25 Mei 2007 
Langkah Menangkal Islamophobia 


Muhammad Niam Sutaman
Kandidat Doktor di International Islamic University, Islamabad, Pakistan

Konferensi menteri luar negeri negara-negara OKI telah dilaksanakan pada
tanggal 15-17 Mei 2007 di Islamabad, Pakistan. Konferensi yang dihadiri
sekitar 400 delegasi negara-negara OKI tersebut telah mengeluarkan tiga
dokumen penting, yaitu resolusi tentang berbagai isu global yang
dihadapi umat Islam, komunike, dan Deklarasi Islamabad. Semua hasil
konfrensi tersebut merupakan seruan negara-negara Muslim dalam merespons
perkembangan percaturan politik global saat ini, khususnya yang terkait
dengan umat Islam dan negara-negara Muslim.

Salah satu isi Deklarasi Islamabad yang sengat menarik untuk digaris
bawahi selain dukungan negara-negara OKI terhadap program nuklir Iran
untuk tujuan damai dan seruan penyelesaian damai masalah nuklir Iran
adalah komitmen bersama negara-negara OKI dalam mengkonter islamopobia
dan terorisme.

Deklarasi tersebut mengisyaratkan sebuah kesadaran dari dunia Islam
bahwa trend islamophobia di kalangan masyarakat global tidak kunjung
reda dan cenderung meningkat dari waktu ke waktu. Islamophobia adalah
sikap takut berlebihan dalam melihat Islam dan umat Islam sehingga
cenderung mengunakan kacamata negatif. Islam dipandang sebagai kelompok
monolitik yang statis dan antiperubahan. Islam dilihat sebagai kelompok
lain di dunia ini yang tidak mempunyai nilai bersama yang bisa di-share
dengan kelompok lain. Islam dilihat sebagai agama yang mengajarkan
barbarisme, irasional, primitif, agresif, prokekerasan dan terorisme.
Ajaran Islam juga dianggap telah menjelma menjadi ideologi politik yang
bertujuan untuk membangun kekuatan politik dan militer anti-Barat.
Islamophobia tersebut telah melahirkan sikap memusuhi Islam di kalangan
masyarakat non-Muslim dan menuangkan justifikasi untuk melakukan sikap
diskrimintatif terhadap umat Islam.

Dewasa ini islamophobia telah cukup meresahkan umat Islam. Kekerasan
fisik terhadap masyarakat minoritas Muslim semakin sering terjadi.
Diskriminasi hukum dan sosial yang dilakukan secara sistematis terhadap
pengikut agama Islam di beberapa negara berpenduduk minoritas Muslim
juga sudah menjadi berita rutin yang kita dengar.

Sikap presangka terhadap Islam juga muncul dalam bentuk pelecehan
terhadap nilai-nilai dan elemen-elemen suci Islam, seperti yang terjadi
dalam kasus kartun Nabi Muhammad SAW beberapa waktu lalu. Ini sangat
tidak manusiawi, karena mereka memandang secara setereotip negatif
terhadap satu kalangan masyarakat berdasarkan agama.

Bagi dunia Islam, tumbuhnya islamophobia layak mendapatkan perhatian
serius. Sikap tersebut tidak hanya merusak citra agama Islam sebagai
agama yang cinta damai dan antikekerasan, tetapi juga akan merugikan
dunia Islam dalam percaturan global khususnya di bidang politik,
ekonomi, perdagangan, ilmu pengetahuan serta sains dan teknologi.

Faktor eksternal dan internal
Munculnya sikap islamopobia tidak lepas dari faktor eksternal dan
internal. Faktor eksternal adalah peran media Barat dan buku-buku kajian
Islam dari Barat yang lebih banyak mengekspos wajah Islam dan umat Islam
yang penuh kekerasan dan menyeramkan. Kejadian 11 September 2001 dan
setelahnya telah menjadi momentum bagi media dan penulis Barat untuk
semakin memojokkan Islam dan umat Islam.

Begitu juga kebijakan politik global dunia Barat, dipimpin Amerika
Serikat yang telah melahirkan berbagai gejolak politik di berbagai
kawasan Muslim seperti di Afghanistan, Irak, dan Iran telah melahirkan
citra image negatif terhadap dunia Islam. Kebijakan itu menempatkan
Islam sebagai musuh Barat yang antikemajuan dan antitoleransi. Survei
yang dilakukan Council on American Islamic Relations (CAIR) pada tahun
2006 menyebutkan bahwa perang Irak telah semakin mengintensifkan sikap
islamophobia di masyarakat Amerika Serikat. Kekerasan yang ditujukan
kepada umat Muslim AS telah meningkat hingga 29 persen pada tahun 2006.

Namun faktor internal dunia Islam yang mendorong islamopobia juga tidak
kalah kuatnya. Konflik politik internal di negara-negara mayoritas
Muslim yang diwarnai konflik senjata dan kekerasan masih tak kunjung
reda. Konflik politik internal Pakistan antara kalangan partai Islam dan
pendukung Musharraf yang pro-Barat baru-baru ini telah menampilkan citra
pengikut Islam yang semakin seram. Begitu juga konflik internal di
Darfur Sudan, Somalia dan Thailand Selatan telah semakin memperkuat
asumsi bahwa relasi antara Islam dan kekerasan sulit dipisahkan.

Belum lagi konflik sekterianisme ekstrem yang juga menimbulkan
korban-korban yang terus bertambah seperti yang sering terjadi di Irak
dan Pakistan antara pengikut Sunni dan Syiah. Kondisi ini telah
melahirkan rasa takut terhadap Islam yang berlebihan di kalangan
pengikut agama non-Islam. Ketakutan terhadap Islam radikal yang semula
ada di hati mereka telah berubah menjadi ketakutan terhadap Islam secara
keseluruhan.

Tantangan berat OKI
Islamophobia telah menjadi ancaman laten dunia Islam saat ini. Misi
menangkal islamophobia merupakan tantangan yang sangat berat bagi
negara-negara OKI. Dialog antaragama dan kepercayaan yang selama ini
sudah berjalan tidak hanya harus diformat ulang sesuai kondisi politik
global saat ini, namun juga harus semakin diintensifkan. Dialog seperti
ini juga harus semakin diperluas ke fora-fora internasional dan
diperluas ke arah upaya membentuk dialog antarkekuatan politik global.

Komitmen bersama negara-negara OKI dalam memerangi terorisme juga harus
semakin efektif, dengan menyentuh akar-akar terorisme seperti
penyelesaian konflik nasional dan regional, pengembalian hak asasi dan
hak politik kepada kelompok yang tertindas atau terjajah wilayahnya.
Koordinasi antaranggota OKI dalam mengatasi masalah terorisme harus
semakin ditingkatkan. Selain itu faktor-faktor lain yang terkait secara
tidak langsung dengan masalah terorisme seperti masalah penanggulangan
kemiskinan, peningkatan kualitas pendidikan umat Islam, dan sebagainya
juga harus menjadi fokus perhatian OKI. 



  _____  

Berita ini dikirim melalui Republika Online http://www.republika.co.id
Berita bisa dilihat di :
http://www.republika.co.id/Kolom_detail.asp?id=294330&kat_id=16
<http://www.republika.co.id/Kolom_detail.asp?id=294330&kat_id=16> 


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke