IPDN Itu
  a.. Oleh: A Mustofa Bisri 
       
      SM/dok  
     
BEGITU selesai pengajian Selasanan, kawan-kawan jamaah yang biasa 
''berdiskusi'' langsung bergerombol membentuk halqah (sering keliru disebut 
halaqah) Keriungan. Ini pertanda mereka sudah mempunyai agenda pembicaraan yang 
sama di benak mereka masing-masing.

Benar saja. Kang Mansur belum lagi jenak duduk sudah langsung angkat bicara, 
"Sampeyan semua tentu sudah lihat tayangan berita tentang kematian Cliff Muntu 
dari IPDN itu? Bagimana komentar Sampeyan?"

"Apa sih IPDN itu?" tanya si Dul lugu membuat kang Mansur yang bersemangat jadi 
agak keki. "Kamu ini terlalu Dul," gerutunya.

"Kapan kamu ini maju kalau malas mengikuti perkembangan zaman!"

"Aku tahu, aku tahu," buru-buru si Dul nyahut.

"Itu kan sekolahan calon priyayi to, untuk jadi camat. Ya kan? Yang saya 
tanyakan itu kepanjangan IPDN. Jangan-jangan sampeyan sendiri nggak tahu."

Sekarang Kang Mansur benar-benar klencutan, karena sebenarnyalah dia kurang 
tahu persis IPDN itu singkatan apa. Dia hanya tahu bahwa dua huruf terakhir itu 
kepanjangan dari Dalam Negeri. Tapi tak dia sudah dapat menguasai dirinya dan 
berkata dengan suara meninggi, "Memang aku kurang tahu persisnya singkatan itu 
dan aku tidak ingin tahu. Itu tidak penting. Saya hanya ingin dengar komentar 
kalian mengenai lembaga pendidikan yang lagi-lagi merenggut korban 
anak-didiknya ini." 

"Kalau tak salah itu singkatan dari Insitut Pemerintahan Dalam Negeri;" tukas 
Mas Manaf mendahului si Dul yang tampaknya masih akan buka mulut menanggapi 
kang Mansur. 

"Sekolah birokrat itu dulu namanya STPDN. Sekolah Tinggi diganti Institut."

"Bedanya apa kang, antara sekolah tinggi dan institut?" Si Dul lagi yang 
bertanya.

Mas Manaf baru saja akan menjawab, tiba-tiba kang Parman mendahului dengan nada 
sewot, "Alaah, tak ada bedanya. Itu kan hanya untuk menghapus citra yang dulu 
tercoreng akibat konangan membunuh anak didiknya. Diganti namanya biar 
masyarakat mengira lembaga itu sudah berubah beradab. Tidak biadab lagi!"

"Menurut saya, itu memang sekolahan gila!" gerutu lik Akram dengan suara 
rendah, seolah-olah mengimbangi nada tinggi kang Parman.

"Sekolahan gila bagaimana, kang?" lagi-lagi si Dul yang bertanya.

"Ya. Sampeyan kan sudah melihat sendiri kebrutalan murid atau yang mereka sebut 
praja sekolahan itu," kata lik Akram masih dengan nada rendah. 

"Padepokan silat saja tidak seperti itu. Di padepokan kalau pun ada murid 
dipukul, itu setelah sebelumnya diberi pelajaran pendahuluan tentang ketahanan 
dan bela diri. Dan, murid yang dipukul memang sudah siap. La ini, sekolah yang 
kata si Dul tadi sekolah calon priyayi, pamong praja, kok mentradisikan praktik 
preman seperti itu untuk apa? Apa dipersiapkan nanti kalau jadi camat, tidak 
akan canggung lagi memukuli lurah-lurah? Atau agar nanti selalu siap bila 
sewaktu-waktu ditonjok bupati?"

Beberapa kawan jamaah tertawa kecut mendengar bicara lik Akram yang meskipun 
pelan tapi terasa tajam itu.

"Yang saya heran," tiba-tiba kang Kimin, senior jamaah, angkat bicara, "untuk 
apa sih departemen dalam negeri mendirikan sekolah tingi atau institut itu? 
Apakah fakultas semacam Fakultas Ilmu Sosial Politik di perguruan-perguruan 
tinggi itu masih kurang?"

"Iya ya, kang," kata kang Slamet yang dijuluki DPR Swasta oleh kawan-kawan 
jamaah.

"Lagipula mengapa harus ada pendidikan tinggi camat segala, la wong mau jadi 
bupati, gubernur, sampai presiden saja tidak diharuskan lulusan perguruan 
tinggi. Presiden RI kedua yang berkuasa nyaris sumur hidup dan mungkin yang 
meneken keputusan pendirian STPDN/ IPDN itu pendidikan formalnya apa? 
Menteri-menteri, termasuk menteri dalam negeri pun, diangkat hanya terserah 
maunya presiden. Seandainya aku jadi presiden, lalu aku tunjuk si Dul jadi 
menteri dalam negeri atau kang Parman jadi mensekneg, misalnya, siapa yang mau 
ngurus latar belakang pendidikannya?" 

Kang Slamet berhenti sejenak, nyruput tehnya, baru setelah tak ada yang 
menukas, melanjutkan dengan gaya presenter tv, "Survei membuktikan, banyak 
bupati juga anggota DPR yang tidak genah pendidikannya dan bisa bercokol di 
kursi jabatannya hingga bosan. Bahkan konon ada bupati yang juga tidak jelas 
pendidikannya, sudah menjabat dua kali priode, masih akan mencalonkan diri jadi 
wakil bupati."

"Jadi menurut Sampeyan, IPDN itu sebaiknya diapakan?" tanya kang Jamin yang 
dari tadi hanya diam saja.

"Hanya ada satu kata," jawab kang Slamet menirukan gaya penyair Wiji Thukul, 
"Bubarkan!"

Kawan-kawan jamaah pun manggut-manggut, entah setuju karena menganggap 
pernyataan kang Slamet sebagai pendapat atau mengamininya karena menganggapnya 
harapan dan doa. 

Lalu mereka pun bubar. (46) 



[Non-text portions of this message have been removed]

  • [kmnu2000] IPDN Itu Oleh: A Mustofa Bisri Mukhlisin

Kirim email ke