Masyarakat Islam Indonesia di Darwin Rayakan Maulid Nabi 
Senin, 23 April 2007 08:44 

Darwin, NU Online
Peringatan kelahiran Nabi Muhammad atau Maulid Nabi bagi masyarakat Islam 
Indonesia mungkin sudah biasa. Hampir setiap tahunnya acara ini diselenggarakan 
di seluruh penjuru  kota di Indonesia. Tapi, jika acara maulid Nabi 
diselenggarakan di kota Darwin, Australia, mungkin hal ini tidak biasa. Kendati 
jauh dari kampung halaman, masyarakat muslim Indonesia di wilayah paling utara 
Australia ini masih merindukan suasana peringatan Maulid Nabi seperti di 
kampung halaman mereka. 

Kendati tidak seramai peringatan Maulid Nabi di Indonesia, masyarakat Islam 
Indonesia Darwin dengan khidmat merayakan acara Maulid Nabi Muhammad SAW belum 
lama ini. Acara yang di selenggarakan di aula pertemuan Konjen Republik 
Indonesia di Darwin ini di hadiri tidak kurang dari 150 pengunjung. Mereka 
umumnya adalah masyarakat muslim Indonesia yang telah puluhan tahun menetap di 
kota yang berpenduduk kurang lebih 111,300 jiwa ini. Tampak  hadir dalam acara 
ini Presiden Darwin Islamic Society, Dhurrahman, muslim Bangladesh yang telah 
lama menjadi warga negara Australia.

Acara Maulid ini diisi dengan penampilan group pelantun kasidah shalawat yang 
terdiri dari para santri  madrasah TPA di Masjid Darwin.  Penampilan mereka 
melantumkan bait-bait  kasidah shalawat yang biasa dilantumkan oleh Hadad Alwi 
ini cukup memukau hadirin. Terbukti hadirin sangat antusias memberikan applause 
setelah kelompok ini selesai melantumkan lagu terakhir. 

Layaknya acara Maulid Nabi di tanah air, acara Maulid ini diisi hikmah Maulid 
Nabi disampaikan oleh Arif Zamhari, yang juga sebagai Ketua Tanfidziah Pengurus 
Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCI-NU) Australia dan New Zealand. Dalam 
ceramahnya Arif Zamhari mengulas sejarah hidup Rasulullah mulai dari masa pra 
kenabian dan masa kenabian. Menurutnya, kehadiran Nabi Muhammad sebagai utusan 
Allah ini sebenarnya sudah dipersiapkan oleh Allah jauh sebelumnya. Terbukti 
beliau di tinggal ayahnya sejak beliau masih dalam kandungan, Nabi juga dalam 
keadaan ummi, tidak bisa membaca dan menulis, dan sejak lahir beliau dijauhkan 
dari ibunya tinggal di pedesaan. 

Dalam kesempatan yang sama Arif Zamhari, yang juga mahasiswa program doktor 
Anthropologi di the Australian National University, Canberra ini juga 
menekankan pentingnya ukhuwah Islamiyah. Menurut Arif, ukhuwah Islamiyah tidak 
harus dimaknai dalam konteks persaudaraan sesama muslim. Tapi menurut konsep 
ukhuwah dalam Al-Qur'an konsep ini harus dimaknai dalam konteks yang lebih 
luas. Yakni meliputi persaudaraan kemanusian (ukhuwah bashariah) dan 
persaudaraan dengan pemeluk agama lain dalam kebaikan.'

Menurutnya, konsep ukhuwah sesama umat Islam harus didasari persamaan. Tanpa 
adanya rasa persamaan mustahil ukhuwah Islamiyah ini dapat terwujud. Sehingga 
karena rasa persamaan ini seseorang akan mengulurkan bantuan bukan atas dasar 
'take and give' tapi lebih didasarkan karena rasa persamaan sebagai saudara 
sesama umat Islam. Bahkan mereka akan memberikan prioritas bantuan sekalipun 
mereka kekurangan,' tandasnya.

"Peringatan mauled ini pada awalnya akan diselenggarakan di Masjid Darwin, tapi 
karena Imam masjid ini menganggap peringatan maulid sebagai amaliah bid'ah, 
maka beliau tidak memberikan ijin," kata  ketua panitia acara yang juga sebagai 
fellow research di Charles Darwin University.

"Bahkan kenyataan ini terungkap setelah dalam khutbah Jum'atnya  sebelum 
peringatan mauled diselenngarakan di KJRI,  Imam ini secara panjang lebar 
menghantam peringatan mauled sebagai amalan bid'ah yang sesat dan pelakunya 
akan masuk neraka," kata salah seorang sumber yang tidak mau disebutkan 
namanya. 

Pernyataan ketua panitia ini juga dibenarkan oleh Sudjoko, warga Indonesia asal 
Surabaya yang sudah tiga puluh lima tahun tinggal di Darwin. Menurut Sudjoko, 
yang juga volunter kebersihan di masjid Darwin ini. "Kami sangat menyesal 
mengapa kami sebagai masyarakat Islam Indonesia tidak bisa menyelenggarakan 
acara maulid Nabi di masjid kami sendiri. Tapi untung kami masih bisa 
menyelenggarakan acara ini di KJRI."

Ketidaksetujuan Imam masjid ini patut dimaklumi karena hampir sebagian besar 
imam-imam masjid di Australia diangkat dan digaji oleh pemerintah Kerajaan Arab 
Saudi yang dikenal sebagai pendukung gerakan puritanisme Islam. Hal yang sama 
juga terjadi dengan masyarakat Islam Indonesia di Canberra  yang akan 
menyelenggarakan acara maulid Nabi Muhammad di masjid Abu Bakar, satu-satunya 
masjid di Canberra. Hanya saja, imam masjid Canberra masih mengizinkan 
diselenggarakannya maulid di masjid ini, tapi yang bersangkutan tidak akan 
mengahdiri acara tersebut sekalipun panitia pelaksana acara maulid akan 
mengundangnya. (nu-anz/nam)




[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke