Jakarta, *NU Online
*Langkah maju dilakukan Nahdlatul Ulama (NU). Organisasi kemasyarakatan
Islam terbesar di Indonesia itu mengumpulkan para jagoan Teknologi Informasi
(TI) yang berlatar belakang *Nahdliyin *(sebutan untuk warga NU)
se-Indonesia dalam sebuah lokakarya yang bakal digelar di Hotel Sofyan
Betawi, Jakarta, 8-9 Agustus mendatang.

Acara bertajuk "Membangun Habitus TI di Komunitas Nahdliyin" yang
diselenggarakan *NU Online *tersebut menghadirkan 50 peserta yang merupakan
pakar dan peminat TI di lingkungan Nahdliyin. Para peserta itu juga
merupakan perwakilan dari Pengurus Wilayah NU se-Indonesia.

Sejumlah pakar dan praktisi TI dipastikan hadir menjadi narasumber pada
acara itu, antara lain, Menteri Riset dan Tekonologi Kusmayanto Kadiman,
Kepala Laboratorium Cyber Crime Polri Kombes Pol Petrus Goloose, Wakil
Kepala Badan Intelijen Negara As'ad Said Ali, Kepala Humas Departeman
Pendidikan Nasional Bambang Warsito Adi, Redaktur Senior Harian Kompas Ninok
Leksono dan Presiden Direktur International Bussines Management Betti
Alisjahbana.

Pemimpin Redaksi *NU Online* Abdul Mun'im DZ mengatakan, penyelenggaraan
lokakarya tersebut merupakan upaya untuk mempertemukan kader-kader potensial
yang dimiliki NU di bidang TI. Dari pertemuan tersebut, diharapkan dapat
tercipta ruang komunikasi, tukar-menukar gagasan dan pengalaman serta dapat
merumuskan kerja sama yang lebih konkret di antara para peserta.

"Dengan demikian, kekuatan NU di bidang TI yang masih berserakan itu bisa
diintegrasikan dalam satu kerja sama. Kiprah para peminat dan ahli TI itu
sangat dibutuhkan, tidak hanya dalam pengembangan teknologi dan akses
terhadap informasi, tetapi juga soal yang lebih eksistensial, yakni masih
banyaknya warga NU yang terbelakang secara ekonomi maupun pendidikan,"
terangnya.

Ia menjelaskan, saat ini cukup banyak kader-kader NU yang menguasasi TI,
baik melalui pendidikan formal dan profesional, maupun mereka yang menekuni
sendiri secara otodidak. "Pengambilan sarana TI bagi pengembangan NU ini
bukan suatu yang tabu, sebab juga berdasar prinsip *al akhdzu bil jadidil
ashlah *(mengambil hal baru yang lebih baik) bagi warga NU," jelas Mun'im.

Sementara itu, Suwadi D Pranoto, Ketua Panitia Pelaksana kegiatan tersebut,
mengemukakan, peran para peminat dan ahli TI di kalangan Nahdliyin sangat
dibutuhkan. Karena setiap perkembangan teknologi, juga pasti akan diikuti
dampak baik dan dampak buruk.

"Peran para ahli TI ini adalah memaksimalkan penggunaan TI untuk
pengembangan ilmu pengetahuan dan dakwah Islam, terutama dakwah Ahlussunnah
Wal Jamaah. Selain itu untuk menyelamatkan warga dari dampak buruk TI, baik
secara mental maupun fisik," ujar Suwadi.

Di era perang global ini, lanjutnya, tidak menutup kemungkinan TI dijadikan
senjata untuk penetrasi budaya, bahkan politik. NU, katanya, tidak hanya
bertugas mengembangkan ilmu pengetahuan, tetapi juga mempunyai tugas dakwah
*wat taujih*, yakni mengajak dan membimbing umat ke arah yang benar.k


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke