Keagamaan Ideologi dari Luar Harus dalam Wawasan Domestik Surabaya, Kompas - Ideologi Islam dari Timur Tengah yang masuk ke Indonesia dinilai bisa merugikan. Hal itu bisa menyebabkan perpecahan bangsa dan umat beragama di Indonesia. Karena itu, ideologi itu haruslah dipandang dalam wawasan domestik.
Demikian dikemukakan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Hasyim Muzadi pada peringatan 100 hari KH M Yusuf Hasyim dan peluncuran buku berjudul Sang Pejuang Sejati di Kantor Pengurus Wilayah NU Jawa Timur, Minggu (29/4). "Di Timur Tengah banyak ideologi Islam yang satu sama lain bertentangan. Jika ideologi itu masuk ke Indonesia, bangsa ini akan terpecah-pecah, baik dalam dimensi agama maupun kehidupan berbangsa secara umum," katanya. Di Indonesia, ideologi Islam asal Timur Tengah menyebar dan terstruktur. Karena itu, Hasyim melanjutkan, satu-satunya hal yang bisa dilakukan bangsa Indonesia untuk mengantisipasinya adalah tetap memandangnya sebagai ideologi dalam konteks domestik. Ideologi yang harus dikembangkan di Indonesia itu harus tetap berwawasan Pancasila. Terhadap jaringan yang telanjur masuk ke Indonesia, Hasyim menyatakan tidak harus sampai melarangnya. Tetapi, pemerintah harus membina mereka supaya kembali berwawasan Pancasila. Hal itu, kata Hasyim, terjadi pada agama Kristen pula. Pola yang terjadi adalah permasalahan yang muncul di Indonesia, pertama-tama oleh jaringan dalam Kristen, justru dilaporkan ke Amerika Serikat dan bukan ke Pemerintah Indonesia. Ini rawan digunakan untuk kepentingan strategis bangsa lain. (las) [Non-text portions of this message have been removed]
