PBNU: Waspadai Ideologi Trans-nasional 
Selasa, 24 April 2007 11:30 

 

Jakarta, NU Online
Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) meminta masyarakat Indonesia untuk 
mewaspadai gerakan yang berideologi trans-nasional (antar-negara) yang marak 
belakangan ini. Pasalnya, gerakan dari ideologi tersebut tidak bersumber dari 
akar budaya Indonesia sehingga berbahaya bagi keutuhan bangsa.

"Seperti Hizbut Tahrir, Ikhwanul Muslimin, Al-Qaeda, dan lain-lain. Mereka itu 
bagian dari international political movement (gerakan politik dunia). Mereka 
menggunakan agama Islam sebagai ideologi politik, bukan sebagai way of life 
(jalan hidup)," terang Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi kepada wartawan di 
Kantor PBNU, Jalan Kramat Raya, Jakarta, Senin (23/4)

Karena itu, menurutnya, jika ideologi dari kelompok-kelompok tersebut 
diterapkan di Indonesia, maka tidak akan cocok karena tidak lahir dari akar 
budaya, visi kebangsaan, visi keumatan setempat. Jika dipaksakan, maka akan 
mengancam keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Hasyim mengatakan, gerakan ideologi trans-nasional itu mulai kuat menggejala di 
negeri ini. Di antaranya bisa dilihat dari maraknya peraturan-peraturan daerah 
yang kuat sekali nuansa agamanya, tidak saja Islam, tapi juga agama lain. 
"Formalisasi seperti ini mestinya dicegah. Seharusnya yang dilakukan bukan 
formalisasi, tapi substansialisasi agama," jelasnya.

Untuk mencegah meluas dan berkembangnya ideologi trans-nasional itu, kata 
Hasyim, solusinya adalah memantapkan penggunaan ideologi yang berasal dari 
Indonesia sendiri, yakni Pancasila. "Semua gerakan politik harus berasaskan 
atau berdasarkan Pancasila, tidak boleh ideologi lain," pungkasnya.

"Bukan bermaksud menyeragamkan seperti Orde Baru, tapi mencegah meluasnya 
ideologi trans-nasional yang bisa mengancam integritas bangsa. Jangan karena 
Pancasila itu dianggap produk Orde Baru, lantas kita tidak mau berasaskan 
Pancasila," tambah Pengasuh Pondok Pesantren Al-Hikam, Malang, Jatim, itu.

Khusus bagi Islam sendiri, tambah Hasyim, yang harus dilakukan adalah 
memperkuat gerakan Islam moderat. Islam moderat, seperti NU, merupakan gerakan 
yang khas, berasal dan berkembang di domestik Indonesia. "Islam moderat seperti 
NU adalah domestik nasional," tandasnya. (rif)



[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke