Persahabatan Dalam Perbedaan
  Oleh : Mochammad Moealliem & (No Name)
  http://www.muallimku.com 
   
   
  Perjalanan panjang dalam hidup kita ini, sudah cukupkah bagi kita untuk 
memahami inti persahabatan dalam keberbedaan dengan yang lain? Ataukah kita 
masih memuja egois kampungan yang selalu ingin menjadi yang paling baik dari 
yang lain? Ataukah kita akan menjadi manusia yang tak akan pernah tahu punggung 
kita yang berlumuran, jika tak berkaca dengan yang lain.
   
  Kita tak perlu lagi tertawa sendirian tatkala bahagia, tapi kita akan selalu 
bersama sembari bertanya adakah kita telah bahagia di balik tawa kita; akankah 
lama?ataukah kita tertawa melihat orang lain menderita, tersiksa, berkacalah 
pada mereka, dalam kepolosan ucapan mereka terdapat cermin yang tak ternilai 
harganya.
   
  Kita tak akan lagi terluka, tatkala kesunyian mendera, karena semua sahabat 
pernah merasakan kebersamaan kita, meski tak harus ditempat yang sama, tak 
harus baju yang sama, tak harus madzhab yang sama, tak harus cara pandang yang 
sama, bukankah perbedaan itu adalah keindahan yang nyata.
   
  Sekali waktu kita memang butuh untuk terluka, terasing dalam kesunyian, 
dengan segala keresahannya, yang membuat kita tak lagi mengagungkan apa yang 
kita miliki di alam fana kecuali para sahabat dalam suka dan duka. Kita memang 
butuh untuk  mengistirahatkan kerja fisik dan tak lagi mengandalkan logika 
untuk menyelesaikannya dan mengetahui siapa kita sebenarnya setelah kita lelah 
mengembara.
   
  Benar-benar waktu di mana kita berkaca dan berhias disana, kita diam 
termangu, mencari titik hitam dalam diri kita, tutur kata kita, sikap kita. 
Setelah kita mengetahuinya, kita harus mencoba lebih baik dari perjalanan hidup 
kita yang telah laluÂ….
   
  Sadarkah kawan?, kenapa mesti kerinduan yang amat membuat kita tak berdaya 
yang menjadi cobaan terberat dalam hidupku?? Pada siapakah seharusnya kita 
letakkan rindu kita yang pertama? Tentunya pada Dzat yang tak tertandingi 
kecantikan-Nya.
   
  Sadarlah, bahwa rindu kita akan-Nya, akan selalu membuat kita merasa bersalah 
akan segala sikap kita pada Dia, bukankah pada saat itu, kita mencoba untuk 
lebih baik dan melakukan yang terbaik buat-Nya? Termasuk juga buat diri kita 
dan kawan semua.
   
  Sungguh lewat kerinduan kita harus mengambil pelajaran, bagaimana bersikap, 
bertutur dengan hati, sampai akhirnya kita terbiasa untuk berbuat baik 
pada-Nya, dan orang di sekitar kita.......kapan?? Sekarang juga kita harus 
memulainya!!
   
  Semoga dengan kerinduan, kita belajar mengasah emosional. Setelah kita lelah 
berdiskusi, seminar yang kontroversional, yang benar-benar membuat fikiran ini 
capek, lelah dan belum tentu berujung kebenarannya, dan kita juga boleh 
mengabarkan pada mereka semua bahwa kerinduan tercipta untuk membaringkan 
kelelahan. Sebagaimana Hawa yang setia menemani sang Adam yang kelelahan 
menjadi khalifah bumi kita. 
   
  Kini kita tak perlu lagi mengeluh pada-Mu, setelah Engkau sungkurkan kita 
sebab rindu kita pada-Mu, kita percaya Engkau akan selalu membimbing kita 
semua. Tiada yang dapat mengganggu kemesraan kita dengan-Mu jika Engkau 
menghendakinya, dan tak akan ada yang mampu mencipta kemesraan jika Engkau tak 
menghendakinya.
   
  Mungkin dibanding mereka yang mengatakan kurangnya kebermaknaan akan hidup 
kita sebab merindu, kita akui sajalah, kita memang tidak sesukses mereka di 
dunia yang begitu menggiurkan kita, yang akan mengorbankan nurani kita yang 
antik demi kehidupan yang hidonic, materealistik, dan penuh polemik. 
   
  Tapi yakinlah kawan, kita tak perlu terlalu sering mengeluh sebab seringnya 
logika ini terpenjara, asalkan kita berusaha dan pasrah tak henti-hentinya akan 
karunia Sang Pencipta, tentulah jalan akan terbuka, sebab tertutup bukanlah 
selamanya.
   
  Kita akan berusaha semampu yang kita punya, supaya kehidupan kita yang 
dipandang dari kacamata idealitas mahasiswa, terhitung kurang berguna, agar 
bisa menjadi sesuatu yang tak kalah ampuhnya untuk mencapai kesuksesan di masa 
selanjutnya. 
   
  Mari bersama, kita mengasah emosional serta mencerdaskan spiritual lewat 
kerinduan akan sebuah kebenaran dan pertemuan dengan-NYA..
  
Dan kehidupan
Adalah kebermaknaan yang berbeda
Untuk satu tujuan Mulia
"Selalu Dalam Ridlo-Nya"
   
  Aku, kamu, dan kita semua
Ciputat, 20 April 2007
Cairo, 24 April 2007
   


                Kunjungi
  http://www.muallimku.com
  Kritikmu harapanku
   
  Komunitas sahabat lintas batas
  http://tech.groups.yahoo.com/group/kang_guru/ 
  Bersama menuju bahagia







  

         


              Kunjungi
  http://www.muallimku.com
  Kritikmu harapanku
   
  Komunitas sahabat lintas batas
  http://tech.groups.yahoo.com/group/kang_guru/ 
  Bersama menuju bahagia









[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke