ISLAT Antara ISLIB dan ISLIT   
Monday, 23 April 2007  
Oleh: Muhsin Labib 
Di tengah polarisasi dua kelompok dan kecenderungan itu, ada sebuah 
kelompok kritis yang menggabungkan rasionalitas dan teks. Mereka 
bukan jadi-jadian. Kelompok ini memiliki akar sejarah yang berpendar 
dalam filsafat, Kelompok ini muncul sebagai respon atas keberhasilan 
Imam Khomaini menumbangkan rezim monarki 2000 tahun Pahlevi dan 
makin kuat setelah kemunculan Mahmoud Ahmadinejad sebagai David di 
tengah angkara Goliath dunia tak pelak telah melambungkan 
popularitas mazhab Syiah dan diperlakukan sebagai jalan tengah yang 
membelah jalan Islam liberal (Islib) dan Islam literal (Islit). 
Syiah mulai dilirik sebagai Islam alternatif (Islat).

 
Beberapa tahun lalu ia adalah santri di sebuah pesantren tradisional 
di daerah pesisir di Jawa Timur. Dalam bangunan sederhana di tengah 
desa yang tidak terlalu subur itu ia tidur di sebuah bangunan sangat 
sederhana bahkan kurang higienis, menurut standar pola hidup 
moderen. Ia dengan tekun mengikuti pelajaran-pelajaran yang 
diberikan oleh sang guru yang mengajarkan sistem `muratan', yaitu 
studi naskah kitab kuning yang diberi arti dalam bahasa Jawa, mulai 
dari level dasar dalam bidang gramatika, seperti alfiyah, balaghah 
dan fikih. Ia juga sangat kalem, bahkan nyaris `feminin'. Ia betah 
lama menimba ilmu agama berkat prinsip thuluz-zaman dan mengabdikan 
dirinya dalam melayani dan mengormati gurunya, bahkan di luar urusan 
belajar dengan harapan suatu saat akan menjadi kyai terpandang di 
kampungnya. 
Kini keadaan benar-benar berbalik. Setelah mengikuti ujian persamaan 
dan menenteng ijazah SMA berkat modernisasi yang tak terbendung, ia 
seakan mengubur semua masa lalunya yang tradisional. Lebih dari itu, 
setelah berpindah ke ibukota dan menjadi mahasiswa, ia sibuk 
menenteng buku-buku karya pemikir Barat mulai dari Marx sampai 
Horkheimer, menghadiri seminar yang dihadiri oleh para narasumber 
asing, dan aktif dalam kelompok studi yang gemar mendiskusikan 
wacana-wacana modern, seperti pluralisme, lokasime Islam, feminisme 
dan segala pemikiran Islam yang anti-tradisonal dan kritis. Setelah 
menguasai bahasa Inggris dan mampu menulis artikel-artikel yang 
berisikan apresiasi terhadap pemikiran Barat tentang Islam, ia pun 
mendapatkan beasiswa studi di Barat dari lembaga-lembaga donor yang 
sangat berpengaruh. Sepulang dari negeri bule, ia langsung didaulat 
untuk menjadi pengamat politik dan pakar keislaman. Lembaga-lembaga 
mentereng langsung melamarnya. Lembaga-lembaga studi menjadi 
terminalnya. Media-media massa menampung pandangan-pandangannya. Ia 
sudah bisa dianggap `mantan santri'. Ia lebih senang bila masa 
lalunya tidak diingat-ingat. Ia adalah pemegang gelar PhD dari 
sebuah universitas ternama di Amerika yang sudah menghabiskan banyak 
paspor karena menghadiri undangan seminar tentang Islam di Austalia, 
Eropa dan Amerika.

Inilah contoh sebuah generasi Muslim yang jumlahnya sangat banyak. 
Mereka tersebar di sebagian besar perguruan tinggi Islam negeri 
maupun swasta di Indonesia. Sebagian dari mereka mendapatkan 
scholarship di universitas-universitas ternama di Eropa, Amerika dan 
Kanada dan mengambil studi bidang politik berkat rekomendasi 
sejumlah LSM dan lembaga yang sangat concern terhadap isu-isu Islam 
kontemporer. Sebagian melanjutkan ke UIN Syarif Hidayatullah, IAIN 
Jogjakarta dan Surabaya sambil aktif menulis artikel di sejumlah 
suratkabar lokal. Umumnya mereka aktif dalam LSM dan lembaga-lambaga 
yang giat mengadakan workshop dan seminar tentang modernitas, 
pluralisme dan semacamnya. Sebagian besar dari mereka adalah PNS 
yang sibuk mengumpulkan KUM agar karir kedosenannya terus menanjak. 
Kebanyakan mereka adalah anak-anak muda yang cukup cerdas, terbuka, 
komunikatif, apresiatif terhadap pandangan di luar mean stream dan 
ramah, meski tidak terlalu relijius (menurut standar normatif).

Beberapa tahun lalu ia hanyalah anak dalam keluarga yang tidak 
relijius bahkan cenderung `kejawen' di kawasan yang disebut 
mataraman. Ayahnya yang pernah menjadi menjadi simpatisan PKI, meski 
tidak sempat di-pulau buruh-kan, tidak pernah mengajarinya ngaji al-
Quran. Di rumahnya juga tidak ada kaligrafi-kaligrafi ayat al-Quran. 
Shalat dan kegiatan keagamaan tidak pernah menjadi sesuatu yang 
sangat diwajibkan pada masa kanak dan remajanya. Gaya hidupnya jauh 
dari relijiusitas. Ia bahkan sempat pacaran dan tidak jejaka lagi.

Setelah lulus SMA, ia dinyatakan lulus seleksi UMPTN dan menjadi 
mahasiswa fakultas teknik di sebuah perguruan tinggi tekenal di 
sebuah kota besar. Ia mengikuti ospek dan ditatar oleh sekelompok 
mahasiswa senior yang memiliki kemampuan mengubah orientasi 
keagamaan maba (mahasiswa baru) ini. Usai mengikuti opspek, 
ia `dibina' dan terus `digarap' dan dimasukkan dalam kelompok 
mahasiswa Islam yang cenderung tekstual. Sejak saat itu ia mulai 
tahu pentingnya shalat dan menjalani Islam sebagai sistem hidup. 
Kini ia mulai belajar mengaji, bahkan menganggap belajar bahasa Arab 
sebagai sebuah ketataan. Ia mulai merawat jenggot dan melipat bagian 
bawah celana sambil membawa al-Qur'an terjemah yang telah diberi 
tanda-tanda pada halaman-halaman tertentu karena memuat ayat-
ayat `tegas' soal jihad, penegakan `hukum Allah', dan amar makruf 
dan nahi mungkar. Buku-buku favoritnya adalah karya-karya tokoh-
tokoh Islam fundamentalis, seperti Hasan al-Banna danb Sa'id Hawwa, 
juga kitab-klitab fikih `kaku' karya Muhammad bin Abdul-Wahab dan 
Abdul-Aziz bin Baz. Ia cukup cerdas sehingga diberi beasiswa oleh 
negara untuk melanjutkan studi S2 dan S3 di Jerman. Di negeri Hitler 
itu ia tetap bersemangat dengan brotherhoodnya dengan aktif dalam 
jaringan `Islam literal' dan seiring dengan intensitas komitmennya, 
ia pun menjadi tokoh penting dalam hirarki kelompoknya. Sepulang 
dari negeri itu, ia makin fundamentalis dan makin membenci Barat. Ia 
kini menjadi salah satu pakar dalam sebuah departemen dan dosen di 
almamaternya. Pakar metalorgi ini juga aktif dalam penggalangan 
politik yang menuntut dikembalikannya khilafah ala Otoman di 
Indonesia, bahkan seluruh dunia. Ia tidak gemar berwacana atau 
berdiskusi apalagi ngobrol di café.

Inilah contoh dari tipe kedua generasi muda Muslim di Indonesia yang 
jumlahnya makin banyak. Sebagian dari mereka mulai berpikir 
realistis dengan memperjuangkan visi keislamannya dalam sebuah 
organisasi politik formal. Sebagian lain memperjuangkan idealisme 
melalui organisasi non partai yang menuntut pendirian khilafah di 
Tanah Air dan seluruh dunia. Ada pula yang aktif dalam organisasi 
non formal, karena menganggap sistem Negara tidak Islami karena 
tidak menjalakan hukum Allah, dan karenanya pendirian orpol maupun 
ormas sama dengan mengakui sistem yang tidak Islami.

Hadirnya kelompok yang dikenal dengan penganut Islam liberal dan 
semaraknya kelompok Islam literal tidak bisa sepenuhnya dipandang 
sebagai sebuah fenomena khas Indonesia. Tidaklah berlebihan bila 
kedua model itu dikaitkan dengan dengan kepentingan hegemoni Barat 
untuk mengikis militansi di dunia Islam.

Di tengah polarisasi dua kelompok dan kecenderungan itu, ada sebuah 
kelompok kritis yang menggabungkan rasionalitas dan teks. Mereka 
bukan jadi-jadian. Kelompok ini memiliki akar sejarah yang berpendar 
dalam filsafat, Kelompok ini muncul sebagai respon atas keberhasilan 
Imam Khomaini menumbangkan rezim monarki 2000 tahun Pahlevi dan 
makin kuat setelah kemunculan Mahmoud Ahmadinejad sebagai David di 
tengah angkara Goliath dunia tak pelak telah melambungkan 
popularitas mazhab Syiah dan diperlakukan sebagai jalan tengah yang 
membelah jalan Islam liberal (Islib) dan Islam literal (Islit). 
Syiah mulai dilirik sebagai Islam alternatif (Islat).

Seperti dilaporkan Sayed Hosein Nasr, filsafat Islam memiliki 
kehidupan yang lebih panjang di bagian Timur ketimbang di bagian 
Barat dunia Islam. Iran tidak hanya memiliki tanah subur yang 
menyebabkan filsafatnya mampu bertahan hidup sampai sekarang, tetapi 
juga secara definitif menjadi arena utama aktivitas dalam filsafat 
Islam. Sekurang-kurangnya, ada dua faktor pendukung berkembangnya 
pemikiran filsafat di Iran. Pertama, faktor kultural-historis. 
Kedua, tradisi keagamaan Syi'ah.

Dalam sejarahnya, Iran dikenal sebagai ladang tempat lahirnya 
filosof, sufi, saintis, dan penyair terkenal. Iran dapat dipandang 
sebagai tempat yang merepresentasikan kontinuitas perkembangan 
pemikiran keagamaan, khususnya filsafat selama fase akhir sejarah 
Islam. Karena itu tidaklah salah bila bertahannya filsafat di Iran 
dikaitkan dengan latarbelakang kultural yang lekat dengan 
rasionalitas dan mistisisme Zoroastranisme. Bahkan sebagain gagasan 
filsafat Mulla Shadra diduga terpengaruhi oleh para filosof era 
Pahlavi kuno.

Satu kenyataan penting sekaitan dengan perjalanan filsafat dalam 
sejarah Islam adalah turut andilnya masalah kemazhaban tradisional 
Islam dalam proses perkembangan pemikiran filsafat. Tanpa perlu 
menunjuk siapa filosof bermazhab Islam apa, yang jelas, Iran adalah 
salah satu situs peradaban yang besar (ed.), Routledge's 
Encyclopedia of Islamic Philosophy, (rearranged into Islamic version 
by Dr. Mulyadhi Kartanegara), Routledge, London and New York; 1998. 
hal.10).

Menurut sejarah, penyerbuan Mongol telah menghancurkan dinasti 
Abbasiah dan membasmi komunitas Muslim di Spanyol. Bersamaan dengan 
itu, umat Islam pun tenggelam dalam tidur panjangnya. Abad keenam 
Masehi merupakan awal kebangkrutan umat Islam sunni. Abad ketujuh 
justru menjadi awal tumbuhnya imperium Islam di belahan Timur dan 
dunia Syi'ah.

Pada tahun 1499, berdirilah kerajaan Safawi yang bertahan sampai 
sekitar dua ratus tahun. Pada periode Safawi inilah berkembang 
berbagai aliran pemikiran dalam matrik mazhab Syi'ah. Salah satu 
pemikiran yang berkembang pesat adalah filsafat. Filsafat tetap 
diajarkan, bahkan menjadi sebuah tradisi yang hidup sepanjang zaman 
di sekolah-sekolah Syi'ah yang didirikan dinasti Safawi. Pada 
periode Safawi, tepatnya pada abad XIII sampai XVII, filsafat di 
Iran mencapai puncaknya. Dari hawzah-hawzah itulah, para tokoh 
filsafat Iran bermunculan. Bahkan, Iran menjadi pusat utama ilmu-
ilmu intelektual, khususnya filsafat, bagi dunia Islam yang 
didatangi umat Islam dari seluruh penjuru dunia.

Perkembangan pemikiran pada zaman dinasti Safawi mempunyai 
karakteristik khas sebagai mazhab Isfahan. Mazhab ini menampung 
perkembangan pemikiran mazhab masya'i, isyraqi, `irfani, dan kalam.

Pada awal awal abad XIX sebelum periode Qajar, filsafat Molla Sadra 
dibangkitkan kembali secara penuh di Isfahan oleh Mulla Ismail 
Khajui dan Mulla Ali Nuri. Molla Ali Nuri terkenal sebagai 
komentator al-Asfar al-Arba'ah karya Molla Sadra, sekaligus 
mengajarkannya pada generasi setelahnya.

Selama periode Qajar, Tehran secara bertahap meningkat menjadi pusat 
studi filsafat Islam yang menghasilkan sejumlah guru besar terkenal 
di akhir periode Qajar dan Pahlewi, seperti Mirza Mahdi Asytiyani, 
Sayyed Muhammad Kazim `Assar, Abu al-Hasan Jalweh, dan Tonekaboni.

Selama periode ini, atmosfir hawzah Irak (Najaf dan Karbala), yang 
semula merupakan pusat pendidikan Syi'ah di seluruh dunia, demikain 
pula hawzah di Iran (Qom dan Masyhad), kurang mendukung kemajuan 
pemikiran filsafat, karena kecenderungan pada ilmu-ilmu tekstual, 
seperti fiqh, yang masih sangat determinan. Bahkan tidak sedikit 
ulama dan marja' (otoritas hukum) menunjukkan sikap negatif terhadap 
pengajaran filsafat. Namun keadaan perlahan-lahan berubah ketika 
muncul halaqah-halaqah pelajar filsafat, irfan, dan ilmu-ilmu 
rasional yang diasuh beberapa ulama yang dinilai sukses dalam ilmu-
ilmu tekstual bahkan bergelar mujtahid.

Molla Husain-Qali yang mengadopsi metode itu mendidik murid-muridnya 
dengan filsafat Molla Sadra dan sayr suluk spiritual. Walaupun Mirza 
Hasan putra Akhund Molla Muhammad Ismail Wahidul-Ain Isfahani juga 
tinggal di Karbala untuk beberapa waktu, namun mayoritas pelajar 
filsafat di sana menimba ilmu dari Molla Husainquli Hamadani. 
Tepatnya, Molla Sabzewari memindahkan filsafat dari Sabzawar ke 
Najaf. Di antara murid tersohor Molla Husain-Quli Hamadani adalah: 
Sayyed Jamaluddin Asad-Abadi al-Afghani, Sayyed Abdul-Husain Lari, 
Sayyed Ahmad Karbala'i, Sayyed Sa'id al-Habubi, Agha Muhammad Baqir 
Istahbanati, Mehdi Ilahi Qomsyeh'i, dan Mirza Jalweh (seorang tokoh 
filsafat Iran yang hijrah ke Najaf guna menyempurnakan 
pengetahuannya tentang ilmu naqli).

Di Najaf, Mirza Jalweh memperkenalkan filsafat ketuhanan pada murid-
muridnya, seperti Ayatullah Syaikh Muhammad Husain Gharawi Isfahani 
dan Syaikh Muhammad Ridha Yazdi. Agha Muhammad Baqir Isthahbanati 
terbunuh pada masa Masyrutiyyat pada tahun 1326 H, di Istahbanat.

Kepindahan Agha Sayyed Muhammad Husain Badkubey ke Najaf juga 
merupakan faktor lain tersebarnya filsafat di sana. Ia adalah murid 
Mirza Jalweh, Hakim Esykewari, dan Hakim Kermansyahi, yang 
mengembangkan filsafat di Najaf. Ia mengabadikan namanya dengan 
mendidik filosof ketuhanan besar seperti Allamah Sayyed Muhammad 
Husain Thabathaba'i. Syaikh Murtadha Taleqani, seorang filosof 
ketuhanan di Najaf yang hidup sezaman dengan Agha Muhammad Husain 
Badkubey, telah mendidik dan membawa guru besar Allamah Muhammad 
Taqi Ja'fari kepada dunia pemikiran.

Setelah Perang Dunia II, Iran tetap merupakan tempat subur bagi 
berkembangnya pemikiran filsafat Islam. Berawal pada tahun 1950-an 
(pasca Perang Dunia II), terjadi suatu ketertarikan kembali dalam 
filsafat Islam di Iran. Ini merupakan suatu kebangkitan kembali 
tradisi filsafat Islam yang belakangan mampu menjawab tantangan 
pemikiran Barat. Abul-Hasan Rafi'i Qazwini dam Qadhi Said Qummi 
adalah dua tokoh yang menjadi pelopor pengembangan filsafat pada 
masa itu.

Apresiasi modern terhadap al-Hikmah al-Muta'aliyah berkembang di 
kalangan akademisi, atau setidaknya kalangan yang tumbuh dalam 
pendidikan atau khasanah pemikiran modern. Para figur yang paling 
menonjol di kalangan ini adalah Henry Corbin, Sayyed Hossein Nasr, 
dan Mehdi Ha'ri Yazdi. Sementara apresiasi tradisional lebih 
bertahan di kalangan pesantren atau hawzah ilmiah, khususnya 
kalangan yang mengenyam pendidikan tradisional keagamaan di Qom.

Allamah Thabathabai dan Imam Khomeni disebut-sebut sebagai `yang 
paling bertanggungjawab' menghidupkan filsafat di hawzah ilmiah Qom, 
yang sebelumnya didominasi oleh para ulama fikih'. Kedua tokoh ini 
telah mencetak puluhan bahkan ratusan ulama pemikir yang kelak 
memberikan kontribusi besar dalam memperkenalkan Syiah sebagai 
mazhab yang mampu mengharmoniskan bayan, burhan dan irfan. 
Muthahhari melalui karya-karyanya yang sangat luas telah menggoncang 
blantika pemikiran Islam terutama di dunia Islam yang sebelumnya 
hanya silau dengan pemikir-pemikir Sunni, seperti Sayed Quthb dan al-
Maududi.

Kejutan masih berlanjut. Ternyata di hawzah Qom, telah terjadi 
pengayaan wacana Islam kontemporer melalui para ulama para murid 
Khomeini dan Thabathabai. Sejumlah nama bisa dicantumkan antara 
lain, Abdullah Jawadi Amuli, Hasan Zadeh Amuli, Muhammad Sadegi, 
Ja'far Subhani, Ali Gerami, Yahya Anshari Syirazi, dan yang paling 
gres adalah Muhammad Taqi Mishbah Yazdi. Mereka adalah para cohen 
dan penguasa stoa-stoa pemikiran di Qom.

Kini dengan tampilnya Iran sebagai kekuatan baru di dunia, terutama 
di Dunia Islam dan sambutan monumental rakyat Indonesia terhadap 
kedatangan Ahamdinejad ke Indonesia, hipotes ini semakin kuat. 
Kegigihan gerombolan wahabi dan tekstualis belakangan ini dalam 
memprovokasi pemerintah dan masyarakat Indonesia untuk mencurigai 
Syiah, sebagaimana dilakukan oleh majalah Sabili, makin memperbesar 
indikasi kekhawatiran makin meluasnya pengaruh pemikiran Syiah. 
Siapapun, terutama yang anti Syiah, akan bingung mendengar bahwa NU, 
Muhammadiyah dan Pemerintah menjadi tuan rumah Konferensi Pesratuan 
Sunni dan Syiah.

Diminatinya wacana Syiah dalam sentra-sentra pemikiran di Indonesia 
ini sungguh menggembirakan, setidaknya sebagai langkah awal umat 
Islam untuk memahami bahwa agamanya memiliki warisan kekayaan yang 
berlimpah; sistem filsafat, teologi, politik, ekonomi, budaya, 
sistem pemerintahan, yang semuanya terangkum dalam bangunan megah 
yang sudah terukir berabad-abad.

Mungkin produk-produk gagasan para pemikir Syiah dapat dijadikan 
sebagai jalan tengah demi menciptakan sebuah formulasi pemikiran 
Islam yang sesuai dengan heterogenitas bangsa Indonesia.

Karenanya, kehadiran dan kiprah para alumnus hawzah Qom, terutama 
dari Indonesia, dalam arena pemikiran Islam dewasa ini sangat 
diharapkan guna mengisi ruang tengah yang kosong 
dengan `Islamalternatif' antara Islam liberal yang genit, funky 
dan `madani' (civil) dan Islam literal yang angker dan `medeni' 
(bahasa Jawa : menyeramkan)!

Tentu, tantangan dan hambatan akan terus menghadang. Namun dinamika 
waktu dan makin terbukanya akses informasi akan dapat mengatasinya. 
Bangsa Indonesia kini makin matang dan jenuh dengan penjejalan yang 
dilakukan oleh kelompok-kelompok truth claim yang berusaha 
memasangkan kacamata kuda pada generasi muda yang kritis dan makin 
cerdas.

Penulis: Alumnus Hauzah Ilmiah Qom, Republik Islam Iran. Kandidat 
Doktor Filsafat Islam di IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Saat ini 
aktif sebagai dosen ICAS-Paramadina Jakarta, Menejer Penerbit AL-
HUDA, Direktur Penerbit CITRA, Anggota Dewan Redaksi majalah 
dwimingguan ADIL



Kirim email ke