Aswaja
lah). Kasusnya, saya kira sama dengan permusuhan NU dengan PKI tahun 60-an.
Bukan berarti NU tidak setuju dengan marxisme atau sosialisme, tapi remeh
temeh bahwa NU telah (di)yakin(kan) bahwa PKI itu anti tuhan.
3) Yang tidak bisa dimungkiri adalah bahwa NU itu nasionalis. Memang iya,
itu pun lebih didorong oleh semangat agama, bukan nasionalisme an sich.
Bahwa sejarah berdirinya pesantren itu memang hampir selalu sama dengan
sejarah perlawanan terhadap imperialisme, kolonialisme, penjajahan. Tapi
saat ini saya kira para kiai kesulitan mengakui neolibealisme itu sebagai
penjajah. Soalnya beliau-beliau pun ternyata telah menjadi bagian dari itu,
tidak hanya para kiai tarekatnya, kiai khosnya, bahkan sekarang pun kiai
kampunya juga.
Jadi begitu,
Salam semuanya
Anam
On 4/13/07, samsul hidayat <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> NU dan neoliberalisme di Indonesia
>
> Gambaran Thomas Friedman (kolomnis the New York Times) bahwa Indonesia
> di era reformasi adalah the messy state (negara amburadul) bisa dilihat
> di permukaan dataran politik-ekonomi, di mana terjadi ketegangan antara
> fundamentalisme pasar dan fundamentalisme agama.
>
> Fundamentalisme pasar membawa bendera neoliberalisme dan mencuatkan
> perlawanan massa Islam berbasis fundamentalisme agama dengan
> perda-perda syariah-nya. Terkait hal ini, Nahdlatul Ulama (NU) tidaklah
> tinggal diam. Seraya menggemakan Islam moderat, inklusif dan terbuka,
> NU memperlihatkan karakter dan sikap kritisnya terhadap gerak-gerik
> fundamentalisme pasar maupun fundamentalisme agama.
>
> Lantas, apa dan bagaimana respons NU atas neoliberalisme
> (fundamentalisme pasar) yang diusung para teknokrat era SBY-Kalla
> dewasa ini?
>
> Studi PSIK Universitas Paramadina (2006) menunjukkan kaum Muslim
> tradisional yang berbasis di pedesaan itu umumnya menentang keras
> praktik Neoliberal yang dibawa kaum teknokrat, ekonom dan intelektual
> epistemis liberal di era reformasi dewasa ini.
>
> Dalam pandangan kalangan pesantren NU, sebagaimana diputuskan dalam
> forum Musyawarah Nasional dan Konferensi Besar (Konbes) di Surabaya
> Juli 2006, NU menegaskan bahwa keterlibatan bangsa dan negara kita
> dalam globalisasi dan pasar bebas seharusnya diorientasikan untuk
> kepentingan kesejahteraan rakyat, bukan untuk membawa bangsa dan negeri
> kita ke dalam paham neoliberalisme, di mana peran dan fungsi negara
> diperlemah dalam menyejahterakan rakyat.
>
> NU menentang logika dana moneter internsaional (IMF), Bank Dunia dan
> organisasi perdagangan dunia (WTO), yang menginginkan korporasi swasta,
> perusahaan multinasional dan pasar harus diberi kebebasan
> seluas-luasnya dalam kehidupan ekonomi dan sosial, dan ini niscaya
> mengurangi peran negara di dalamnya.
>
> Kalangan pesantren NU mencemaskan dan mengkhawatirkan bahwa ideologi
> yang berbasis fundamentalisme pasar bebas ini bakal membebaskan
> kegiatan perusahaan swasta dari peraturan dan kebijakan pemerintah.
> Apalagi kegiatan perusahaan swasta itu membawa dampak yang buruk dan
> biaya eksternalitas terhadap rakyat dan kehidupan kemasyarakatan.
>
> Masalah privatisasi
>
> Kalangan NU menolak dan mencela neoliberalisme. Mengapa? Karena dalam
> neoliberalisme, sektor swasta diniscayakan menggantikan fungsi dan
> peran negara, dengan ciri khasnya yakni pemotongan subsidi dan
> privatisasi badan usaha milik negara (BUMN) yang menguasai hajat hidup
> orang banyak seperti perusahaan air minum, listrik, sekolah, rumah
> sakit, minyak dan gas, perbankan dan angkutan umum (perkeretaapian,
> penerbangan, angkutan laut).
>
> Sebagai dampaknya, terjadi pengurangan subsidi bagi kaum miskin dan
> kemelaratan pun merajalela. Pandangan dan praktik neoliberalisme ini
> telah menyebabkan bertambahnya jumlah kaum miskin di Indonesia dan
> mereka pun dipaksa mengatasi sendiri masalah kesehatan, pendidikan dan
> kekurangan pangan yang mereka alami.
>
> Akibatnya, hak-hak dasar sosial dan ekonomi warga negara semakin
> dipangkas. Bank Dunia melaporkan jumlah penduduk miskin dengan
> pengeluaran US$2 per hari mencapai lebih dari 100 juta jiwa sebagai
> konsekuensi pencabutan subsidi BBM dan tarif listrik. Dampak lainnya,
> arus urbanisasi dari pedesaan terus meluap ke perkotaan dan menjadi
> beban ruralisasi di kota-kota yang makin terbatas dan kritis daya
> dukung lingkungannya.
>
> Para ulama NU mengingatkan negara dan masyarakat, bahwa semestinya
> negara memperkuat perannya dalam memenuhi tanggung jawab sosialnya
> untuk menyejahterakan rakyat, dan dalam waktu yang bersamaan negara
> harus memperkuat hak-hak warga negara sehingga pemenuhan keadilan dan
> kesejahteraan (''mashalihurra' iyah'') sebagai cita-cita sosial umat
> Islam, muncul sebagai resultante dari pemenuhan kewajiban negara atas
> tuntutan hak-hak warga negara.
>
> Timbulkan resistensi
>
> Intelektual muda NU Ahmad Baso (2006) mengkritik Freedom Institute yang
> didirikan Rizal Mallarangeng dkk dan pengusaha Aburizal Bakrie karena
> mengibarkan neoliberalisme di Indonesia, dan menimbulkan resistensi
> dari kalangan Islam tradisonalis maupun modernis, kaum sosialis
> religius maupun nasionalis religius, yang tetap berpegang teguh kepada
> cita-cita sosial konstitusi UUD 1945.
>
> Menko Perekonomian Boediono dan Menkeu Sri Mulyani serta lembaga
> think-thank CSIS dan Mendag Marie Elka Pangestu yang juga dikenal
> sebagai pendukung neoliberalisme tampaknya harus dikritisi, diawasi dan
> dikoreksi dengan kendali demokratis dari civil society, agar bangsa ini
> tidak terjerembab ke dalam lingkaran setan kemiskinan, ketidakadilan
> dan kesenjangan.
>
> Sejauh ini, sudah terjadi ketegangan yang tak nampak (invisible
> tension) antara kalangan civil society (masyarakat madani) yang
> anti-neoliberalisme dan kalangan ekonom, intelektual dan komunitas
> epistemis liberal yang mendukung neoliberalisme.
>
> Di era neoliberalisme ini, celakanya, Islam Indonesia adalah Islam yang
> gampang goyah oleh kepentingan politik sesaat, dan Islam sebagai agama
> juga mengalami komodifikasi dan eksploitasi kapital-politis- ideologis
> sehingga makin jauh dari citra, performance dan profil Islam yang
> beradab dan damai.
>
> Munculnya Islam radikal dan garang pada aksi terorisme dalam tragedi
> bom Bali, Jakarta, Ambon, Poso dan kota lainnya adalah bukti kuat atas
> komodifikasi dan eksploitasi ini.
>
> Karena itu, para ekonom, teknokrat dan intelektual epistemis liberal
> harus menyadari bahwa resistensi Islam tradisionalis NU dan masyarakat
> madani atas neoliberalisme menyimpan bom waktu di masa depan.
>
> Berbagai kebijakan Neoliberal yang substansinya adalah pengurangan
> subsidi, privatisasi dan liberalisasi ekonomi, sangat mungkin menjadi
> bumerang bagi kehidupan bangsa ini yang mayoritas Muslim dan hidup
> miskin.
>
> Suatu ketegangan dan konflik kepentingan antara kalangan Neoliberal dan
> civil society-Islam tradisional hampir pasti akan berlangsung di tengah
> jalan reformasi yang semakin terjal.
>
> Jika hal itu terjadi, saya khawatir sejarah pertarungan antara penerus
> neoliberalisme- neoimperialisme versus nasionalisme kerakyatan-populism
> e religius, sejatinya berulang kembali di Tanah Air, meski mungkin
> luput dari perhatian publik sehari-hari.
>
> Oleh Herdi Sahrasad
>
> Associate Director Pusat Studi Islam dan Kenegaraan (PSIK) Universitas
> Paramadina
>
> http://www.bisnis.
> com/servlet/ page?_pageid= 127&_dad= portal30& _schema=PORTAL30
> &vnw_lang_ id=2&ptopik= A57&cdate= 07-APR-2007&
> inw_id=517798
>
> ------------ --------- --------- ---
>
> Sucker-punch spam with award-winning protection.
>
> Try the free Yahoo! Mail Beta.
>
> [Non-text portions of this message have been removed]
>
> SAMSUL HIDAYAT, S.H
> Adnan Buyung Nasution And Partners Law Firm
> Menara Global Building, 3rd Floor
> Jl. Gatot Soebroto Kav. 27
> Jakarta 12950
> Telp: (+6221) 5288 0000
> Fax : (+6221) 5288 0001, 5288 0002
>
> <!--
>
> #ygrp-mlmsg {font-size:13px;font-family:arial, helvetica, clean,
> sans-serif;}
> #ygrp-mlmsg table {font-size:inherit;font:100%;}
> #ygrp-mlmsg select, input, textarea {font:99% arial, helvetica, clean,
> sans-serif;}
> #ygrp-mlmsg pre, code {font:115% monospace;}
> #ygrp-mlmsg * {line-height:1.22em;}
> #ygrp-text{
> font-family:Georgia;
> }
> #ygrp-text p{
> margin:0 0 1em 0;}
> #ygrp-tpmsgs{
> font-family:Arial;
> clear:both;}
> #ygrp-vitnav{
> padding-top:10px;font-family:Verdana;font-size:77%;margin:0;}
> #ygrp-vitnav a{
> padding:0 1px;}
> #ygrp-actbar{
> clear:both;margin:25px 0;white-space:nowrap;color:#666;text-align:right;}
> #ygrp-actbar .left{
> float:left;white-space:nowrap;}
> .bld{font-weight:bold;}
> #ygrp-grft{
> font-family:Verdana;font-size:77%;padding:15px 0;}
> #ygrp-ft{
> font-family:verdana;font-size:77%;border-top:1px solid #666;
> padding:5px 0;
> }
> #ygrp-mlmsg #logo{
> padding-bottom:10px;}
>
> #ygrp-vital{
> background-color:#e0ecee;margin-bottom:20px;padding:2px 0 8px 8px;}
> #ygrp-vital #vithd{
>
> font-size:77%;font-family:Verdana;font-weight:bold;color:#333;text-transform:uppercase;}
> #ygrp-vital ul{
> padding:0;margin:2px 0;}
> #ygrp-vital ul li{
> list-style-type:none;clear:both;border:1px solid #e0ecee;
> }
> #ygrp-vital ul li .ct{
>
> font-weight:bold;color:#ff7900;float:right;width:2em;text-align:right;padding-right:.5em;}
> #ygrp-vital ul li .cat{
> font-weight:bold;}
> #ygrp-vital a {
> text-decoration:none;}
>
> #ygrp-vital a:hover{
> text-decoration:underline;}
>
> #ygrp-sponsor #hd{
> color:#999;font-size:77%;}
> #ygrp-sponsor #ov{
> padding:6px 13px;background-color:#e0ecee;margin-bottom:20px;}
> #ygrp-sponsor #ov ul{
> padding:0 0 0 8px;margin:0;}
> #ygrp-sponsor #ov li{
> list-style-type:square;padding:6px 0;font-size:77%;}
> #ygrp-sponsor #ov li a{
> text-decoration:none;font-size:130%;}
> #ygrp-sponsor #nc {
> background-color:#eee;margin-bottom:20px;padding:0 8px;}
> #ygrp-sponsor .ad{
> padding:8px 0;}
> #ygrp-sponsor .ad #hd1{
>
> font-family:Arial;font-weight:bold;color:#628c2a;font-size:100%;line-height:122%;}
> #ygrp-sponsor .ad a{
> text-decoration:none;}
> #ygrp-sponsor .ad a:hover{
> text-decoration:underline;}
> #ygrp-sponsor .ad p{
> margin:0;}
> o {font-size:0;}
> .MsoNormal {
> margin:0 0 0 0;}
> #ygrp-text tt{
> font-size:120%;}
> blockquote{margin:0 0 0 4px;}
> .replbq {margin:4;}
> -->
>
> __________________________________________________
> Do You Yahoo!?
> Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
> http://mail.yahoo.com
>
> [Non-text portions of this message have been removed]
>
>
>
[Non-text portions of this message have been removed]
Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com
[Non-text portions of this message have been removed]