Salam,
  Dua tulisan Zaim Uchrowi berikut ini menurut saya sangat menarik dijadikan 
bahan diskusi untuk melihat watak kita sebagai anak bangsa. Mungkin kita bisa 
berkaca dan lantas kemudian bertanya "kalau begitu apa yg dapat saya lakukan 
untuk merubah watak itu". Namun saya tidak sepenuhnya sependapat dg beliau. 
Watak orang-orang yg beliau urai dalam dua tulisan ini menurut saya bukan 
karena mereka atau kita orang Jawa atau Sunda. Tapi karena faktor2 tertentu 
yang ada dalam masyarakat terentu yg membuat mereka atau kita berwatak 
demikian. Sepengetahuan saya, banyak juga kelompok masyarakat di luar Jawa yg 
mempunyai watak yg sama. Brobudur dan sejumlah peninggalan nenek moyang Jawa yg 
masih berdiri megah di pulau itu, rasanya tidak akan pernah ada, jika mamang 
watak itu dikarenakan mereka orang Jawa.
   
  Sebagai perbandingan, misalnya selama ini banyak pengamat tentang NU 
menyatakan bahwa santri traditionalis adalah muslim yang mempunyai ketaatan 
absolut terhadap kyainya. Menurut saya ketaatan santri kepada kyai bukan 
dikarenakan mereka orang traditionalist, tapi lebih disebabkan ada watak2 
tertentu yg dimiliki sang kyai yg menyebabkan santri menjadi taat. Karena itu, 
ketika watak2 tertentu itu menghilang dari sang kyai, maka ketaatan santripun 
ikut perlahan menjadi sirna dan mengghilang. Banyak santri yg berubah menjadi 
mengkritik sang kyai. 
   
  Wassalam
  Suaidi
   
   
  Mentalitas Jawa dan Sunda (2) 
  http://republika.co.id/kolom.asp?kat_id=19

Oleh : Zaim Uchrowi 


  Masyarakat macam apa sebenarnya kita?
Tiga pekan sudah Resonansi itu termuat. Judulnya 'Mentalitas Jawa dan Sunda'. 
Tulisan itu mengajak semua, khususnya orang Jawa dan Sunda, buat memformat 
ulang mentalitas. Sebuah pemformatan yang akan membantu kita sebagai bangsa 
untuk maju. Sebagian mungkin tergugah oleh ajakan ini. Namun, sebagian lain 
lebih menjadikannya sekadar sebagai wacana pergunjingan. Setidaknya itu yang 
tergambar dari beberapa komentar di sejumlah milis internet.
  Reaksi demikian adalah biasa. Naluri dasar manusia memang menyukai 
'kemapanan'. Sebagian besar pencari kerja ingin menjadi pegawai negeri karena 
ingin 'mapan'. Saya pun pernah menjajaki menjadi pegawai negeri, meskipun lalu 
berubah pikiran. Kemapanan memang menyenangkan karena aman dan nyaman. Kita 
tenteram bila berada dalam comfort zone atau zona nyaman masing-masing. Apa pun 
bentuk zona nyaman itu, termasuk dalam soal budaya dan mentalitas. Padahal, 
zona nyaman tak selalu baik menurut ukuran objektif. Tapi, kita tetap saja 
merasa terganggu bila harus bergeser dari sana. Walaupun cuma untuk sedikit 
bergeser.
  Budayawan Muchtar Lubis di akhir 1970-an dihujat karena menulis 'Ciri Manusia 
Indonesia'. Hujatan yang tak akan pernah ada bila ia menulis hanya ciri baik 
bangsa ini. Namun, Muchtar Lubis bukan tipe orang seperti itu. Ia tak ingin 
bangsa ini berpuas-puas memandang potret baiknya sendiri. 
  Sebaliknya, ia menilai bahwa sungguh penting untuk mau pula melihat potret 
buruknya sendiri. Hanya dengan jalan itu kita dapat memperbaiki diri buat 
melangkah maju. Hanya dengan jalan itu kita dapat terbebas dari kehipokritan, 
kemalasan, dan banyak penyakit mental lainnya.
  Tapi, entah berapa banyak orang yang setuju dengan tulisan Muchtar Lubis itu. 
Entah berapa banyak pula yang menjadikannya sebagai pelecut buat maju. Yang 
pasti kebutuhan untuk memformat ulang mentalitas dari waktu ke waktu tidak 
berkurang. Sebaliknya, kebutuhan itu terasa semakin kental. 
  Kemiskinan, pengangguran, korupsi, hingga perusakan alam masih merupakan 
bagian dari wajah bangsa ini. Hari gini masih punya persoalan begitu? Persoalan 
seperti itu sudah semakin menipis di negara-negara tetangga kita seperti 
Thailand, Malaysia, bahkan Vietnam. Tidakkah realitas itu cukup meyakinkan 
tentang perlunya memformat ulang mentalitas? Kaum strukturalis mungkin menolak 
perlunya pemformatan ulang mentalitas. Mereka lebih percaya masalah bangsa 
sekarang lebih merupakan persoalan struktural. Dengan demikian, solusinya 
haruslah perombakan struktural. Bukan penataan ulang mentalitas.
  Yang kemudian menjadi pertanyaan adalah: mungkinkah perombakan struktural 
dilakukan tanpa penataan ulang mentalitas? Mungkinkah peradilan benar-benar 
dapat tegak dan bersih ketika masyarakat masih berlomba mengisi 'tempat basah' 
dunia peradilan yang semestinya agung. Mungkinkah bangsa ini dapat menjadi 
bangsa industri yang kuat bila etos kerja masih seperti sekarang?
  Seorang wartawan senior, Bambang Harymurti, mengaku heran melihat sikap 
bangsa ini yang sama sekali tidak tergerak untuk menyudutkan koruptor. 
Berkali-kali medianya mencoba membongkar kasus korupsi. Namun, upaya itu 
seperti tak bergema sama sekali di publik. Ia lupa bahwa masyarakat kita memang 
cenderung hormat pada setiap orang kaya yang suka membantu sekitarnya. Dari 
mana asal kekayaan itu bukan hal yang dianggap penting. Masyarakat kita juga 
masyarakat yang gampang menerima, bahkan juga meminta. Kemajuan macam apa yang 
akan diperoleh dari mentalitas seperti itu?
  Maka, masihkah kita mempersoalkan pentingnya memformat ulang mentalitas 
bangsa? Khususnya mentalitas Jawa dan Sunda. Kekhususan itu tentu bukan karena 
keluarga saya separuh Jawa dan separuh Sunda. Mentalitas kedua suku ini perlu 
mendapatkan perhatian lebih karena Jawa dan Sunda merupakan etnis dengan 
populasi terbesar kita. Masyarakat macam apa kita bila terus berkubang di zona 
nyaman mentalitas lama, dan enggan membangun mentalitas baru yang sesuai dengan 
tuntutan zaman? 
   
   
  Mentalitas Jawa dan Sunda 
http://republika.co.id/koran_detail.asp?id=293485&kat_id=19&kat_id1=&kat_id2=

  ''Indonesia sulit maju,'' kata seorang teman. ''Kenapa?'' tanya saya. 
''Sebab, lebih dari 70 persen penduduknya adalah Jawa dan Sunda,'' jawabnya. 
Saya ternganga, sampai ia menjelaskan lebih lanjut.
  Menurutnya, mentalitas orang Jawa dan orang Sunda bukan mentalitas orang yang 
siap maju. Hal itu terlihat dari ungkapan yang banyak dipakai orang-orang dari 
kedua suku ini. Orang-orang Jawa disebutnya sering menyebut kata ''nek'' atau 
''gek'', yang berarti ''kalau'' sebagai sebuah pengandaian tentang sesuatu yang 
mungkin terjadi di masa depan. Orang Jawa sering mengucap ''nek ngono mengko 
piye ...'', ''nek ngene mengko piye ...'' yang berarti ''kalau begitu nanti 
bagaimana...'', ''kalau begini nanti bagaimana....''
  Orang-orang Jawa berpikir begitu panjang. Seluruh kemungkinan di masa depan 
telah dipikirkan dari sekarang. Pada satu sisi, hal tersebut baik. Banyak 
persoalan telah diantisipasi jauh hari menyangkut akibat yang mungkin terjadi. 
Dengan demikian, jika akibat itu benar terjadi, mereka telah siap untuk 
menghadapinya.
  Namun, di sisi lain, banyaknya kemungkinan yang dipikirkan di masa depan 
sering membuat takut melangkah. Ibarat seorang tak punya rumah yang tak kunjung 
punya rumah karena takut memikirkan kemungkinannya di masa depan. Bagaimana 
kalau gentingnya bocor, bagaimana kalau ada pencuri, apalagi kalau rumah itu 
habis terbakar. Begitu banyak kemungkinan yang dipikirkan hingga orang itu tak 
berani melangkah untuk punya rumah.
  Sikap itu tampak dalam kehidupan sehari-hari. Sebagian besar orang Jawa 
pasrah pada keadaan yang dimilikinya. Mereka tidak akan berusaha keras mengejar 
sesuatu karena kalau gagal akan terasa sangat menyakitkan. Mereka tidak siap 
gagal. Akibatnya, pencapaian rata-rata orang Jawa kalah bila dibanding etnis 
lainnya. Misalnya dengan rata-rata pencapaian orang Batak, apalagi dengan 
keturunan Tionghoa. 
  Orang Jawa tak mau berbuat keliru, dan sangat khawatir keliru. Itu membuat 
komunikasi orang Jawa tidak baik. Orang Jawa tidak pandai mengekspresikan 
perasaan sendiri, apalagi kalau harus mengatakan tidak. ''Bagaimana nanti kalau 
orangnya tersinggung.'' Kalimat demikian banyak diucapkan. Orang Jawa menuntut 
orang lain paham bahasa isyarat. Kalau terpaksa harus mengomentari orang lain, 
paling dengan cara menyindir. ''Jadi, bagaimana orang Jawa bisa maju?''
  Sebaliknya, orang Sunda cenderung malas berpikir panjang. Istilah yang banyak 
dikatakan adalah, ''kumaha engke ...'' yang berarti ''bagaimana nanti ....'' 
Jalani dan nikmati hidup seadanya seperti air mengalir yang akan menemukan 
jalannya sendiri tanpa perlu diatur-atur. Ingin sekolah ya sekolah, ingin main 
ya main, ingin kerja ya cari kerja kalau dapat. Kalau tidak dapat ya sudah, 
''can nasib'' atau ''belum nasibnya''. 
  Nanti cari lagi. Ada uang, nikmati saja sepuasnya. Uang habis tidak apa-apa. 
Usaha lagi seperlunya, atau minta bantuan saudara. Tidak berhasil tidak 
apa-apa. ''Can nasib.'' Ingin kawin, ya kawin saja biar pun pekerjaan belum 
mapan, penghasilan juga pas-pasan. Ingin kawin lagi, ya kawin lagi saja. Kan 
boleh dalam agama. Anak banyak, bermunculan saban dua tahun, tidak apa-apa. Tak 
perlu ada kesiapan buat merencanakan masa depannya. ''Kumaha Gusti wae ....'' 
Terserah Tuhan sajalah. ''Jadi, bagaimana orang Sunda bisa maju?''
  Dengan mentalitas begitu, kemiskinan Jawa yang sangat besar tak kunjung 
berkurang. Sedangkan kemiskinan Sunda (serta Banten dan Betawi sebagai 
kerabatnya) terus membesar dengan kecepatan luar biasa. Anehnya, kita 
menganggap fenomena itu fenomena biasa, dan kadang malah menganggapnya sebagai 
sikap pasrah pada Allah SWT sesuai tuntunan agama. Padahal, ''pasrah pada 
nasib'' sangat berbeda dengan ''pasrah pada Allah''. 
  Pasrah pada Allah SWT adalah membuat perencanaan hidup sebaik-baiknya, 
bekerja keras untuk mewujudkan perencanaan itu, serta selalu optimistis 
terhadap hasil yang akan diberikan Tuhan pada kita. Reshuffle kabinet 
boleh-boleh saja. Tapi, bila sungguh-sungguh ingin membuat bangsa ini dan 
bangkit sesuai semangat Hari Kebangkitan Nasional, rombak dulu mentalitas 
bangsa ini secara revolusioner. Untuk itu perlu revolusi mentalitas orang Jawa 
dan Sunda sebagai mayoritas penduduk bangsa ini. 
  ( Zaim Uchrowi 


============================ 
  Suaidi Asyari
   
  Asia Institute
  The University of Melbourne Australia
  Email alt: [EMAIL PROTECTED]
   
   

              
---------------------------------
How would you spend $50,000 to create a more sustainable environment in 
Australia?  Go to Yahoo!7 Answers and share your idea.

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke