http://www.tribun-timur.com/view.php?id=44789
Ngotot Berjilbabcalon anggota dpr denmark
SEORANG perempuan muda dan berjilbab menyita perhatian sebagian besar warga
Denmark belakangan ini.
Asmaa Abdol-Hamid (25), warga Denmark keturunan Palestina memunculkan
perdebatan sengit saat mengumumkan tetap memakai jilbab di gedung parlemen
Denmark jika terpilih kelak.
Kantor berita AFP, Senin (21/5), melaporkan, Asmaa berhasil menarik simpati
kaum imigran namun sekaligus membangkitkan amarah warga asli Denmark.
"Saya bebas dengan memakai sepotong kain di kepala saya. Itu merupakan suatu
pilihan bahwa saya mempertimbangkan menjadi hak. Dan saya lebih suka menyambut
para lelaki lewat meletakkan tangan saya di hati saya. Namun saya tidak memaksa
orang lain melakukan itu," katanya.
Asmaa adalah calon kuat dari partai Red-Green Alliance. Bila terpilih, Asmaa
mencetak sejarah baru sebagai muslimah pertama berjilbab di Eropa dan juga
muslimah pertama yang duduk di parlemen Denmark.
Seperti dikutip di Antara, aktivis sosial dan mantan penyiar televisi dari kota
Odense, kota ketiga terbesar Denmark, itu dikenal komitmennya dalam politik dan
memperjuangkan hak-hak kesetaraan, juga hak berjilbab, dan menolak berjabat
tangan dengan lelaki bukan muhrim.
Namun masa depan wanita yang memakai penutup kepala tradisional, atau jilbab,
di parlemen telah menyentuh perasaan di Denmark, negara yang tahun lalu
memunculkan gambar kartun Nabi Muhammad SAW yang menimbulkan kemarahan Muslim
di seluruh dunia terhadap ide-ide kebebasan Barat.
Sebagai negara yang mengagungkan kebebasan, wajar jika jajak pendapat soal
pemuatan kartun Nabi di harian Jyllands-Posten disetujui oleh 53 persen warga
Denmark. Muslim negara Skandinavia ini berjumlah 3,5 persen dari 5,4 juta
penduduk.
Jajak pendapat baru-baru ini menunjukkan 48 persen rakyat Denmark percaya
wanita-wanita Muslim memiliki hak untuk memakai jilbab di parlemen.
Namun jumlah yang sama menentang ide tersebut, dengan empat persen tidak
berpendapat.
Jurubicara partai sayap kanan-jauh Partai Rakyat Denmark (DPP), Soeren Krarup,
merupakan orang pertama yang bereaksi atas sikap Asmaa menyebut jilbabnya
sebagai "simbol totaliter" dan menyamakannya dengan "Nazi swastika".
Seorang anggota Palemen Eropa dari DPP, Mogens Camre, mengatakan, Asmaa
"memerlukan pengobatan psikiatris".
Namun kata-kata kasar itu tidak berpengaruh terhadap Asmaa, yang bermukim di
Denmark sejak usia lima tahun bersama kedua orangtuanya warga Palestina.
Ia menolak pandangan para pengkritik terhadap dirinya bahwa dia merupakan
seorang wanita tertindas dan mempertahankan "haknya untuk tampil beda."
Ia baru-baru ini dicalonkan oleh partainya sebagai kandidat untuk para pemilih
Kopenheigen menjelang pemilu pada Februari 2009, dan jajak pendapat menunjukkan
ia memiliki tempat yang baik untuk memenangkan kursi dalam majelis nasional
itu.
Meskipun terdapat beberapa perempuan Muslim lainnya telah memenangkan kursi di
perlemen Eropa -- di Belgia dan Bulgaria -- nemun tidak ada di antara mereka
yang memakai jilbab.
Asmaa percaya diri bahwa sesuatu akan berubah lebih baik baginya, ia pernah
memecahkan suasana baru.
Seorang wanita muda yang bersikap tenang dengan senyum merekah, dia telah
membuat berita utara di media massa Denmark tahun lalu ketika menjadi penyiar
televisi pertama Denmark yang memakai jilbab.
Namun Ketua Partai Rakyat Denmark, Pia Kjaersgaard, yang antipartai imigran
telah muncul sebagai kekuatan politik untuk berurusan dengan, belum diyakinkan
oleh kepastian Asmaa.
Kjaersgaard mengatakan, ia "merasa kasihan" kepada seorang wanita yang "mencoba
membuat setiap orang percaya bahwa jilbab membuat dirinya bebas," dan
menambahkan, penutup kepala itu kerap dipaksakan terhadap gadis-gadis belia tak
berdosa oleh kekuasaan para lelaki.
Asmaa tetap mempertahankan sikapnya bahwa masalah itu bukan untuk dirinya
semata.
Bagi dia, memenangkan sebuah kursi di parlemen merupakan "suatu jalan bagi
perempuan Muslim Denmark untuk memperlihatkan apa yang ia sanggupi, dan untuk
memperjuangkan gagasan-gagasannya termasuk untuk memperjuangkan kesetaraan
antara lelaki dan perempuan.
Menurutnya, ia amat percaya "pemisahan agama dan politik", dan mengatakan bahwa
dirinya tidak akan meminta ruang shalat di parlemen bila ia terpilih.
Ketika kritikan padanya semakin pedas, ia telah memiliki para pendukung.
Sejumlah imam masjid di Denmark telah menyerukan untuk memilih Asmaa namun
kebanyakan pendukungnya datang dari etnis sayap kiri Denmark .
Elsebeth Gerner Nielsen, seorang anggota oposisi Partai Radikal dan mantan
menteri kebudayaan, yang tertimpa skandal oleh penyerangan sayap kanan-jauh,
baru-baru ini, menyambut para wartawan dan fotografer dengan memakai jilbab.
Ia meminta "hak tampil beda" warga Denmark dan menekankan pentingnya kebebasan
berekspresi dan memerlukan perimbangan "nasionalis dan pikiran picik" sayap
kanan-jauh yang mencemooh Muslimah yang memakai jilbab.
"Tidak penting apa yang ada di kepala kita, namun opini-opini yang kita
kemukakan," katanya.
Nielsen, bagaimanapun, telah dikritik oleh seorang mantan anggota separtainya,
Naser Khader, seorang Muslim moderat, yang menuduhnya "bermain dalam kekuasaan
kelompok Islam," yang diamini oleh Perdana Menteri Denmark Anders Fogh
Rasmussen.
---------------------------------
Copy addresses and emails from any email account to Yahoo! Mail - quick, easy
and free. Do it now...
[Non-text portions of this message have been removed]