Dear all,
   
  Berkut adalah tulisan KH Hasyim Muzadi tentang Cliff dan IPDN. 
   
  Dulu, sekitar akhir 1970, saya sudah mendengar betapa sistem pendidikan di 
(dulu APDN) dilaksanakan. Waktu itu ada mahasiswa APDN yg lagi kosan di rumah 
orang tua saya ketika mereka KKN (kuliah kerja nyata). Mulai dari diperintah 
bangun jam 2 subuh ditengah kenyenyakan tidur kemudian harus memasang pakaian 
dalam gelap (yg salah akan direndam di kolam kobangan kerbau) sampai merayap di 
selokan yg semua kotoran rumah penduduk disalurkan kesana. Tapi peserta KKN ini 
menceritakan dg bangga. Karena biasayanya waktu itu tidak begitu lama selesai 
kuliah akan menjadi Camat, "raja" di kecamatan. Jadi harus dibayar mahal. 
Ternyata beberapa tahun belakangan ini jauh lebih kejam dari 1970-an dulu. Yang 
menjadi sangat aneh bagi saya adalah adanya system dan upaya untuk menutupi hal 
ini dari pengetahuan publik, seperti gagalnya Tim Riyas Rasyid 2 hari yang 
lalu. Seolah-olah mereka tidak tahu bahwa apa yg mereka lakukan sudah menjadi 
pengetahuan publik dimana-mana. Di youtube
 http://www.youtube.com/results?search_query=ipdn semua orang bisa menontonnya. 
Super absurd....! Dari satu perspektif, tidak begitu jauh berbeda dengan 
koleksi saya tentang Guantanamo Camp dan Abu Ghraib.
   
  Kita harus berbuat sesuatu supaya sistem pendidikan di IPDN ini bisa dirobah. 
Karena alumni dari IPDN berada diseluruh lembaga Departemen Dalam negeri mulai 
dari kecamatan sampai ke pusat. Bayangkan saja bagai mana watak dan psyikologi 
orang yg sudah dididik dalam system seperti yg sekarang sudah kita ketahui. 
Namun demikian saya tidak sepakat untuk menggunakan kata "bubarkan" seperti 
diskusi di beberapa milis.
   
  Suaidi
   
   
  Cliff dan Keringnya Pesona Rohaniah 

Oleh : KH A Hasyim Muzadi 


  Dalam beberapa hari terakhir, perut kita seperti mau muntah akibat 
teraduk-aduk oleh kabar tewasnya seorang praja Institut Pendidikan Dalam Negeri 
(IPDN), Cliff Muntu, dari Sulawesi Utara. Diberitakan, ia menemui ajal akibat 
menerima rangkaian pendidikan dan pengasuhan di luar batas keberadaban manusia.
  Balada Cliff bukan yang pertama. Tetapi mungkin bukan yang terakhir. Sebab, 
sejauh ini, gelombang tuntutan pembubaran terhadap institut yang dulunya 
merupakan sekolah tinggi (Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri/STPDN) para 
calon pamong itu, tidak terpenuhi.
  Cliff dididik, kemudian tewas. Cliff tewas di tengah asuhan para seniornya. 
Pendidikan macam apakah ini? Di mata mereka, mendidik jadi bermakna lain; 
menjagal secara sistematis dalam lindungan negara. Membunuh secara legal. Di 
bagian manakah di bumi ini, aksi pembunuhan dilegalkan? 
  Bagaimana mungkin, calon pemimpin berkepribadian ganda; pelayan sekaligus 
penyiksa, pembunuh sekaligus pelindung. Output-nya akan rusak secara jasmani 
dan rohani secara bersamaan. Astaghfirullah !!! Di mana-mana di belahan bumi 
ini, lembaga pendidikan selalu, antara lain, bertujuan memberikan perlindungan 
maksimal kepada semua pihak. 
  Melindungi agar bakat-bakat bisa mekar sepenuhnya, dilindungi agar bibit 
unggul bisa tumbuh dengan sempurna. Menjulang hingga ke bintang tertinggi 
cita-cita bangsa. Kalau bisa, pendidikan mampu membuat bintang-bintang 
bergelantungan di ujung jemari kaki para pencari ilmu. Tapi, apa yang 
tersajikan di hadapan kita? Sungguh di luar syarat-syarat paling minimal untuk 
disebut sebuah proses pendidikan. STPDN diubah menjadi IPDN karena banyak 
menelan korban jiwa dan nyawa. IPDN digugat karena tak lebih baik dari 
pendahulunya. Sebuah metamorfosa yang gagal.
  Bagaimana semua ini bisa terjadi? Bagaimana mungkin para anak manis yang dulu 
manja dan lengket dengan mamanya, bisa menjelma jadi pembunuh sadis? Dari mana 
mereka mendapatkan kemampuan untuk menyiksa? Dari mana asal muasalnya, sampai 
mereka bisa begitu tega memukul, menampar, menendang dan menjotos? Bagaimana 
mungkin mereka bisa menikmati benar kebiasaan yang dilaknat semua makhluk ini? 
Tuhan pun, kalau belum sampai pada waktunya, tidak akan memaksa seorang hamba 
untuk menyudahi hidupnya. Tidakkah ini sebuah anomali paling sadis dalam sebuah 
proses pendidikan? Lalu, kalau mereka lulus dan terjun ke tengah-tengah 
masyarakat, apa yang bisa mereka khidmatkan? Jangan-jangan mereka akan tega 
menyiksa rakyat yang seharusnya mereka lindungi; seperti biasa mereka terima 
dari pada proses pendidikannya? Duh!
  Kini kalau kita merenung, di manakah mereka membawa serta Tuhan dalam 
''kehidupan'' mereka yang sependek itu dalam sebuah proses pendidikan sebelum 
menjadi pamong? Atau, jangan-jangan, Tuhan pun telah berubah sosok dalam 
gambaran mereka yang tega menganiaya ini? Memang harus diakui, tidak semuanya 
berkepribadian buruk. Ini menjadi serius, karena sampelnya berasal dari satu 
lingkungan. Memang masih teramat banyak praja calon pamong yang berhati baik. 
Tetapi nila setitik telah merusak susu sebelanga. Setitik nila inilah yang 
tampaknya perlu mengenal kelembutan. Tuhan dalam sosok-Nya, jauh lebih lembut 
dari yang kita bayangkan. Sebab, Tuhan yang kita ''kenal'', amatlah tidak 
memadai untuk menandai isyarat-isyarat kelembutan-Nya.
  Kepada kita cuma disodorkan gambar-gambar tidak utuh soal Dia Yang Maha Apa 
Saja ini. Tentu, karena keterbatasan yang mampu diserap oleh akal kita, maka 
sosok Tuhan hanya muncul dalam sketsa yang keras, pengecam, pengancam, pemberi 
azab, penyiksa di alam kubur, penghancur kenikmatan dan segala macam sifat yang 
menyeramkan. Padahal, Tuhan adalah sosok yang sangat perasa, sangat penyantun, 
Mahabertobat (At-Tawwab), Mahabersyukur (As-Syakuur), Mahadamai (As-Salaam), 
Mahalembut (Al-Latiif), Mahapenyabar (As-Shobuur) dan sifat-sifat lainnya yang 
sungguh menyejukkan hati. Semua sifat ini, setiap saat, dengan standar dan 
jamaliyahnya yang tentu saja berbeda, dapat menetes pada diri kita sebagai 
hamba-Nya. Apakah dengan demikian kita lantas heran, kenapa Tuhan bisa bersifat 
seperti itu? Kalau iya, maka kita perlu untuk kesekian kalinya mengeja ulang 
satu persatu Al-Asmaa-ul Husna; 99 nama-nama Tuhan Yang Agung. Dari deretan 
nama-nama itu tentu dengan mudah dapat kita temukan
 dokumen seputar Tuhan yang sungguh indah, sejuk dan menyegarkan. Ini bisa 
muncul dalam kerohanian kita yang tercermin dalam pola hidup sehari-hari.
  Dalam beberapa firman-Nya, Dia malah mengenalkan diri-Nya sebagai sosok yang 
pemalu, suka bersedih, dan gemar berasykik masyuk dengan sagenap kekasih-Nya, 
para auliyaa, shalihin dan syuhada. Dalam firman-Nya yang lain, misalnya, 
setiap memasuki tengah malam, Tuhan turun ke langit dunia duduk di 
singgasana-Nya, bersabar menunggu para kekasihnya terbangun untuk bercengkerama 
dalam shalat, dzikir serta munajat. Anehnya, begitu Tuhan menunggu di seberang 
jalan, kita sebagai hamba, justru tertidur seperti bangkai seakan Tuhan tidak 
pernah ada. Dia kita tentang seakan Dia tertidur dan kita campakkan firman-Nya 
seakan Dia tengah beristirahat. Hanya dengan kelembutan, kita bisa 
berdekat-dekatan dengan-Nya secara intens. Hanya dengan ketajaman rohani, kita 
bisa menyelami riak terdalam masyarakat. Sungguh!
  Untuk membuat orang berbuat baik, tentu bukan lagi dengan penyiksaan fisik. 
Untuk membuat kita sadar, tentu juga bukan lagi dengan cambukan. Dahulu, 
cambukan terpaksa dilakukan terhadap budak, tetapi terhadap orang bebas 
merdeka, cukuplah dengan isyarat (Al-Abdu Yuqro'u Bil 'Ashoo Wal Hurr Takfiihil 
Isyaarotu). Tetapi kalau di antara kita masih menganggap yang lain sebagai 
budak, maka tentu orang seperti ini patut hidup di era perbudakan yang sekarang 
sudah tinggal sejarah. Kini, penaklukkan jamak dilakukan dengan ilmu. Biasa 
dilakukan dengan teknologi dan tentu saja dalam kepemimpinan bisa dilakukan 
dengan kelembutan hati dan rohani. Baginda Muhammad SAW sukses menjadi pemimpin 
dunia akhirat, demikian cerita Allah SWT dalam Alquran, justru karena 
kelembutannya (Fabimaa Rahmatin MinalLaahi Linta Lahum).
  Kelanjutan ayat suci tadi menjelaskan bahwa seandainya Baginda Rasul bersikap 
keras, maka Allah memastikan umat akan menjauhinya. Kalau seorang rasul tidak 
berhati lembut dan tidak berpancaran rohani menyegarkan saja bisa ditinggalkan 
umat, bagaimana dengan kita yang bukan rasul dan bukan nabi. Apalagi hanya 
seorang pamong. Apalagi cuma seorang abdi negara. Maka, kunci sukses seorang 
pemimpin terletak pada kelembutan hatinya dan kejernihan rohaninya. Pendekatan 
paling sukses adalah pendekatan dari hati ke hati bukan dari kepalan tangan ke 
dada, jotosan ke perut, tendangan ke punggung. Maka cukuplah sudah semuanya 
berakhir di Cliff Muntu sebagai korban terakhir. Tutuplah buku induk masa lalu 
yang bergelimang darah dengan lembaran baru yang lebih segar, lembut dan 
memesona. Bukankah kalian nantinya akan berada di tengah-tengah kami. Pada 
akhirnya kalian akan membutuhkan kami semua. Kita memang hidup saling 
membutuhkan. Wallaahu A'lamu Bishshowaab. 
   
  http://republika.co.id/kolom_detail.asp?id=289595&kat_id=49


============================ 
  Suaidi Asyari
   
  Asia Institute
  The University of Melbourne Australia
  Email alt: [EMAIL PROTECTED]
   
   

 Send instant messages to your online friends http://au.messenger.yahoo.com 

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke