Teman-teman sekalian.
Dalam waktu dekat ini, situs pribadi Pak Kyai Masdar akan segera diluncurkan, 
do'akan lancar ya.....

Masykur Hafidz
Pengelola 


----- Original Message ----
From: Syaikhul Amin - MTD <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Sent: Wednesday, May 30, 2007 11:04:05 AM
Subject: RE: [kmnu2000] Wwcr Kyai Masdar di IPB (Kompas)

duktur aji,

selamat bisa ngumpulin poro kyai NU di kampus sekuler hehehe
semoga pasca pertemuan ada manfaatnya dan mbarokahi tentunya.

salam,
syaikhul

nb. 'guru' saya syekh nurdin marbo hadir nggak yah?
udah lama saya nggak sowan ke beliau, termasuk sowan ke sampeyan...: -)



-----Original Message-----
From: Aji Hermawan [mailto:[EMAIL PROTECTED] id]
Sent: Tuesday, May 29, 2007 11:40 AM
To: [EMAIL PROTECTED] s.com
Subject: [kmnu2000] Wwcr Kyai Masdar di IPB (Kompas)

Rekan-rekan

Terkait dengan ceramah Kang Kyai Masdar di IPB sabtu kemarin, berikut 
ini hasil liputan dan wawancara Kompas. Rekan2 dapat membacanya di 
Kompas hari ini selasa 29 mei 07 hal 2. atau dapat diklik di url 
berikut
http://www.kompas. <http://www.kompas. com/kompas- cetak/0705/ 29/Politikhukum/ 
3561370.htm> com/kompas-cetak/ 0705/29/Politikh ukum/3561370. htm

berita ini juga saya copy diakhir email ini.

Salam
Aji Hermawan
------------ --------- --------- --------- ----
Pemerintah Diminta Tidak Sudutkan Lembaga Agama 

Bogor, Kompas - Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama atau PBNU Masdar 
Farid Mas'udi meminta pemerintah tidak memosisikan lembaga keagamaan 
sebagai potensi masalah. Sebaliknya, melalui redefinisi, keberadaan 
lembaga keagamaan semestinya dipandang sebagai modal sosial yang 
potensial dalam pembangunan bangsa. 

"Negara harus menumbuhkan persepsi positif terhadap lembaga 
keagamaan. Selama ini lembaga keagamaan masih dianggap sebagai 
potensi masalah, misalnya terkait keberadaan pesantren sebagai pusat 
aktivitas antipemerintahan. Padahal, ini tidak benar," ujarnya di 
sela-sela silaturahmi PBNU dengan tokoh pesantren se-Bogor, Sabtu 
(26/5). 

Persepsi miring inilah yang selanjutnya menciptakan jarak psikologis 
antara pemerintah, masyarakat, dan lembaga keagamaan, terutama 
pesantren. Pemimpin agama yang sebetulnya punya potensi dan 
kredibilitas di masyarakat justru menjadi terabaikan, bahkan 
tersudutkan. 

Masdar memandang perlunya redefinisi terhadap fungsi dan peranan 
lembaga keagamaan dan tempat ibadah. Masjid, misalnya, dipandang 
bukan sekadar tempat beribadah, tetapi juga sebagai tempat pertemuan 
untuk menggali partisipasi yang murni dan ikhlas dari masyarakat. 

"Masjid pada dasarnya memiliki dua fungsi, yaitu bagian dalam untuk 
beribadah dan serambi. Serambi ini yang harusnya difungsikan sebagai 
balai amal, tempat untuk membahas dan memecahkan berbagai persoalan, 
baik ekonomi maupun sosial. Masjid bisa berfungsi langsung sebagai 
community development, " paparnya. 

Masjid bisa pula menjadi tempat menyampaikan berbagai masalah 
strategis kepada rakyat. 

Namun, fungsionaris Partai Kebangkitan Bangsa Ishartanto 
mengingatkan, fungsi itu tak berhasil bila ada politikus yang 
memanfaatkannya sebagai ajang politik praktis. "Seyogianya, jika kita 
tidak ingin lagi berkutat pada kemiskinan dan persoalan bangsa, maka 
setiap politikus harus bisa sadar diri untuk tidak memanfaatkannya 
sebagai politik praktis," tuturnya. (jon) 

[Non-text portions of this message have been removed]




Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com 

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke