Salam hangat,
Saya sangat antusias membaca tulisan teman2 soal tasawuf, hubungannya
dengan pesantren. Saya hanya ingin cerita: Dulu, tasawuf itu saya kenal
sebagai thoreqot. Semasa kecil orang tua saya selalu mengajak saya mengikuti
wiridan, torekotan, atau khususiyah atau belakangan sering disebut
istighotsah saja. Waktu itu saya tidak mengerti arti kata-kata yang
diucapkan oleh para jamaah, yang dipimpin oleh pak kiai Mursyid tentunya.
Saya hanya tahu bahwa para jamaah dari mana saja saat itu sedang berdoa
bersama-sama, menghadap tuhan bersama-sama. Lalu bapak saya sempat cerita
kepada kakak-kakak saya, kalau ndak salah tentan hal-hal begini-ini: para
kiai tareqot adalah pelawan penguasa yang lalim; tareqot pernah menjadi alat
pemersatu melawan penjajahan; jaringan tareqot berhasil menggerakkan perang
diponegoro, bahkan NU bisa mudah terbentuk di seluruh penjuru nusantara
karena Mbah wahab tahu betul kantong2 kiai tarekot dan jama'ahnya yang telah
dibai'at. dst2.

Ketika agak gedean dikit, saya menemukan tasawuf dalam bentuk lain. Saya
melihat orang-orang kaya berkumpul dengan orang-orang kaya untuk
membicarakan eksistensi mereka di hadapan tuhan mereka (tentunya bukan tuhan
saya wong buktinya saya tidak mungkin bisa ikut bergabung bersama mereka),
bagaimana menjadi orang yang "terpilih" dengan tanpa kehilangan kelas; tetap
menjadi saudagar kaya, pegawai, politisi, atau bahkan koruptor.

Di tempat lain, ada kelompok pintar yang memilah-milah tasawuf menjadi 2
macam: tasawuf amali dan tasawuf fikri. Yang pertama dimaksudkan sebagai dua
kelompok "awam" yang saya sebutkan barusan. Yang kedua, tasawuf fikri,
adalah pengalaman-pengalaman spiritual-religius milik pribadi-pribadi orang
pintar tadi yang sedang "berfikir tajam" tentang agama. Pengalaman ini tidak
berhubungan dengan orang lain; "pengalaman pribadi saya sendiri; tasawuf
yang saya fahami sendiri dari bacaan-bacaan dan hasil fikiran saya mengenai
agama saya sendiri, dan bukan agama orang lain." Tasawuf fikri adalah ajaran
tasawuf mengenai diri sendiri yang telah berpisah dari diri orang lain.

Semoga kau mengerti,


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke