Salam,

Wah saya kok jadi mumet berpikir tentang apa maksud taswiyatul manhaj
itu, kemudian madzhab apa yang akan dipakai dan kemudian lagi akan
seperti apa bentuknya?

Akhir-akhir ini beredar tentang adanya upaya kualifikasi dan
standarisasi transaksi bank syariat. Tapi ya pada finalnya tansaksi
syariat seperti apapun hanya berhenti menjadi alternatif belaka, ia
belum menyelesaikan masalah ekonomi baik makro maupun mikro. Padahal
konon, munculnya ekonomi Islam adalah sebagai antitesa kapitalisme dan
sosialisme yang gagal.

Anehnya, seperti hal ini mucul dalam diskusi dengan An Naim di Jogja,
salah satu penanggap menyatakan syariat ini kalah sama pegadain.
Karena pegadaian menyelesaikan masalah tanpa masalah sedangkan syariat
menyelesaikan masalah dengan masalah...;)

Bukan berarti saya anti syariat Islam loh, hanya saja syariat bagi
saya adalah pemecah masalah bukan hanya untuk gagah-gagahan saja atas
nama syariat..:)


salam mumet,


--- In [email protected], "rifa NU Online" <[EMAIL PROTECTED]>
wrote:
>
> Jakarta, *NU Online*
> Meski Nahdlatul Ulama (NU) membuka ruang perbedaan madzab fikih, namun
> fatwa-fatwa keagamaan yang menyangkut persoalan ekonomi harus
berdasar pada
> satu mazbab saja karena sudah menyangkut persoalan global.
> 
> Demikian disampaikan Rais Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama
(PBNU) KH
> Ma'ruf Amin dalam acara silaturrahmi pengurus NU dari jajaran Mustasyar,
> Syuriah dan Tanfidziyah di kantor PBNU, Selasa (31/7).
> 
> "Pada waktu pertemuan di Kuala Lumpur saya sudah menyampaikan usulan
adanya
> *tashwiyatul manhaj *atau satu penyamaan metode di dalam membuat fatwa
> tentang ekonomi, karena ekonomi ini global sifatnya. Ada satu produk
> misalnya di Indonesia dikatakan haram, padahal di Malaysia atau di
Bahrain,
> atau Inggris dikatakan halal. Ini bagaimana?" kata kiai Ma'ruf Amin.
> 
> Pada persoalan ibadah umat Islam bisa berbeda-beda madzab, entah
mengikuti
> Imam Hanafi, Maliki, Syafi'i, atau Hambali. "Dalam masalah ibadah kita
> menggunakan madzab kita masing-masing lah! Tapi dalam soal ekonomi
perlu ada
> taswiyatul madzab. Saya sudah menyampaikan ini di hadapan ulama dari
> ArabSaudi, Bahrain dan lainnya, mereka mengatakan ini *muhimmah jiddan*,
> penting sekali," katanya optimis.
> 
> Pernyataan Kiai Ma'ruf Amin mengenai pentingnya kesatuan madzab dalam
> masalah ekonomi itu menyusul penyampaian Wakil Rais 'Aam Syuriah PBNU KH
> Tholhah Hasan tentang perlunya para kiai mempersiapkan bakal terjadinya
> pluralisme madzab fikih di lingkungan NU. Menurut Kiai Tholhah,
diperkirakan
> 10 tahun ke depan, pluralisme madzab itu akan benar-benar terjadi.
> 
> "Anak-anak kita sekarang yang sudah belajar di Maroko, Aljazair, Libia,
> Turki dan sebagainya Mereka sudah membaca kitab-kitab semua imam madzab
> sekaligus, jadi tidak hanya Syafi'i. Sekarang ini saja di Indonesia
> kitab-kitab madzab selain Syafi'i sudah banyak," kata kiai Thalchah
> 
> Diperkirakan, para ulama NU ke depan akan lebih menghargai "reputasi
> keilmuan" daripada "reputasi kemazdhaban". Para ulama NU ke depan akan
> memilih pendapat dari madzabmanapun yang paling kuat argumentasi
ilmiahnya.
> 
> "NU memang membolehkan perbedaan madzab. Tapi kita belum membuat
satu aturan
> tentang itu. Mungkin saja nanti ada kiai di jajaran Syuriah yang
bermazhab
> Maliki atau lainnya. Kalau tidak kita persiapakan saya kuatir kita nanti
> benturan sendiri gara-gara itu," kata kiai Tholhah.(nam)
> 
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]
>


Kirim email ke